"Aduh, Cia. Lo kenapa 'sih jadi pingsan terus." Jessie berkata cemas sambil mondar-mandir di depan ruangan UGD. Jessie tidak menyangka juga ia selalu bertemu Cia di saat keadaannya seperti ini. Tapi di lain sisi ia bersyukur, di saat Cia butuh pertolongan, dirinya ada. Namun Jessie juga berharap, jangan terulang kembali kejadian seperti ini. Ia benar-benar tidak tega melihat gadis manis itu terbaring lemah di atas brankar. "Jes!" Jessie menoleh, ia mendapati Revan dan Mila berlari ke arahnya dengan wajah panik. "Gimana Cia, Jes?" tanya Mila lebih dulu. Jessie menggeleng, "Belum tau. Dokternya belum keluar." Revan mengusap wajahnya gusar, ia tidak mengharapkan ini. Ia mengharapkan dirinya bertemu dengan Cia dengan keadaan ceria seperti perangai gadis itu biasanya, dan kalung yang

