Revan duduk di samping brankar. Menatapi seorang gadis yang tengah terbaring lemah dengan rona merah yang tak lagi ada di kedua pipinya. Hanya menampilkan warna putih pucat setiap inci wajahnya. Entah dorongan dari mana, Revan mengangkat tangannya dan mengelus pipi mulus Cia. Ia menghela napas. "Seberapa berat sih beban lo sampe lo bisa depresi kayak gini?" ucap Revan. "Gue nggak nyangka, cewek se-periang lo ternyata punya masalah hidup yang berat. Tanpa orang lain tau." Kini tangan Revan sudah beralih menggenggam tangan Cia yang hangat. Ia semakin menggenggam erat tangan Cia dan menatap wajah gadis itu. "Bangun. Cepat sembuh." Ceklek Revan menoleh ke arah pintu yang terbuka. Menampilkan seorang gadis yang masih memakai baju seragam sekolah melangkah memasuki ruangan. "Gimana C

