Cia menimang-niman ponselnya. Sesekali ia menggigit jarinya. Bingung ingin melakukan atau justru tidak. Karena ini adalah keputusan besar. Jika ia sudah berani mengirimkan dengan alasan lain, ia harus siap untuk melanjutkan sampai akhir. Namun, ia belum siap dengan konsekuensi-nya. Ia tahu, ini tidak benar. Ia tidak mungkin menikung kakak tirinya sendiri. Tapi, ia juga tidak perlu untuk bersikap mengalah terus-menerus. Ingat, Cia ingin belajar egois. Cia menggulingkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan bantal di atas wajahnya. Ia sungguh tidak tahu memulai dari mana. Sebenarnya, ini terlalu memalukan untuk ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur menyukai kakak seniornya itu. Sekali lagi ingat, Cia tidak akan pernah mumbazir-kan perasaan. Ketukan pintu membuat Cia s

