Usia Allynna masih 22 tahun, dia belum pernah menjalani romansa yang bagus apalagi menggairahkan, meskipun sudah pernah dekat dengan beberapa laki-laki di sekolah dan kampusnya dulu. Meskipun semuanya tidak berjalan aman berkat Belinda yang selalu mengganggunya.
“Allynna, kau suka makan es krim tidak?”
“Suka.” Jawab Allynna sangat singkat dan fokusnya kembali untuk menyelesaikan makan siangnya.
“Bagus.” Austin menanggapi. “Bersiap-siaplah, sekitar jam tiga aku akan mengajak ke tempat yang bagus. Aku mau tidur lagi.” Austin meninggalkan Allynna sendirian.
Selang sebentar, beberapa pelayan datang membereskan meja makan dan Allynna kembali ke kamarnya untuk mencari pakaian. Karena dia masih memiliki waktu tiga jam lagi, ia memilih mengerjakan lukisannya. Nanti mendekati jam tiga ia baru akan memakai pakaian pilihan yang sudah disiapkan.
Allynna terlena dengan kuas dan cat warna-warni. Tangan kirinya pegal sehingga kali ini Allynna melukis dengan tangan kanannya. Sangat enak ketika dapat menggunakan tangan yang mana saja untuk melukis. Akan sangat bagus sekali jika Allynna mampu melukis satu lukisan besar dalam satu hari. Targetnya adalah dua lukisan perhari, tapi ternyata dengan media yang lebih lebar, ia memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan warna-warna.
Baru setengah jam bekerja, ponselnya berdering. Allynna melihat id yang memanggilnya. Nama Cilla terbaca dan Allynna meletakkan kuas dan paletnya ke meja yang sudah dilapisi oleh kertas-kertas agar tidak ternoda. Allynna segera mengangkatnya.
“Allynna.” Suara merdu langsung menyapa Allynna yang baru saja mengangkat panggilan itu. Cilla memang selalu ceria.
“Hai, apa kabar?”
“Aku minta maaf sekali baru bisa menghubungi sekarang. Aku sangat sibuk.” Cilla terdengar sangat merasa bersalah kepada Allynna karena tidak bisa membantu sahabatnya itu.
“Tidak apa-apa, aku mengerti. Sebulan ini bagaimana fashion show mu?”
“Berjalan baik dan sangat menyenangkan. Aku akan kembali beberapa bulan lagi dan berkarier di tempat kelahiranku.” Cilla tampak senang sekali.
“Kau akan kembali? Apa yang terjadi?”
“Tidak ada. Kau harusnya merasa senang, Allynna.”
“Senang dalam hal apa?” Allynna bertanya. “Bukannya mimpimu adalah menjelajahi dunia dengan memperagakan banyak merk-merk terkenal?”
“Ada sebuah agensi besar yang mengontrakku untuk menjadi modelnya. Itu terdengar sangat luar biasa. Apa kau tidak senang? Kau tahu? Bayarannya lumayan. Kita bisa bermain bersama lagi seperti dulu.”
“Oke, aku akan menunggunya. Sudah lama sekali kita tidak bersama. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan denganmu. Mengobrol langsung dengan mengobrol lewat aplikasi sangatlah berbeda. Di ponsel itu tidak nyaman dan tidak enak.” Allynna mengeluh.
“Iya. Kau benar dalam hal ini. Aku pun merasakannya.”
“Apa nama agensi barumu? Aku penasaran.”
“Masa kau tidak tahu agensi yang baru-baru ini banyak merekrut orang-orang pilihan?”
“Kau pikir aku berasal dari dunia seperti dirimu? Ketika kau memakai gaun aku masih memakai piyama asal kau tahu.” Allynna mencibir.
“Oke, nama agensi baruku Atlantis Entertainment.”
“Aku baru mendengarnya.” Allynna mengatakan apa yang dipikirkannya.
“Kau begitu terasing dari dunia nyata. Aku malah berpikir kalau kau makhluk yang tidak nyata di dunia ini. Sejenis peri. Hahaha ….” Tawa Cilla terdengar mantap sekali ketika mengejek Allynna.
Sahabat sejati adalah orang yang akan mencacimu tapi tidak membuatmu tersinggung. Meskipun Cilla suka mengejek, hanya Cilla yang Allynna miliki ketika satu per satu temannya pergi meninggalkannya.
“Sialan.” Allynna tersenyum miring.
“Setelah Atlantis diambil alih semuanya berubah. Meskipun masih baru tapi reputasinya sangat baik. Hal itu yang membuatku terbujuk. Paling tidak ada agensi di negaraku yang bagus dan mampu membayarku dengan angka yang bagus juga. Kalau bisa mengharumkan nama negara sendiri dengan masuk ke Atlantis mengapa tidak kulakukan?”
“Di negara ini juga banyak agensi yang didirikan.” Sanggah Allynna, karena Cilla begitu melebih-lebihkan Atlantis. “Apa mereka tidak bagus dalam hal pembayaran?”
“Aku mencari yang bisa melindungiku juga, tidak sebatas tentang sumber daya. Mereka menawari kontrak yang menarik. Menariknya seperti apa itu sangat rahasia. Kau pelukis, dunia kita berbeda.”
“Ya, aku paham.” Allynna mengangguk.
“Ketika aku kembali, kau harus pergi dari sana, tinggallah bersamaku, Allynna.” Cilla meminta dengan tulus. Cilla tahu kalau Allynna baru saja diusir dari rumahnya karena ulah ibu tiri dan saudarinya.
“Aku akan menunggunya. Aku memang sedang butuh tempat tinggal.” Allynna memang butuh bantuan untuk membuatnya lepas dari Austin. Ia tidak enak selalu merepotkan pria asing itu. Lebih baik ia meminta bantuan Cilla yang jelas-jelas adalah teman baiknya sejak lama.
“Untuk tempat tinggal aku sedang mencari-cari lewat online. Apa kau bisa membantuku? Yang terpenting letaknya dekat dengan tempat-tempat ramai. Cari saja alamat Atlantis, asal jaraknya ke tempat kerja tidak terlalu jauh aku akan menyutujuinya. Asal tidak terlalu mahal. Aku masih model terkenal dengan penghasilan minim. Biaya perawatanku sangat tinggi sehingga aku masih miskin hingga sekarang.”
“Terlalu merendah, kau pikir aku percaya?”
“Hahaha ….” Cilla tertawa.
“Aku belum menceritakan jika aku mendapatkan pekerjaan untuk melukis banyak lukisan. Ada puluhan yang harus segera kukerjakan. Aku berharap bayarannya lumayan.”
“Itu berita yang sangat bagus. Aku ikut senang mendengarnya. Kau bekerja di mana, Allynna?”
“Ada. Kau akan mengetahuinya nanti ketika kau ada di depanku.” Allynna menutupi sebuah informasi kepada temannya itu.
“Aku benci rahasia.” Cilla mengeluh. “Aku tidak bisa mengobrol terlalu lama. Ingat bantu aku mencari tempat tinggal. Aku serius dengan masalah ini. Jangan sampai ketika aku kembali tapi aku tidak tahu harus tinggal dimana.”
“Aku merekomendasikan Curtis Hotel.” Allynna asal bicara, jujur Allynna belum tahu tempat mana yang akan ia carikan untuk Cilla.
“Aku terlalu miskin untuk tinggal di sana, Allynna. Sangat mahal di sana.”
“Memang.” Allynna jadi teringat dengan Austin yang bekerja di sana.
“Jaga dirimu. Nanti kusambung lagi, lewat email.”
“Oke.”
Sambungan terputus dan Allynna kembali melihat ke arah meja dimana kuas dan paletnya berada. Ada beberapa botol cat warna yang tertutup. Allynna meraih kedua benda itu dan mulai asyik mengerjakan lukisannya. Ia berharap ketika Austin bangun lukisannya sudah jadi, sehingga nanti malam ia bisa melanjutkan lukisan yang lain setelah melihat detail warna ruangan yang diberikan oleh Ando.
Cilla seusia dengan Allynna. Hanya saja Cilla sudah menjadi model sejak lulus sekolah menengah. Impian Cilla adalah menjadi model terkenal yang memperagakan produk-produk mewah di atas catwalk. Usaha Cilla tidak sia-sia karena sudah banyak undangan dari desainer ternama. Cilla sangat bahagia ketika bisa menjelajahi dunia dengan bakatnya melenggak-lenggokan tubuh di depan umum. Cilla senang dengan kegiatannya di atas panggung internasional.
Tidak seperti Allynna yang lebih suka mencampur warna dan mencoret-coret canvas. Meskipun Cilla kerap membujuknya untuk mengikuti jejaknya Allynna masih tidak terpengaruh. Cilla selalu mengatakan kalau dirinya cukup mampu untuk menjadi model karena tubuh dan wajahnya mendukung, tetap saja ia masih tidak ingin melakukannya.