Melukis adalah kegemarannya. Rasanya hampa jika tidak melukis atau menggambar. Meskipun banyak orang yang menganggap kalau pekerjaannya tidak penting, hanya dengan melukis ia seperti merasakan kehadiran ibunya. Mendiang ibunya suka melukis, Allynna hanya ingin lebih dekat merasakan kehadiran ibu yang sangat ia rindukan. Sampai kapanpun Allynna akan merindukan satu-satunya keluarga yang sangat menyayanginya. Andai waktu bisa diputar kembali. Sayangnya, masa kini sangat jauh berbeda dengan masa sekarang.
***
Allynna mengenakan jeans dan kaos sederhana. Rambutnya diikat ke belakang memperlihatkan lehernya yang indah. Austin sudah berdiri di dekat mobilnya. Seperti biasa, orang kaya memiliki kegilaannya sendiri dalam membelanjakan uangnya. Allynna tidak tahu ada berapa banyak mobil milik Austin. Mobil sport warna hitam di depannya terlihat sangat cantik dan mahal. Austin dengan rambutnya yang masih basah terlihat memukau dan tersenyum kepadanya. Pria satu itu memang memiliki pesona yang berbahaya untuk ketenangan jiwa Allynna.
Setelah berkendara kurang lebih setengah jam, mereka sampai di salah satu kedai es krim yang begitu sederhana yang terletak di pinggiran kota. Meskipun terpencil tapi cukup ramai dengan pengunjung. Mobil-mobil berderet di parkiran yang berupa tanah lapang. Kedai itu bahkan terlihat sangat hangat dengan dinding kayu yang terawat dengan sangat baik. Mereka memasuki kedai dan menemukan meja-meja yang sudah penuh, tapi mereka diantar ke sebuah tempat di lantai dua dan ada beberapa meja yang masih kosong.
Allynna mengamati dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Austin. Mereka duduk di sudut ruangan dengan kaca-kaca kecil sebagai jendelanya. Jangan lupakan ada bunga-bunga kecil di luar jendela yang dipajang dan diatur dengan begitu rapi dan juga indah. Hari belum terlalu sore, dan sinar matahari berada di sisi yang lain. Tidak membuat mereka duduk dengan tidak nyaman.
“Bagaimana tempat ini?” Setelah memesan hidangan berupa es krim dan cemilan Austin menanyakan pendapatnya tentang tempat barunya itu kepada Allynna.
“Bagus. Aku tidak menyangka akan ada tempat semanis ini di pinggiran kota. Pemandangannya juga bagus.” Allynna melirik ke arah kaca dan langsung bisa melihat danau yang cukup besar berada di sana. “Akan sangat bagus jika ada tempat peristirahatan di tempat seperti ini. Menyegarkan sekali.” Allynna mengemukakan pendapatnya. Kali ini Austin setuju.
“Aku menemukannya tiga tahun yang lalu. Awalnya ini hanya sebuah tempat yang tidak terurus.” Austin bercerita.
Austin membeli tempat itu dari seorang tuan tanah dengan harga yang sangat murah, karena memang tempat seperti itu tidak akan dilirik oleh orang-orang. Pohon-pohon liar tumbuh subur dan sisanya berupa tanah dengan semak belukar yang tinggi. Jalan raya di depannya cukup sepi, tapi selalu ada yang melintas untuk berkunjung ke kota lain. Tempat itu sangat terlantar hingga Austin merubahnya menjadi kedai biasa sekadar untuk mencoba peruntungan. Pelan-pelan, Austin membuat danau di sekitar hutan terlantar dan membuat jalan setapak yang nyaman di tengah hutan dengan bunga-bunga warna-warni sebagai pemanisnya.
Benar kata Allynna tempatnya itu sangat cocok dijadikan tempat peristirahatan. Baru ada kedai sederhana itu yang kini mulai dilirik oleh orang-orang yang melintas untuk melepas lelah. Kedai dua lantai itu memang terlihat sederhana tapi pembangunannya tidak sesederhana itu. Austin mendatangkan orang-orang yang cakap untuk merubah tempat itu menjadi tempat yang asri dan ramah, meskipun ada unsur modern di dalamnya. Menu-menu yang disajikan rata-rata berupa variasi makanan penutup yang manis dan beberapa makanan berat jika ada yang kebetulan ingin makan besar di sana. Tidak hanya mampir untuk sekadar membeli cemilan dan beristirahat.
“Aku baru menemukan tempat yang seperti ini. Bahkan ponselku langsung terhubung dengan wifi.” Allynna tersenyum.
“Meskipun tidak seramai di kota, tapi tidak seharusnya tempat ini jauh dari peradaban.” Austin menjelaskan dengan sangat tenang.
“Apa nama tempat ini?” Allynna tidak menemukan nama yang terpasang di depan kedai.
“Tidak tahu.” Austin memang belum memiliki nama untuk tempatnya yang luasnya berhektar-hektar itu. Masih dalam proses perencanaan, karena tempat itu hanya sebuah kebetulan bagi Austin.
“Akan sangat sulit jika aku ingin ke sini lagi. Tapi, tempat ini ramai sekali. Mungkin sebentar lagi lantai ini akan penuh.”
“Mungkin.”
Pelayan datang dan menyajikan dua mangkuk dengan es krim warna-warni di atasnya. Jangan lupakan aneka topping yang mempercantik. Ada kue-kue kecil yang terlihat lucu yang jumlahnya kurang dari dua puluh buah. Buah potong juga dihidangkan bersama dengan dua gelas air mineral sebagai pelengkap.
“Wow, terlihat enak sekali.” Allynna sudah membayangkan betapa manisnya ketika benda-benda di depannya masuk ke dalam mulutnya.
“Cepat dimakan! Keburu meleleh.” Austin mengambil sendoknya dan mencicipi resep dari kokinya itu. Memang terasa lezat.
“Ini enak sekali.” Allynna sudah mencicipi dua sendok kecil dan langsung jatuh cinta dengan kelembutan yang meleleh di lidahnya. Rasa yang tidak terlalu manis membuatnya nyaman.
“Kau harus menghabiskannya, nanti kita akan jalan-jalan ke luar. Sebelum malam tiba.” Pandangan Austin mengarah ke danau yang tidak jauh berada di kedai itu.
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Allynna menikmati menunya dengan penuh suka cita. Seumur hidup dirinya belum pernah mencicipi es krim yang begitu pas di lidahnya. Meskipun pada dasarnya semua es krim memiliki rasa yang sama, tapi di tempat ini segalanya berubah. Itu bukan sekadar es krim. Itu terlalu enak dan tidak sama dengan es krim lainnya. Mungkin suatu hari nanti ia akan berkunjung lagi baik dengan Austin maupun sendirian.
Apakah baru saja ia berharap kalau dirinya akan berkunjung lagi bersama Austin? Allynna terlalu percaya diri kalau hubungan mereka akan bertahan lama. Allynna hanya sementara. Sepenuhnya Allynna yakin jika suatu hari nanti ia bisa meninggalkan Austin dan membalas segala kebaikannya. Hidup menumpang dan menjadi benalu tidaklah membuat hati Allynna merasa nyaman.
Sesuai janjinya, Austin dan Allynna kini berada di luar. Menuju ke arah danau melewati jalan berbatu yang disusun rapi dengan bunga-bunga kecil di pinggirnya. Jelas sekali jika tanah-tanah kosong di kanan kirinya akan dibangun sesuatu. Allynna menikmati angin sore dan Austin asyik dengan diamnya. Tidak mau menganggu, Allynna menyimpan dengan baik apa yang dia lihat sebagai bahan untuk melukis nanti malam.
Semakin dekat, Allynna dapat melihat danau. Angsa-angsa berenang dan saling menggerombol. Dari jauh tidak terlihat kalau ada kehidupan di danau itu.
“Apa di dalam danau itu ada ikannya juga?”
“Kau bisa memancing jika mau.” Jawab Austin.
“Benarkah?”
“Hmn, tapi alangkah lebih baiknya jika kau tidak melakukannya.”
“Benar, biarkan mereka hidup bahagia di danau.” Allynna melihat angsa yang sedang bergerak menuju ke tengah danau. Setelah dihitung ternyata berjumlah lima ekor.