TBB 16 Memilih Menyendiri

1059 Kata
“Akan bagus jika angsanya ada enam ekor.” Allynna tiba-tiba berguman. Austin mencari tempat duduk yang memang diatur di beberapa tempat dengan jarak yang lumayan berjauhan untuk menjaga privasi bagi orang-orang yang ingin mengobrol bersama orang terdekatnya. Allynna ikut duduk juga. Ada jarak yang luas diantara mereka. Tempat duduk itu menghadap ke danau sehingga orang yang duduk akan lebih leluasa menikmati keindahan danau dan airnya yang jernih. “Seharusnya enam, tapi sepertinya ada satu yang mati karena sakit.” “Sayang sekali.” Allynna tampak bersedih. “Angsa hewan yang setia, jika temannya mati ia akan memilih menyendiri sampai akhir.” Austin memilih kata teman agar tidak canggung. Padahal ia ingin mengatakan pasangan, tapi Allynna pasti akan merasa tidak nyaman jika Austin membahas itu. “Tidak buruk. Makanya di pernikahan sering terdapat hiasan dengan model angsa. Mereka berharap ketika mereka menikah maka akan selamanya bersama.” “Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Itu hanya simbol saja.” Austin menanggapi. “Angka perceraian atau perpisahan masih cukup tinggi apalagi di jaman modern ini.” “Ayahku menikah lagi setelah ibuku meninggal.” Allynna mengatakan apa yang ingin ia sampaikan. Memang kesetiaan hanya simbol yang bisa sewaktu-waktu retak begitu saja. “Maaf, aku tidak tahu bagaimana rasanya itu. Aku ikut sedih mendengarnya.” “Tidak. Aku baik-baik saja karena itu sudah berjalan cukup lama.” Austin memilih diam, tidak mau membuat Allynna menjadi semakin sedih. Austin tahu segalanya tentang Allynna berkat Ando, asistennya. Mencari data tentang Allynna begitu mudah. Sejak awal ia merasa kalau Allynna begitu menarik hatinya. Ketika hari menjelang senja, Austin mengajak Allynna kembali ke rumahnya. Di jalan mereka hanya mengobrol seperlunya. Sesampainya di rumah mereka makan malam lalu kembali berpisah dengan mengerjakan kegiatan masing-masing. Allynna kembali melukis dengan objek yang ia ingat selama di danau. Ia memindahkan ke dalam buku gambar. Allynna sedang tidak ingin mengerjakan pekerjaannya yang masih bersisa banyak sekali. Setelah larut malam, Allynna berhenti dan memilih tidur. Gadis itu cukup lelah. Ketika paginya Allynna bangun, ia tidak menemukan Austin di manapun, biasanya ia akan sarapan bersamanya. Mengerti jika Allynna mencari-cari Austin, Bherta datang membawa nampan berisi s**u ke meja makan. “Nona mencari Tuan Austin?” Bherta menebak. “Tidak.” Allynna berbohong, tapi tampak jelas sekali terlihat. Bherta hanya tersenyum dan menyajikan s**u hangat. “Tuan sedang mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya sejak semalam dan belum keluar. Ruang kerjanya di lantai dua. Dari tangga cukup berjalan ke kiri dan ada ruangan besar dengan dinding kaca.” Bherta menjelaskan. “Terima kasih.” Allynna berkata dengan ragu. “Apa jelas sekali kalau aku sedang mencarinya?” Allynna berkata dalam hati dan tersenyum kikuk ke arah Bherta yang sepertinya tahu sekali dengan apa yang dipikirkan olehnya. Setelah Bherta menghilang, Allynna melesat ke lantai dua mencari Austin. Susunya baru ia habiskan setengahnya dan belum memakan sarapan yang lainnya. Ia menemukan sebuah ruangan besar dengan dinding kaca tebal. Allynna tidak melihat apa-apa, karena itu adalah kaca satu arah. Mungkin kedatangannya sudah disadari oleh Austin. Allynna menemukan pintu dan mengetuk pintu kaca itu, “Austin.” Allynna ragu memanggil namanya. “Austin, aku masuk.” Allynna memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Hawa dingin segera menerpa wajahnya. Ia menemukan Austin yang tidur di sofa dengan lantai yang penuh dengan kertas-kertas. Cukup berantakan. Allynna masuk lebih dalam lagi. Jangka dan penggaris berhamburan di salah satu meja berukuran kecil. Ada beberapa busur dengan aneka ukuran berdekatan dengan pensil mekanik dan pensil aneka jenis yang ujungnya kebanyakan masih runcing. Kayu balsa berbagai ukuran masih terlihat bercampur dengan rumput sistetis berbentuk lembaran. Allynna juga menemukan mini blok untuk membuat dinding kecil. Ada banyak mobil kecil dan pohon kecil yang dijadikan satu wadah dengan PVC board yang sudah dipotong kecil-kecil. Tidak jauh dari sana, ada beberapa maket yang sangat mengagumkan. Salah satunya adalah bangunan Curtis Hotel. Semua orang juga tahu kalau hotel itu memiliki model yang hampir mirip di beberapa tempat. Jangan bilang kalau Austin adalah orang yang membuat design atas Curtis Hotel? Allynna menyimpan pertanyaan untuk dirinya sendiri. Curtis Hotel yang dibuat Austin adalah penampakan mini yang ada di pusat kota. Bahkan Austin membuat beberapa gedung yang hampir mirip dengan yang ada di kehidupan nyatanya. Ini sangat luar biasa. Allynna melihat ke rak besar yang berisi dengan rumah-rumah kecil dan langsung tertarik. Allynna langsung kagum dengan barang-barang yang ada di rak itu. Ada yang terlihat sangat sederhana, ada yang agak rumit. Beberapa diantaranya seperti pernah ia lihat dalam ukuran nyatanya yang beberapa kali lipat lebih besar. Akan tetapi ia lupa berada di mana. Allynna memandang Austin dari jarak jauh. Rambut pria itu berantakan dengan meja putih kusutnya yang tidak terkancing sempurna. Austin tampak seperti pangeran yang sedang tertidur lelap. Pipi Allynna merah karena terlalu mengagumi pahatan Tuhan yang tanpa cela itu. Segera gadis itu menggelengkan kepala agar pikirannya tidak kemana-mana. Ia kembali memfokuskan diri ke deretan maket yang ada di dekatnya. Ruangan itu sangat luas dan merupakan tempat bekerja yang nyaman dan luar biasa, meskipun lantainya agak berantakan. Sepertinya semalam Austin bekerja sangat keras. Allynna menyentuh beberapa barang dan langsung senang. Takut merusak, ia hanya menyentuh secara lembut dan tidak terlalu lama. Meskipun mengagumkan, itu tidak akan bagus jika ia sampai menghancurkan maha karya milik Austin. Tidak beberapa lama Austin menggeliat dan mengacak rambutnya menjadi makin berantakan. Matanya terbuka tidak sempurna dan langsung melihat Allynna di depannya. Meskipun jaraknya tidak terlalu dekat ia yakin sekali kalau itu benar Allynna. Ia tidak bermimpi. Austin menguap dan merenggangkan tubuhnya. Tidur singkatnya sudah cukup. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum nanti siang bermain bersama Allynna. Membayangkan saja sudah membuat hati Austin sangat senang. Austin menoleh ke jam digital dan ternyata masih pukul tujuh. “Pagi, Allynna.” Austin tersenyum kikuk, ia tahu kalau dirinya sedang sangat berantakan sedangkan Allynna sudah terlihat cantik dengan dress floral sederhananya. “Pagi. Aku tadi diberitahu oleh Bibi, kalau kau ada di sini. Aku tadi mengetuk pintu dan tidak ada sahutan dan aku masuk. Maaf.” Allynna mendekat ke arah Austin dan merasa bersalah karena sudah masuk tanpa izin, tapi ia cukup penasaran dengan tempat kerja milik Austin. “Dimaafkan.” Balas Austin singkat. Austin bangun dan mengucek-ngucek matanya lalu mengambil beberapa papan kecil yang berwarna abu-abu. Tampaknya itu adalah seperti bagian dari jalan dalam bentuk mini. Austin mengumpulkan beberapa barang dan memasukkannya ke dalam box kecil. “Aku akan melanjutkan pekerjaanku. Bagaimana kalau nanti siang kita jalan-jalan lagi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN