TBB 17 Anak Kecil Suka

1063 Kata
“Kemana? Kalau masih sibuk kenapa harus pergi? Aku ingin melihatmu membuat rumah-rumahan.” Allynna tampak tertarik dengan bagaimana cara Austin merekatkan semuanya sehingga menjadi sesuatu yang hebat. “Tidak bosan?” Allynna terpana dengan pertanyaan Austin. “Tidak, aku penasaran kenapa di sini ada banyak sekali maket-maket dan itu bagus sekali.” Allynna tidak sekadar memuji. Akan tetapi itu berasal dari hatinya. Allynna melirik ke denah yang ada di atas meja, ukurannya sangat terperinci dan Allynna tidak tahu soal angka dan garis itu. “Kau seorang arsitek?” “Hobby. Aku suka membuat rumah. Mungkin aku bisa menjadi arsitek andai menyelesaikan sekolahku. Aku berhenti di tahun pertama.” Austin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi ini luar biasa sekali. Apa kau yang men-design Curtis Hotel?” “Tidak sepenuhnya, tapi aku sudah merancangnya sejak lulus sekolah dasar. Itu sudah berpuluh-puluh tahun lalu. Bangunan Curtis Hotel sudah megah ketika aku lahir. Aku hanya membuat sesuatu yang sesuai impianku dan lolos seleksi.” Austin terdiam, “aku seperti membangun mimpi dengan hobbyku ini.” Austin tampak berbeda ketika membicarakan soal mimpinya. Pria itu menjadi lebih menarik dan semakin sangat menarik di mata Allynna. Allynna berkedip agar tidak semakin terpana, “tidak buruk. Pada akhirnya Curtis Hotel seperti yang ada di maketmu. Ini seperti pemandangan kota dalam versi mininya. Aku senang sekali bisa bertemu dengan seorang manusia yang hebat seperti dirimu, Austin. Aku penasaran bagaimana caramu memenangkan seleksi hingga konsepmu yang terpakai di hotel itu?” Allynna yang polos tidak tahu kalau Austin adalah pemilik dari hotel tersebut. Austin membawa box-nya ke sebuah tempat yang tertutup oleh beberapa rak tinggi. Allynna mengekor dan menemukan sebuah meja dengan maket yang belum sepenuhnya jadi. Semakin dekat Allynna melangkah ia menemukan sesuatu yang memanjakan matanya. “Itu apa?” Allynna tampak familiar dengan danau buatan yang ada di tengah-tengah meja. Meskipun ukurannya menjadi sangat kecil, tapi itu adalah tempat di mana kemarin mereka kunjungi. Kedai es krim terlihat kecil dan memiliki gambaran fisik yang sama meskipun dalam model yang sangat mini. “Kedai es krim yang kita kunjungi kemarin?” Allynna menunjuk ke arah rumah kecil. “Ya. Bagaimana menurutmu?” Austin memasang blok-blok dan membuat tempat itu memiliki jalan raya. “Bagus. Sangat bagus.” “Aku ingin kau menggambarkannya. Kalimat bagus masih terlalu umum.” Austin mengambil pohon dan bunga kecil dan menatanya sedemikian rupa. Sama sekali tidak terganggu meskipun dalam keadaan sedang mengobrol bersama Allynna. “Apa konsepmu back to nature? Begitu asri. Rumah-rumah kecil itu terlihat cantik. Kau membangun lapangan golf juga. Aku jadi ingin tinggal di tempat itu. Apakah tempat yang kita datangi kemarin akan dirubah menjadi seperti maket ini?” “Sepertinya iya. Kelak rumah-rumah kecil itu akan disewakan. Aku membangun tempat berlibur yang bernuansa pedesaan tapi nyaman untuk dijadikan destinasi baru selama liburan.” “Cukup menarik. Apa kau membangun kebun binatang juga?” Allynna melihat sebuah pagar yang di dalamnya terdapat beberapa rusa mini.” “Anak kecil suka dengan rusa dan kelinci. Aku tidak menemukan miniatur kelinci yang lebih kecil lagi.” Austin mengatur beberapa batu dan memasang beberapa lampu jalan. Allynna tidak banyak berbicara lagi. Ia hanya melihat dan menemani Austin. Berjam-jam berlalu dan gadis itu melupakan pekerjaannya. Hari sudah siang ketika Allynna meninggalkan Austin dan maket-maketnya. Ia jadi ingin melukis kota kecil seperti milik Austin. Akan tetapi ia tidak boleh mencontohnya karena akan sangat memalukan jika ia menjiplak apalagi itu masih dalam perancanaan Austin. Akan beda cerita jika tempat itu sudah ada di dunia nyata, tidak di ruang kerja milik Austin. *** Belinda cukup resah, Allynna menghilang bagai ditelan bumi. Tidak ada satupun orang yang tahu dimana saudara tirinya itu berada. Meskipun berita kematian Allynna sangat ia harapkan, tapi hidup tanpa ada bahan cemoohan menjadikan hidupnya kurang b*******h. Biasanya Belinda memang sering membuat Allynna susah dengan kelicikan-kelicikan kecil yang ia buat. Di tempat lain Allynna tampak tenang menghabiskan waktu siang di ruangannya dan menggambar untuk menyelesaikan lukisan-lukisan pesanan Austin atas permintaan Curtis Hotel. Allynna baru ingat kalau ia harus mencari apartemen untuk Cilla. Hari ini Austin dan Allynna sepakat untuk pergi ke luar. Tidak mungkin juga Allynna mengajak Austin untuk mencari tempat tinggal Cilla. Ia bertekat akan keluar nanti tanpa bersama dengan Austin, agar ia menjadi lebih leluasa. Sudah ada tiga lukisan yang berhasil ia serahkan kepada Ando setengah jam yang lalu. Masih ada berpuluh-puluh lagi dan ia harus lebih rajin membuatnya. Tekatnya menjadi kuat setelah melihat Austin dan maket-maketnya yang tampak luar biasa. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri jika tidak bisa melakukan hal serupa meskipun dalam bidang yang berbeda. Austin mengajak Allynna ke taman dan makan bekal yang disediakan oleh pelayan lalu pulang ketika hari menjelang malam. Austin dan Allynna tidak banyak berinteraksi karena Allynna lebih suka melukis sedangkan Austin sedang merekatkan objek-objek kecil di dekat Allynna. Mereka banyak diam dan fokus dengan kegiatan masing-masing. Mereka tidak saling ganggu. Tengah malam mereka berpisah untuk tidur. Keesokan paginya Allynna berpamitan untuk pergi ke rumah teman. Meskipun hanya sebagai alasan, Allynna tampak merasa bersalah karena berbohong kepada Austin yang dengan senang hati memberikan kunci mobilnya untuk dipakai oleh Allynna. Akan sangat merepotkan ketika dia harus mencari halte sedangkan di lingkungan rumah Austin sangat jauh dari keramaian. Allynna tidak mengitung sudah berapa lama ia berada di tempat Austin. Ia hanya perlu menemukan rumah dan pindah secepatnya. Pagi ini Ando membawa dua lukisan lagi dan Allynna sudah menyelesaikan lima lukisan. Ando tadi meminta akun bank Allynna. Gadis itu cukup penasaran dengan penghasilannya. Itu gaji pertamanya sejak lulus kuliah. Tampak mencolok sekali ketika Allynna pergi dengan mobil mahal milik Austin. Takut membuat kerusakan, ia mengendarai seperti kura-kura. Akan tetapi hal itu hanya berlangsung sepuluh menit. Selebihnya Allynna membiasakan diri dan berpikir positif jika semuanya akan berjalan normal dan baik-baik saja. Cilla memberikan beberapa nomor ponsel dan Allynna menghubungi mereka satu per satu. Allynna mengunjungi setiap tempat dan mencari yang cocok sesuai dengan permintaan Cilla. Ia mengirimi Cilla beberapa foto dan mereka bersama-sama berdiskusi dengan beberapa hunian yang akan menjadi rumah mereka bersama. Setelah mencari dan melihat tidak ada satupun yang sesuai dengan keinginan Cilla yang sangat menjunjung kebersihan dan kenyamanan di atas segalanya. Allynna baru merasakan betapa sulitnya mencari tempat tinggal. Hingga ia menemukan sebuah galeri kecil dan terdapat tulisan dijual di pagarnya. Penasaran, Allynna menelepon pemilik rumah yang sengaja memajang nomornya. Meskipun terlihat kusam, ia bisa memperbaikinya. Akan sangat luar biasa jika ia memiliki galerinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN