TBB 18 Galeri Lukisannya Sendiri

1054 Kata
Persetan dengan Cilla dan segala keinginannya. Seorang kakek tua datang dengan mobil mahalnya. Ia cukup gagah di usianya yang sudah sangat lanjut. Kakek itu membuka pintu dan mempersilakan Allynna masuk. Memang tempat itu adalah sebuah galeri yang sekarang barang-barangnya dipindahkan ke galeri yang lebih besar. Kakek tua itu adalah seorang kolektor barang-barang antik. Bangunan dua lantai itu sudah tidak dibutuhkan oleh pria tua itu, sehingga ia ingin menjualnya. Allynna tidak memiliki uang yang cukup, tapi ia yakin kalau akan memiliki uang jika ia bisa menyelesaikan lukisan-lukisannya. Kakek tua itu begitu baik hati dan menyerahkan kunci galeri itu kepadanya. Harga sudah disepakati dan kakek itu sangat lega karena mantan galerinya jatuh kepada orang yang tepat. Allynna menceritakan kalau ia ingin membuat galeri lukisannya sendiri. Tanpa banyak menghabiskan waktu mereka sepakat kalau surat akan diserahkan setelah melakukan pembayaran lunas. Allynna hanya perlu berpikir bagaimana caranya merubah galeri tua itu menjadi hunian yang bisa membuat Cilla memberikan uangnya kepadanya. Dia tahu Cilla akan mengamuk jika ia memilih rumah yang tampak tidak terawat itu. Allynna berada di bangunan itu dan berkeliling. Ia mengambil video dan berjalan berkeliling. Ia juga membuat foto dengan ponselnya dan sedang merencanakan apa yang akan dia lakukan dengan galerinya itu. Uang tetap menjadi prioritas, karena ia tidak akan bisa membeli rumah itu tanpa adanya uang. Setelah puas mengingat detail dan mengambil foto, Allynna kembali ke rumah Austin. Tengah malam Allynna masih belum tidur. Ia sibuk melukis dan membuat beberapa versi terbaru dari foto-foto yang ia dapat. Ia melukiskan semuanya ke dalam buku gambarnya dan menambah warna-warna yang kelak akan menjadi cat dinding dari galeri yang akan dibeli oleh Allynna. Uangnya tidak akan pernah cukup kalau tidak digabungkan dengan milik Cilla. Gadis itu tahu seperti apa selera temannya itu dan ia harus bisa meyakinkan Cilla dengan gambar-gambarnya. Allynna terlalu bersemangat sehingga tidak tidur semalaman. Ia sudah menyelesaikan design-nya dan mengirimkannya kepada Cilla. Ia sudah menyelesaikan tiga lukisan lagi dan Allynna sudah mengabari Ando untuk mengambilnya. Ando sangat senang sekali dan terlihat ramah kepadanya. Sayangnya ia tidak senang berbasa-basi terlalu lama dengan Allynna. Setelah sarapan, Allynna tidak menemukan Austin. Kata pelayan tuan mereka berangkat pagi-pagi sekali karena ada urusan. Allynna memilih tidur setelah sarapan dan bangun empat jam kemudian dan Austin masih belum kembali. Allynna langsung ke studionya dan memulai pekerjaannya. Semakin banyak lukisan yang ia hasilkan maka akan semakin cepat ia melunasi hutangnya kepada kakek tua pemilik galeri. Ponsel Allynna berdering dan Cilla adalah nama orang yang memanggilnya. Allynna menekan speaker dan mulai bercakap-cakap. “Berapa harga rumah itu? Ini letakknya dekat dengan Atlantis, kan?” Cilla terlihat bersemangat sekali setelah tahu gambar-gambar yang dibuat oleh Allynna. “Iya. Aku kemarin mencari letak Atlantis dan tidak jauh dengan galeri itu. Kita bisa tinggal di lantai duanya dan aku bisa bekerja di bawah. Aku akan membayar setengahnya. Sayangnya galeri itu tampak kumuh meskipun bangunannya masih bagus dan kuat.” “Aku tertarik dengan foto yang kau kirimkan. Itu luar biasa. Bisakah itu menjadi nyata? Ally, aku serius dengan keinginanku itu.” Cilla tampak tidak sabar. “Aku tahu kalau kau akan menyukainya. Aku hanya perlu menghubungi tukang cat dan mendekor ulang semuanya. Membeli barang-barang dan membuat gambarku itu menjadi nyata.” “Baik, aku lunasi saja. Nanti kau bisa menggunakan uangmu untuk mendekor ulang dan membeli perabotan.” “Serius?” Allynna tampak tidak percaya kalau Cilla akan langsung setuju. Ia sudah membagi uang yang harus mereka bayarkan masing-masing saat mengirimkan foto-foto dan gambar rencananya lewat email. “Aku serius. Harus cepat jadi, karena tidak lama lagi aku harus bekerja bersama dengan Atlantis.” “Oke. Masukkan saja semua uangnya ke akun bankku. Besok aku akan ke rumah pemiliknya untuk mengambil surat galerinya. Kau tidak masalah jika nanti aku melunasinya berbulan-bulan kemudian? Kau tahu menjadi seorang pelukis berbeda dengan seorang model.” “Iya, aku mengerti. Ally, kau harus membuat tempat itu sama seperti gambarmu. Aku benar-benar jatuh cinta dengan design-mu itu.” “Aku jamin.” “Oke. Hari ini juga aku transfer. Nanti kuhubungi lagi, aku ada acara. Bye, Ally.” “Ya. Hati-hati.” Sambunganpun terputus. Allynna tentu senang sekali. Sedikit demi sedikit ia bisa menuju kepada impiannya untuk memiliki galerinya sendiri. Gadis itu menjadi semakin bersemangat menggoreskan kuas di atas kanvas lebarnya. Jika ia ingin memiliki galeri ia harus menyelesaikan order milik Curtis Hotel dan membuat beberapa karyanya sendiri untuk ia jual sendiri. Order dari Curtis Hotel tidak main-main banyaknya. Beruntung ia memiliki banyak sketsa yang bisa ia diskusikan dengan Austin. Tugasnya sekarang adalah membuat lukisan ukuran besar atas sketsa yang ia serahkan kepada Austin tempo hari. Itu sudah lumayan banyak dan tidak mungkin ia selesaikan selama seminggu. Akan tetapi Allynna cukup optomis jika dia bisa menyelesaikannya tepat waktu. *** Austin pada akhirnya memindahkan studio Allynna ke ruang kerjanya karena gadis itu sangat susah diajak ke luar rumah dan berdalih ingin menyelesaikan pekerjaannya. Ando sudah membayarkan setiap lukisan yang ia terima dan memuji betapa bagusnya lukisan milik Allynna itu. Meskipun Austin tidak begitu dikejar waktu untuk menyelesaikan maket barunya, ia jadi ikut gila kerja sama seperti Allynna yang tengah melukis tidak jauh dari tempatnya duduk. Pria itu sedang merangkai beberapa rumah kecil sedangkan Allynna tampak giat dengan kuasnya. Gadis itu tampak cantik dengan rambut yang digelung asal dan kuas yang dijepit diantara bibirnya itu. Kedua tangannya bergerak bergantian dan merupakan pemandangan yang sayang jika dilewatkan oleh Austin. Ini sudah berlangsung berhari-hari dan sudah banyak lukisan yang dibuat oleh Allynna. Maket Austin juga sudah hampir jadi, tapi ia memperlama agar bisa bersama dengan Allynna. Sepertinya ia harus membeli tanah lain yang akan dijadikan objeknya yang baru. Selama bisa menghasilkan uang, Austin akan sangat senang sekali melakukannya. “Allynna, kau tidak lelah?” “Hmn. Aku punya target. Curtis Hotel benar-benar gila, sebenarnya ada berapa ruangan yang mesti aku isi dengan lukisan?” Allynna meletakkan kuas yang ia gigit karena khawatir akan jatuh ketika berbicara dengan Austin. Austin tersenyum, “ada banyak. Kata Ando ada beberapa tamu yang ingin membeli lukisanmu dan mereka juga bertanya tentang siapa yang membuat lukisan-lukisan itu.” “Baguslah, kalau hasilnya tidak mengecewakan.” “Tidak. Sama sekali tidak mengecewakan. Ando sudah memasukkan saldo di akunmu.” “Terima kasih. Itu sangat berarti buatku. Aku berhutang banyak kepadamu, Austin. Aku perlu membayar biaya selama tinggal di sini. Aku tidak enak dengan dirimu.” Allynna menyampaikan kegundahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN