TBB 19 Jadi Pacarku Saja

1095 Kata
Austin menatap Allynna dan mata mereka terkunci satu sama lain. Austin menghela napas dan meletakkan benda-benda yang ia pegang. “Tidak masalah. Kita teman dan sudah seharusnya saling membantu. Kalau kau tidak enak jadi pacarku saja.” Kata Austin asal. “Hahaha … kau sangat suka bercanda.” Allynna tertawa dan Austin ikut tertawa padahal hatinya mengatakan yang sesungguhnya. “Kau sangat menyebalkan. Tidak bisakah kau bersikap biasa saja denganku. Aku tidak akan memakanmu. Aku berani bersumpah.” Jika disuruh memilih, Austin bahkan rela jika seumur hidup hanya melihat dan memanjakan Allynna. Sayangnya masih terlalu dini untuk membicarakan soal perasaannya kepada Allynna. Austin berpikir jika cara yang lambat dan tidak tergesa-gesa akan membuat Allynna menjadi terbiasa dengan dirinya. Sebenarnya ia sangat senang jika Allynna bergantung kepadanya dalam berbagai hal. Sayangnya ia tidak bisa mengatakannya secara lugas kepada Allynna. Austin takut kalau-kalau Allynna pergi dan menjauhinya. Itu adalah hal terakhir yang ia inginkan dalam hidupnya. “Aku senang mengenalmu, Austin. Sebenarnya aku memiliki teman yang sangat sedikit sekali selama hidup. Bukannya aku tidak bisa bergaul. Hanya saja mungkin karena aku terlalu asyik dengan duniaku sendiri. Kau sudah hadir dan aku senang kau mau menjadi temanku dan membantu banyak hal untuk kepentinganku.” “Tidak masalah, kau sangat mengagumkan dengan bakatmu. Kau harus melukis lebih banyak lagi. Bagaimana kalau kau memberiku lukisan yang bagus dan aku akan membebaskan segala biaya-biaya hidupmu di sini, bagaimana?” “Oke. Aku akan membuat beberapa dan itu pasti akan menjadi sangat bagus.” Allynna tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Austin sibuk dengan maketnya dan sibuk melihat setiap pergerakan Allynna. Andai gadis itu tahu kalau ia sangat menginginkannya untuk dirinya sendiri, sayangnya tidak semudah itu bagi Allynna untuk membuat dirinya yakin dengan Austin. Pria kaya selalu memiliki drama dalam hidupnya. “Aku ingin kau menggambarku dalam versi yang agak lebih besar dari yang kemarin itu.” “Oke.” “Aku merasa tampan di lukisan, apakah aku terlihat tampan juga di dunia nyata ini?” Allynna bingung dengan pertanyaan Allynna, apakah dia sedang bercanda? Tampilan nyata pasti akan lebih baik daripda lukisan. Allynna begitu menghargai ciptaan Tuhan daripada ciptaan tangannya. “Apa sesulit itu untuk dijawab?” Austin bertanya lagi. “Aku melukis sesuai dengan kenyataannya.” Allynna menjawab. “Kalau kau berpendapat kalau lukisanmu terlihat tampan maka kenyataannya seperti itu.” “Kau yakin aku tampan?” Austin menyeringai ke arah Allynna. Allynna tertawa tanpa suara atas pertanyaan yang ia dengar sangat konyol itu. Dalam hati ia mengakui jika Austin memang sangat tampan. Austin terlihat senang sekali dan langsung bersemangat dengan maketnya. Pipi Allynna merah karena tertawa. Entah mengapa itu membuat hati Austin berbunga-bunga. *** Sehabis mandi Allynna mengecek saldo di akun banknya. Sudah ada beberapa lukisan yang ia serahkan kepada Ando. Sayangnya Ando tidak pernah memberitahu berapa besarnya nominal yang ia terima. Allynna akan mabuk jika membayangkan ada berapa banyak lagi lukisan yang belum ia selesaikan. Bisa sebulan atau tiga bulan, ia tidak bisa membayangkan jika menjadi pelukis bisa sangat melelahkan. Mata Allynna terbelalak ketika mendapati ada banyak angka yang ada di akun banknya. Ia sampai mengusap matanya berkali-kali. Ia menghitung-hitung kembali dan harganya terlalu tinggi untuk lukisan yang berasal dari pelukis amatir seperti dirinya. Kalau Allynna bisa menyelesaikan dua puluh atau tiga puluh lukisan lagi ia bisa melunasi galerinya. Cepat-cepat ia mengetikkan pesan di ponselnya dan langsung mengirimkannya kepada Ando. “Apa harga lukisanku semahal itu? Aku baru saja mengecek akun bank dan ada banyak saldo di sana. Kau tidak salah transfer, kan?” Selang beberapa detik sudah ada balasan dari Ando, “Kami tidak salah menghitung, apa harganya kurang?” “Tidak. Ini sangat mahal untuk lukisan biasa.” “Tidak. Lukisanmu sangat bagus. Ada satu lukisanmu yang dihargai tiga kali lipat dan kami terpaksa menjualnya karena pelanggan yang terlalu keras kepala. Pemilik Curtis hotel juga mengambil satu sebagai hadiah untuk keluarganya.” “Benarkah? Bagus. Selama lukisanku tidak mengecewakan. Maaf sudah menganggu malam-malam. Aku hanya memastikan.” “Tidak apa-apa. Lebih cepat lebih baik, aku tidak sabar menjemput lukisanmu.” “Oke, aku akan berjuang lebih keras. Selamat malam.” “Selamat malam, Ally.” Allynna kembali melirik ke arah laptopnya yang masih menampilkan informasi tentang uangnya. Hatinya senang sekali. Segera Allynna keluar dari webnya dan kembali mencari-cari objek yang akan ia lukis untuk lukisan selanjutnya. Ia tidak sabar juga untuk menyelesaikan semuanya sebelum memulai bisnis galeri lukisannya. Tidak berlangsung lama, Cilla mengabari kalau dia baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia sudah mentransfer dana ke rekening Allynna. Segera Allynna menghubungi pak tua pemilik galeri tua itu untuk bertemu besok pagi. Hatinya semakin senang karena keinginannya satu per satu menjadi kenyataan. Dalam hidup akan semakin menggairahkan ketika satu per satu hal baik terjadi dan sesuai dengan rencana. Setelah makan malam bersama Austin, mereka mengobrol sebentar lalu pergi tidur. Allynna sangat mengantuk. Mungkin karena sering begadang dan beban pekerjaannya bertambah. Meskipun sebenarnya hatinya sangat senang ketika bekerja sesuai dengan pekerjaannya yang ia inginkan sejak lama. Melukis adalah hidup Allynna. Gadis itu merasa damai setelah menyalurkan perasaannya kepada sebuah karya berupa lukisan. *** Austin malam-malam mengunjungi rumah orang tuanya dan menemukan mereka baru saja menyelesaikan makan bersama. Sang kakek melirik jahat ke arah Austin. “Masih ingat rumah?” Kakek Austin tampak berbicara dengan sinis kepada cucunya itu. Memang benar jika dirinya sudah lama tidak pulang. “Aku sibuk, Kek.” Austin tertawa dan membawakan sesuatu dan diserahkan kepada kakeknya. “Aku membawa hadiah untuk kakek.” “Austin, sudah makan? Ibu siapkan makanan, ya? Kau terlihat sangat kurus.” Ibu Austin yang masih sangat cantik diusianya yang sudah setengah abad itu menghampiri anak lelaki satu-satunya itu. “Kenapa tidak berkunjung ke rumah? Kami merindukanmu.” “Ibu berbohong.” Austin menyeringai, kalian baru saja ke luar negeri tanpa mengajakku. Austin ingat kalau selama seminggu mereka bertiga berlibur ke Hawai. “Bagaimana bulan madunya, Bu? Aku tidak sabar mendapatkan seorang adik.” Austin berkelakar yang langsung dihadiahi cubitan oleh ibunya. “Kau harus bertanya kepada dirimu sendiri kapan kau memberi kami cucu.” Ibu Austin yang bernama Audy tidak mau kalah. “Apa yang kau bawa?” Kakek Austin bertanya. “Lukisan.” Jawab Austin cepat. “Cepat buka.” Ayah Austin yang selalu mengenakan kaca mata itu cukup penasaran dengan lukisan yang dibawa oleh anaknya itu. “Siapa pelukisnya?” “Bukan pelukis terkenal, tapi dia cukup berbakat.” Austin tidak memberitahu kalau Allynna adalah orang yang melukisnya. Ia mengambil satu lukisan dan belum menyelesaikan pembayarannya kepada Allynna. “Coba tebak berapa harganya?” Austin membuka kertas pembungkusnya dan kakek Austin tampak mengamati dan menikmati lukisan itu dari dekat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN