TBB 20 Dia berbakat

1123 Kata

“Bagus.” Ibu Austin berkomentar. “Akan bagus jika diletakkan di ruang kerja kakekmu.” Ayah Austin menyarankan. “Jangan, aku akan membawanya ke galeri baruku.” Kakek Ben menyela. “Goresannya sangat halus dan pemilihan warnanya lumayan. Sayang jika dipajang untuk diri sendiri. Siapa yang melukisnya?” “Nanti kalau dia sudah terkenal aku akan mengajak kakek untuk bertemu dengan pelukisnya.” Austin tersenyum kepada kakeknya. Kakek Austin masih memandangi lukisan itu dengan sungguh-sungguh. Austin cukup penasaran dengan pendapat kakeknya tentang lukisan yang ia bawa. Ia tahu kalau kakeknya itu sangat tergila-gila dengan barang seni, salah satunya lukisan. Audy dan Alfa sudah membubarkan diri, tinggallah Austin dan kakeknya di ruang tengah. “Apa pelukisnya masih sangat muda?” “Dua puluhan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN