“Kalian tahu hidup itu tidak mudah, tapi kalian hanya perlu menjadi diri kalian sendiri dan menjadi sesuatu yang paling kalian inginkan. Kita tidak membutuhkan sihir untuk merubah dunia, kita membawa kekuatan yang kita butuhkan dalam diri kita. Kita bisa lebih baik, kita hanya perlu mencoba dan terus berusaha.” Ally menjeda kalimatnya dan menatap semua yang ada di depannya.
“Kata orang dari seni tidak akan membuat diri menjadi kaya, tidak akan mencukupi hidup, di sini aku ingin membuktikan kalau setahun lagi atau lima tahun lagi aku akan membawa perubahan untuk diriku sendiri. Aku ingin kalian menjadi saksinya agar aku tidak melupakan impian terbesarku dalam kehidupan ini. Tidak peduli masa depan akan menjadikanku seorang pemenang atau pecundang, yang aku tahu aku bisa melakukannya.
“Terima kasih kepada dosen-dosen dan teman-teman yang sudah banyak membuat aku, Allynna Quinn menjadi lebih dewasa. Selepas lulus ini adalah awal untuk kita berusaha untuk mewujudkan mimpi kita.” Allynna mengakhiri ucapan kelulusannya di depan ribuan orang. Gemuruh tepuk tangan berkumandang. Ini adalah awal bagi Ally untuk membuktikan kalau meskipun dirinya dibuang dan sebatang kara dia tidak akan pernah menyerah.
Acara berlangsung dengan khidmad dan penuh suka cita. Banyak orang tua yang meneteskan air mata karena terharu. Ally menghampiri Austin yang terlihat sedang menunggunya. Ally terkejut dengan Austin yang membawa sebuket bunga mawar besar di tangannya.
“Selamat, Allynna. Ucapanmu di panggung tadi keren sekali.” Austin menyodorkan bunga itu kepada Ally dan gadis itu langsung menerimanya sambil meneteskan air mata.
“Terima kasih, Austin. Bahkan kau sudah memberikan banyak hal untukku sejak dua hari ini.”
“Ini belum dua hari.” Sela Austin. “Kita perlu membuat perayaan kecil-kecilan. Ayo kita pergi dari sini.”
“Oke, tapi aku akan mengambil barang-barangku dulu yang ada di lokerku. Kita perlu berjalan melewati beberapa gedung terlebih dahulu.”
“Ayo. Tidak masalah. Aku bebas hari ini dan beberapa hari ke depan. Ingat kau harus menemaniku selama aku cuti.” Austin membuat permintaan.
“Oke. Aku akan menemanimu.” Ally harus terbiasa dengan kehadiran teman baru seperti Austin. Dia terlihat baik meskipun ia tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiran pemuda itu.
Beberapa orang berbisik dan memandang ke arah Austin. Pria itu segera menarik Allynna untuk mengambil barang-barang di lokernya. Wajahnya begitu familiar, sudah pasti akan mengundang pertanyaan dari banyak orang atas kehadirannya di acara wisuda tersebut.
Benar kata Ally jika mereka harus melewati beberapa bangunan untuk sampai di gedung milik program studi seni rupa. Austin dulu bersekolah di luar negeri, ia tidak pernah berpikir kalau kampus di negaranya lumayan bagus dari segi fasilitas yang dapat ia lihat. Austin membantu Ally membawa barang-barangnya yang lumayan banyak. Beragam cat warna dan kuas tertata sempurna di kardus besar yang Austin bawa, sedangkan Ally membawa yang sama besar dengan milik Austin. Sepertinya Ally memang sudah mengepak semua barang bawaannya beberapa hari sebelumnya. Berulang kali Ally meminta maaf kepada Austin karena selalu merepotkannya.
***
Austin dan Ally memilih langsung pulang dan menaruh semua barang bawaan Ally di sebuah kamar tidak terpakai di tempat Austin. Pria itu berpikir jika Ally bisa mengunakan salah satu ruangannya sebagai tempat meletakkan barang-barang yang tidak mungkin dibawa ke dalam kamar tidur itu. Austin membantu Ally menata barang-barang Ally. Awalnya Ally tidak mau untuk membongkarnya, tapi Austin membujuknya kalau dia bisa menggunakan ruangan kecil itu untuk melukis selama Ally ada di rumahnya. Ally yang tidak enak langsung mematuhi karena ia juga membutuhkan ruang khusus.
Austin sudah melihat beberapa lukisan milik Ally. Lukisan Ally sangat bagus dan wajar saja jika gadis itu mendapatkan peringkat pertama di jurusannya karena bakatnya itu. Austin bukan kolektor barang seni, tapi ia yakin pada instingnya kalau lukisan Ally memiliki nilai seninya sendiri.
“Ally, maukah kamu membuat lukisan untukku?” Austin tiba-tiba ingin melihat Ally melukis.
“Bagaimana kalau aku melukis dirimu?”
Austin berpikir sejenak, “oke, tapi aku harus bergaya seperti apa?”
“Duduk di sana dan tersenyumlah.”
“Oh, hanya begitu saja?”
“Aku bisa melukis dengan segala gaya.” Ally tersenyum.
“Baik.” Austin segera mencari tempat dan Ally menyiapkan peralatannya. Ia masih memiliki beberapa kanvas walaupun hanya ada dua yang masih kosong dalam ukuran yang kecil.
Austin tersenyum dan Ally mulai melukis wajah Austin. Ally tidak keberatan untuk menuruti permintaan Austin, karena pria itu sudah sangat banyak membantunya. Ally sudah menyiapkan warna-warna yang akan ia gunakan untuk melukis wajah tampan itu. Austin membuat Ally malu, karena harus sering-sering menatapnya dengan sungguh-sungguh. Austin seperti malaikat yang jatuh ke bumi, selain tampan dia juga begitu baik kepada Ally. Gadis itu sangat beruntung bisa bertemu dengan Austin.
“Kita bisa mengobrol, kamu tidak harus tersenyum terus. Itu melelahkan.” Ally berkata sambil mencoret-coretkan kuas.
“Aku penasaran seperti apa wajahku ketika berpindah ke kanvasmu.”
“Pasti akan mirip.” Kata Ally yakin, “aku sering melukis orang-orang yang meminta untuk dilukis.”
“Sudah berapa orang yang kau lukis?”
“Aku tidak menghitungnya. Aku suka melukis sejak lama dan sudah banyak lukisanku yang aku berikan ke galeri seni.”
“Apa saja yang bisa kau lukis?” Austin bertanya, karena dia sedang berpikir.
“Banyak, tergantung tema yang diinginkan.”
“Maukah kamu bekerja untukku? Sepertinya aku memerlukan beberapa lukisan untuk menghias sebuah hotel.”
“Serius? Kalau aku menerimanya bisakah uangnya digunakan untuk membayar segala biaya yang aku habiskan di rumahmu? Aku merasa tidak enak jika terus-terusan tinggal secara gratis di sini, meskipun dirimu sangat baik, Austin.” Mata Ally berbinar-binar.
“Padahal aku benar-benar tulus kepadamu. Tapi kau mau mengambil pekerjaan itu?” Austin memang sedang mencari orang untuk membeli beberapa lukisan, tapi belum ia lakukan. Karena Ally bisa melukis, membuat gadis itu bekerja untuk dirinya akan membuatnya bisa manahan Ally dalam waktu yang lama.
“Akan kuambil, aku pengangguran.” Ally tersenyum malu-malu.
“Tapi … aku rasa akan ada banyak lukisan yang harus kau buat. Aku akan meminta mereka memberikan gambar dari ruangan-ruangan yang akan menjadi tempat lukisanmu. Dapatkah kamu membuat beberapa sample untuk lukisan-lukisanmu? Versi kecil saja.”
“Bisa, aku akan mengerjakannya dengan buku gambar. Kalau boleh tahu untuk hotel mana?”
“Curtis Hotel.”
“Wow, itu hotel terbesar dan terbagus. Aku jadi kurang percaya diri kalau tidak membuat sesuatu yang baik.” Ally tahu sekali bagaimana reputasi dari Curtis Hotel. Ally tidak banyak bertanya lagi, padahal ia penasaran apakah Austin ini bekerja disana atau memiliki rekan di sana.