Ketika hari sudah sangat larut, Austin masuk ke kamar Ally. Pria itu mendekat dan melihat Allynna yang tertidur dengan pulasnya dan tanpa beban. Ia membenarkan selimut Ally agar tetap hangat. Austin melihat high heels yang tergeletak di samping meja. Austin membuka sedikit kaki Allynna yang tertutup selimut. Ia menemukan kedua kaki Allynna yang lecet. Austin terlihat tidak suka lalu segera mencari kotak obat yang ada di salah satu laci kamar itu. Saat menemukannya Autin dengan telaten mengobati luka itu dan menutupnya dengan plester. Austin mengelus puncak kepala Ally lalu meninggalkan gadis itu sendirian.
***
Pagi ini adalah hari kelulusan Ally. Sejak pagi Allynna sudah bangun, tapi bingung apa yang akan dia lakukan pagi ini. Ia cukup lama termenung di atas kasur dan melihat kalau ada yang sudah menyembuhkan kaki lecetnya tanpa ia sadari. Tidak tahu siapa orangnya, Austin ikut andil menyelamatkan dirinya. Ally mandi dan mengenakan pakaian yang ia bawa. Tanpa sepeser uang bagaimana caranya dia bisa sampai ke kampusnya? Mungkin ia akan berjalan kaki menempuh jarak yang lumayan jauh di hari bahagianya. Akan tetapi Ally sedang dalam mood yang buruk.
Dengan malas Ally membawa tas kecilnya yang biasa dipakai saat kuliah dulu. Ibu tirinya menaruh itu di dalam koper sebelum mengusirnya pergi dari rumah. Entah harus bersyukur atau mengumpat, Ally tetap harus menjalani hidupnya. Ally mencari jalan keluar dari rumah Austin yang sangat megah itu.
Belum sempat Ally keluar dari kamarnya, ada seorang pelayan yang datang dan menyapanya hangat.
“Nona, Tuan Austin sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.”
Itu adalah kalimat yang Ally ingat dari pelayan yang bernama Bherta. Ally tidak mungkin meninggalkan rumah Austin begitu saja tanpa berpamitan dengan Austin. Selain itu dia juga lapar. Padahal semalam dia sudah menghabiskan banyak makanan di restoran bersama dengan Austin.
“Hai, Allynna. Bagaimana tidurmu, nyenyak.” Austin tersenyum dan langsung menyapanya ketika melihat Ally.
“Tidurku nyenyak dan … terima kasih untuk semuanya.” Ally merasa canggung untuk mendekat ke arah Austin.
“Ayo sarapan bersama, nanti aku akan mengantarmu kemanapun karena beberapa hari ke depan aku sedang cuti. Bukankah ini suatu kebetulan. Ketika aku bosan bekerja aku memiliki dirimu yang bisa kuajak jalan-jalan.”
“Terima kasih. Hari ini aku harus ke kampus untuk upacara kelulusanku.” Kata Ally sedih dan terlihat murung. Ally baru saja duduk dan melihat makanan yang banyak di atas meja. Padahal mereka hanya makan berdua saja. Ini terlalu boros menurut Allynna.
“Karena ini adalah hari yang bersejarah aku akan berpakaian yang rapi dan ikut bersamamu.”
“Terima kasih, padahal aku berharap kalau orang tuaku akan datang, tapi mereka tidak akan datang.”
“Aku yang akan menemanimu, kau tenang saja, Allynna. Ayo dimakan. Kau harus mengisi perutmu dengan banyak makanan agar tetap bersemangat.” Austin membujuk.
“Terima kasih.”
Ally dan Austin memulai sarapan mereka, tapi Ally hanya mengambil sepotong roti dan memakannya begitu saja. Meskipun dia lapar, nafsu makannya mendadak hilang. Ia baru kemarin diusir dan dia hidup sebatang kara dan tampak menyedihkan. Sampai kapan Austin akan menolongnya. Ia masih memiliki perasaan, sangat tidak enak jika terus menyusahkan.
“Kenapa hanya makan sedikit, kau bisa menganggap rumah ini sebagai rumahmu. Kau tidak perlu canggung dan aku ikhlas membantumu.” Austin lagi-lagi menyunggingkan senyum ajaibnya, yang bisa membuat wajahnya semakin tampan berkali-kali lipat. Mau tidak mau Ally ikut membalas senyum itu dengan canggung.
Ia baru bertemu dengan Austin dan dia sudah banyak membantunya. Dari membelikan makan, memberikan tempat tinggal, dan mengantarnya ke kampus. Ini membuat hati Ally tersentuh.
***
Ally diantar dengan mobil sport milik Austin yang berbeda warna. Orang kaya selalu memiliki caranya sendiri dalam menikmati kekayaannya. Meskipun cara itu terlihat sedikit pamer dan terlalu berlebihan. Ally tidak tahu kalau Austin adalah pemilik Curtis Hotel yang sangat terkenal di kota itu. Mungkin Ally adalah satu-satunya manusia yang kurang pergaulan hingga tidak mengerti tentang apa yang terjadi di negeri tercintanya. Ally selama ini hanya sibuk dengan lukisan dan nilainya. Meskipun jurusan yang ia ambil adalah seni rupa, tapi dia memiliki nilai terbaik dan itu cukup membanggakan.
Kehadiran Austin di aula mengundang rasa penasaran, karena hampir semua orang tahu bagaimana kiprah seorang Austin di dunia bisnis. Lalu ada Ally yang berdiri tidak jauh di dekatnya membuat mereka juga bertanya-tanya tentang hubungan diantara mereka.
“Ayo. Aku harus bersiap-siap. Aku akan memberikan pidato kelulusan. Aku ini lulusan terbaik tahun ini di jurusan seni rupa.” Ally tersenyum. “Nanti kau masuk saja di barisan orang tua murid, orang tuaku tidak akan datang.” Ally mencoba seceria mungkin.
“Oke. Kau harus memberikan pidato yang berkesan.”
“Aku sedang memikirkannya. Aku semalam tidak sempat berpikir soal acaraku pagi ini.”
“Kau sibuk makan ayam goreng.” Austin menggoda Ally.
“Ya, benar. Ayammu lebih menggoda daripada pidatoku hari ini. Kira-kira aku harus berpidato apa?” Ally mencari saran dari Austin.
“Kau terlihat cerdas.” Lanjut Ally.
“Terserah, yang penting itu membuatmu tidak malu untuk mengatakannya. Jadilah dirimu sendiri.” Jawab Austin.
“Terima kasih. Aku pergi dulu. Nanti beri aku tepuk tangan yang meriah, ya? Supaya aku senang.” Ally tersenyum lalu meninggalkan Austin.
Ally sudah menghilang bersama rombongan mahasiswa sedangkan Austin mencari tempat duduk di deretan kursi-kursi yang memang disediakan untuk orang tua atau kerabat mahasiswa yang mengikuti acara kelulusan pagi ini. Masih pukul sepuluh dan beberapa menit lagi mungkin acara akan dimulai.
Austin sudah dua kali mengikuti wisuda dan sangat tahu bagaimana urutan acara yang setiap kampus pasti memiliki persamaan. Austin tidak bisa melihat Ally karena banyaknya manusia di dalam gedung. Mereka tampak serupa dengan toga mereka. Hingga acara membosankan itu sampai pada titik di mana Ally akan memberikan pidato kelulusannya.
Benar kata Ally kalau dia adalah mahasiswi dengan peringkat terbaik di jurusannya. Austin tampak senang ketika dia bisa melihat Ally yang dengan langkah pasti menuju ke panggung dan tersenyum dengan lebar, meskipun kemarin ia melihat wajah putus asa milik gadis itu. Seluruh ruangan hening, ketika Ally sampai di mimbar dan mengatur mic-nya.
“Namaku Allynna Quinn, aku berdiri di sini karena kebetulan, kebetulan yang aku rencanakan sebelumnya. Aku ingin membuat bangga ibuku yang sudah berada di surga yang mungkin sedang tersenyum melihatku sekarang, karena putrinya berhasil meraih nilai terbaik dan teman-temanku sama-sama berjuang untuk sampai di tempat ini.” Ally menyeka setetes air matanya.