Allynna tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Austin yang tampak mengamati dirinya. Ally tidak sadar jika sudah menghabiskan enam potong ayam seorang diri. Austin bahkan belum menghabiskan kentangnya. Ally menyeka mulutnya dengan anggun, hal itu tidak luput oleh penglihatan Austin yang memang sejak tadi mengamati wanita yang ada di depannya.
“Mau tambah lagi?” Austin memberikan penawaran.
“Boleh?”
“Tentu saja. Mau tambah berapa lagi?”
“Dua.” Ally tersenyum ke arah Austin yang beranjak untuk memesan lagi.
Allynna tidak percaya jika Austin membeli satu keranjang kecil ayam goreng. Mungkin ada sepuluh atau dua belas potong ayam. Austin juga membawa tiga gelas soda.
“Aku sengaja membeli banyak, bisa dibawa pulang.” Kata Austin asal. “Ayo dimakan.” Austin mengambil satu potong ayam dan memakannya dengan kedua mata yang terus mengamati cara makan Allynna yang hati-hati tapi lahap itu.
Jarang-jarang ada wanita yang akan menampakkan nafsu makan yang besar di depan pria setampan dirinya. Austin sudah terbiasa melihat wanita yang akan makan sangat sedikit hanya untuk membuat dirinya tertarik. Wanita-wanita itu akan makan dengan cara yang anggun dan sedikit. Akan tetapi Allynna tidak peduli dengan sekitarnya. Wanita itu tampak menikmati hidangan yang ada di depannya.
“Terima kasih, aku tidak tahu bagaimana caraku membalas kebaikanmu, Austin.” Ally berhasil menandaskan satu potong ayam, padahal dirinya satu saja belum habis.
“Kau harus makan yang banyak, supaya perutmu tidak menangis.”
Ally tersenyum. Austin terpaku melihat senyuman Allynna yang indah. Austin melihat ke sekeliling dan suasana restoran semakin ramai saja. Ia sudah lama tidak datang ke tempat seperti ini. Austin mengajak Ally ke restoran cepat saji karena Austin ingin makan kentang goreng. Biasanya Austin akan dibuatkan makanan berstandar bintang lima untuk menu sehari-harinya. Menjadi pemilik Curtis Hotel membuatnya diperlakukan seperti seorang pangeran sejak lama.
Austin tersenyum ketika dirinya mampu menghabiskan empat potong ayam dan kentang goreng, sedangkan Allynna berhasil memakan lima belas potong ayam. Meskipun memiliki postur tubuh yang ramping ternyata selera makan Allynna tidak perlu diragukan lagi. Austin takut kalau perut Allynna sakit kalau makan sebanyak itu. Akan tetapi Allynna terlihat bahagia dengan ayam yang ia belikan. Austin tidak berkomentar banyak atas kelakuan Allynna.
“Sejak semalam aku belum makan. Seharian ini aku belum sempat makan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.” Ally mengatakan situasinya karena Austin pasti memandangnya seperti gadis yang rakus.
“Aku juga makan banyak hari ini, aku sudah bertahun-tahun tidak makan ayam goreng di sini.” Austin menanggapi. Di hatinya langsung muncul perasaan tidak tega, pantas saja Allynna menangis. Ia tidak punya tempat tinggal dan kelaparan sepanjang hari.
“Ayo pulang.” Austin mengajak Allynna meninggalkan restoran cepat saji itu.
Ally mengekori Austin yang berjalan lebih dulu. Kini Ally harus berpikir keras, karena hari sudah sangat malam dan dirinya belum menemukan tempat tinggal. Karena langkah Ally yang lambat, Austin berhenti dan menarik tangan Ally agar jalannya menjadi lebih cepat.
“Kau bisa tidur di tempatku dulu, sampai kau menemukan tempat tinggal.” Austin kembali berbuat baik kepada Allynna.
Allynna yang mendengarnya jadi tidak enak dengan kebaikan yang sudah dilakukan oleh Austin kepadanya. Meskipun ia butuh uluran tangan orang lain, tapi jika terlalu sering ia merasa tidak enak hati untuk menerimanya.
“Tidak usah, aku akan ke rumah temanku.” Tolak Allynna.
Kekuatan Austin lebih besar daripada Allynna hingga gadis itu bisa dibawa masuk ke mobilnya. Ketika di dalam mobil Austin tidak mempedulikan lagi soal penolakan Allynna.
“Akan lebih baik kalau kau tinggal di rumahku dulu untuk sementara waktu.”
Allynna menghela napas, dia tidak mungkin membuat Austin kesal. “Baiklah. Terima kasih.”
“Sama-sama.” Austin tersenyum karena Ally menyerah. Sebenarnya Austin tidak begitu suka jika keinginannya ditentang.
***
Wanita yang sudah seharian tidak mandi itu tidak kaget ketika rumah milik Austin sangat besar dan mewah. Rumah Austin memiliki pagar yang tinggi dengan penjagaan yang terlihat ketat. Ada tiga orang penjaga yang ia lihat ketika mobil Austin memasuki gerbang itu. Butuh waktu dua menit sebelum mereka sampai di depan rumah Austin. Ada air mancur yang mengeluarkan air dari bejana yang dibawa oleh dua patung manusia bersayap. Lampu taman menjadi penerang jalan hingga sampai ke teras rumah dengan pilar-pilar besar yang menjadi penyangganya. Ally semakin yakin kalau Austin adalah perwujudan nyata dari pangeran negeri dongeng yang sering diceritakan oleh ibunya ketika menjelang tidur.
Austin membawa koper milik Ally dan menyerahkannya kepada seorang pelayan wanita. Ally diantar oleh pelayan itu setelah Austin mengatakan soal kamar dan tinggal. Ally dengan patuh mengikuti pelayan wanita bernama Bherta menuju ke sebuah kamar yang indah. Setelah sedikit menjelaskan, Bherta pun pergi meninggalkan Ally sendiri di kamar barunya.
Autin terlalu baik kepadanya. Ally jadi takut dengan Austin karena pria itu terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Austin memilik mobil mewah keluaran terbaru. Austin memiliki banyak orang yang melayaninya juga rumah yang megah. Bisa saja Austin adalah salah satu anggota mafia yang mungkin membahayakan nyawanya. Jika dipikirkan lagi membuat Ally tidak tenang. Setelah upacara kelulusannya, ia harus segera mencari kerja dan meninggalkan rumah Austin.
Jika dipikirkan membuat Ally semakin pusing. Ally memilih mandi karena badannya sudah lengket karena keringat. Ally melihat kakinya yang lecet karena terlalu banyak berjalan. Ally melepas sepatunya dan mengambil langkah menuju ke kamar mandi yang mewah milik Austin Curtis.
Akhirnya Ally bisa merasakan air bersih yang membasahi tubuhnya. Dia pikir ia akan berhari-hari tidak mandi, tapi ia hanya perlu bersabar dan ia mendapatkan makanan juga tempat tinggal sementara. Ally takut, tapi tidak mungkin ia mengabaikan orang yang berniat membantu dirinya. Setengah jam berlalu, tubuh Ally sudah bersih. Perutnya sangat kenyang dan suasana yang dingin membuatnya mengantuk. Ally mencari pakaiannya yang ada di dalam koper. Setelah menemukan yang sesuai ia segera memakainya.
Ally kembali melihat tempat tidurnya yang terlihat bagus. Pendingin udara sudah diatur oleh Bherta ia hanya perlu memejamkan mata agar besok bisa bangun lebih awal untuk hari kelulusannya. Setelah empat tahun ia bisa menamatkan kuliahnya. Sayang, tidak ada yang memberikan selamat kepadanya.
Mata Ally jadi berat, ia mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang berada di dekat kasurnya. Tidak butuh waktu yang lama sampai alam mimpi menyeret Ally. Napas Ally nampak teratur dan dirinya sudah tertidur sangat lelap, hari ini begitu berat bagi Ally sehingga dirinya sangat kelelahan.