TBB 5 Kakak, Siapa namamu?

1119 Kata
Apa dia tidak salah dengar? Baru saja ada seorang pangeran yang menawarinya makan malam. Ally berkedip berulang kali, siapa tahu dirinya salah mendengar. Tidak mungkin ada orang asing yang menawari makan kepadanya. Apalagi jika yang mengundangnya adalah seorang yang tampak luar biasa, seperti berasal dari negeri dongeng. Pria di dekat Ally tertawa tanpa suara. Ia menemukan gadis yang lucu yang sedang melihatnya penuh dengan rasa takjub. Apa ia setampan itu hingga gadis di depannya sampai tidak bisa menjawab undangan makan malam yang baru saja ia lontarkan? “Aku serius dengan ajakan makan malam.” “Hah? Apa?” Ally mengerjabkan matanya lagi. “Aku tidak salah dengar?” Pria itu masih tersenyum dan menarik salah satu pipi Ally dengan jemarinya agak kuat. “Aaa … sakit.” Pria itu melepaskan cubitannya, “berarti kau sedang tidak bermimpi.” “Oke … oke … aku percaya.” Allynna mengelus pipinya yang sedikit sakit. Ia ingin mengumpat karena lelaki itu yang sudah lancang menyakiti pipinya yang tidak berdosa. “Ayo, temani aku makan.” Pria itu berdiri dan ternyata dia memiliki tubuh yang tinggi. Tanpa diminta, pria itu langsung menyeret koper Allynna. Ally terpaksa mengikuti pria asing itu tanpa banyak bertanya. Ia sudah sangat lapar dan sudah tidak bisa berpikir lagi. Ally sudah sangat lelah. Sebelum menutup pintu, Ally mengedipkan sebelah matanya, mungkin karena hari ini doanya sangat tulus maka Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk menjaga perut Ally dari rasa lapar. Pria itu sudah berjalan cukup jauh sehingga Ally harus berlari untuk mengejarnya. Kaki pendeknya kesulitan mengikuti pria itu. Ally melihat mobil sport keluaran terbaru yang terparkir di dekat pintu gerbang. Koper Ally sudah menghilang. Karena lama, pria itu menarik lengan Ally dan membawanya masuk ke dalam mobil, sebelum menuju ke tempat tujuan. “Kita mau kemana?” “Makan.” Jawab pria itu singkat. “Kau tidak akan menculikku dan menjualku, kan?” Ally menatap pria yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Menurutmu apa untungnya menculik dan menjual dirimu?” Pria itu mengamati Ally tanpa mengurangi kecepatan mobilnya. Ally menghela napas, apa yang pria itu katakan memang benar. Ia tidak memiliki barang berharga selain baju yang berada di kopernya. Ally belum mandi seharian dan tampak lusuh dengan baju yang semalam ia pakai. “Kau benar. Tidak ada untungnya menculik diriku.” “Tapi aku tidak keberatan jika disuruh menculikmu.” Pria tampan yang tidak Ally ketahui siapa namanya sedang tertawa renyah. “Aku Allynna, panggil saja Ally, terima kasih untuk undangan makan malamnya.” Ally mengalihkan pembicaraan. Sangat menyebalkan ketika bahasan tentang betapa tidak berharga dirinya diperbincangkan. “Kakak, siapa namamu?” Ally bertanya. “Austin.” “Dan aku bukan kakakmu.” Lanjut Austin datar. “Maaf.” Allynna tersenyum kikuk. Setelah pria itu memberitahukan namanya, mereka berdua tidak berbicara lagi. Austin sibuk dengan mobilnya dan Ally terus memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan nanti setelah selesai makan malam dengan Austin. Ally belum memiliki tempat tidur, sedangkan rencananya untuk tidur di gereja sudah gagal karena Autin. Akan tetapi Ally memang membutuhkan makanan. sepenuhnya ia tidak menyalahkan Austin. “Nama pria itu begitu bagus, seperti parasnya yang menawan.” Ally membatin lalu tersenyum samar ketika melihat pantulan wajah Austin dari kaca mobil. Baru sekali bertemu dan Ally sudah mengakui kalau ia begitu beruntung ditolong oleh Austin. *** Austin berhenti di salah satu restoran siap saji yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi. Ally melangkahkan kakinya bersama dengan Austin ke dalam restoran yang ramai. Ia tidak menyangka jika Austin akan mengajaknya ke tempat makan yang menjual beragam jenis junk food itu. Makanan enak yang kurang baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering. Ally pikir dirinya akan dibawa ke tempat yang bagus karena pria itu terlihat luar biasa dengan pakaian juga mobilnya. Ally pikir Austin adalah tipe pria yang memilih-milih dalam hal makanan, rupanya ia salah mengira. Ally duduk di kursi kosong sambil menunggu Austin yang tengah mengantri untuk mendapatkan makanan. ia sudah mencuci tangannya dengan sabun agar kuman-kuman tidak ikut masuk ke dalam perutnya ketika makan nanti. Ally mengelus perutnya yang kelaparan sambil tersenyum. Melihat orang-orang yang sedang menggigit burger membuat Ally semakin lapar. Ally melihat wanita yang sedang menggigit ayam dan dirinya hanya bisa menelan air liurnya. Gadis itu belum pernah sengsara seperti hari ini. Biasanya ia masih bisa makan tepat waktu meski lauknya hanya sisa ibu tiri dan adik tirinya. “Makanlah, kau sudah terlihat pucat, Allynna.” Austin menyodorkan nampan yang berisi empat b*******a ayam, dua paha ayam, ditambah dengan kentang goreng beserta dua gelas minuman soda. Austin sendiri mengambil kentang goreng dan minumannya sambil melihat Ally yang dengan tangan gemetar menyobek daging ayam lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Gadis itu mengunyah makanan sambil meneteskan air mata. Austin tidak tahu apa yang menyebabkan gadis di depannya menangis. “Ada apa?” “Tidak.” Ally menyeka air matanya karena terlalu bahagia. “Terima kasih untuk ayamnya, ini enak sekali.” “Allynna, kalau mau tambah nanti kubelikan lagi, jangan menangis.” Austin menyodorkan sapu tangannya dari balik sakunya. Ally menerima kebaikan Austin dan menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan air mata yang ada di pipi lalu segera menghabiskan satu d**a ayam dengan perasaan bahagia. Setelah berhasil menghabiskan satu potong Ally merasa kalau punggungnya bisa berdiri tegak. Energinya pulih segera, ia lalu meminum sedikit sodanya. Meskipun tidak baik minum soda ketika perutnya belum terisi dengan benar ia tidak peduli. Kesehatan nomor sekian, yang terpenting ia masih bisa makan hari ini. “Aku bingung dengan dirimu, mengapa membawa koper ke gereja? Kau ingin menjadi biarawati?” Austin asal bertanya. “Tidak. Aku berdoa di sana.” Ally mengambil satu ayam lagi untuk dimakan. “Berdoa? Lalu koper?” “Aku diusir dari rumah, aku tidak tahu harus pergi kemana. Jadi aku berdoa di sana.” “Diusir?” Austin tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari bibir Allynna. “Allynna, kau tidak berbohong kalau kau diusir?” Austin bertanya lagi untuk memastikan. “Panggil Ally.” Kata Allynna, “dan itu memang sungguhan. Aku baru saja diusir oleh ibu tiriku dan ayahku.” “Aku lebih suka memanggil Allynna. Begitu enak di lidahku.” Austin menjawab. “Mengapa kau diusir? Maaf, bukannya aku mau ikut campur, tapi aku penasaran. Kau terlihat seperti anak yang baik.” “Aku tidak mau ambil pusing soal itu. Mungkin sudah saatnya untuk hidup mandiri.” Ally berbicara sambil makan. “Jadi malam ini kau mau tidur di mana?” “Tidak tahu.” Jawab Ally tanpa beban. Austin mengernyit tidak suka. Akan sangat berbahaya jika wanita berkeliaran malam-malam, meskipun di negaranya sangat jarang ada kasus perampokan atau penganiayaan di tempat umum. Akan tetapi beberapa waktu yang lalu nyawanya nyaris tergadaikan jika tidak ada jurang yang membuat orang-orang yang mengejarnya terperosok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN