“Ini kopi kamu.” Shandy meletakkan gelas kertas berisi moccacino di atas meja kerja Adelia. “Terima kasih.” Adelia tersenyum sembari meraih gelas kertas tersebut, menghidu aroma kopinya sejenak dan menyesapnya. “Aku perlu ganti uang kamu atau tidak?” “Hm?” Shandy tertegun. “Tidak perlu. Nanti tinggal kupotong dari gaji kamu.” “Hahahah.” Adelia terbahak. Selera humor Shandy bagus juga. Tentu saja Shandy, anak sulung perusahaann berskala nasional ini, tak akan pernah membutuhkan uang Adelia sepeser pun. “Bagaimana makan siangnya?” “Aku tidak menyangka kamu tertarik dengan makan siangku.” Shandy menjawab acuh tak acuh sembari berbalik ke meja kerjanya. “Bukan makan siang kamu. Maksudku, kamu dan Melani. Kalian ada hu

