Nalendra melirik ke arah jendela. Menyingkirkan perasaan buruk terhadap sopir taksi itu. Walaupun, beberapa kali rasa takutnya semakin menguasai pikiran. Sampai akhirnya, Nalendra menyadari adanya sesuatu yang tidak biasa. Mobil itu melaju bukan ke arah kampus. Nalendra dengan sigap mengingatkan sopir agar kembali ke jalan yang seharusnya. Lagi-lagi, sopir itu tidak mendengarkan perkataannya. Nalendra berteriak tepat di telinganya, anehnya sopir itu tidak memarahinya. Pikirannya semakin kalut saat itu, tapi tetap mencoba tenang agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan. “Pak!” teriak Nalendra sekali lagi. Tidak ada jawaban, apalagi kepalanya yang menoleh. Bahkan, kepalanya masih betah menunduk bersembunyi di balik topi. Nalendra merasa sesuatu yang janggal pun terpaksa dengan tida

