Nalendra mengejar Dewi yang telah melangkah terlebih dahulu. Langkah kakinya berhasil mengimbanginya. Berjalan di sebelah kanan wanita itu dengan perasaan canggung. Merasa sedikit malu karena adanya suatu penolakan. Akan tetapi, hal itu bukanlah suatu masalah besar. Nalendra pun sadar, selama ini belum menjadi seorang laki-laki yang bisa mengerti perasaannya. Mereka kembali ke tempat Pratiwi. Memberikan makanan yang telah dibeli agar dia pun bisa menikmatinya. Dewi terkejut ketika mendengar Pratiwi tengah berbicara sendiri. Padahal, di sana tidak ada orang lain selain mereka. Nalendra mengerti akan kebingungan yang dirasakan oleh Dewi. Padahal, Pratiwi tengah bercengkerama dengan seorang hantu yang memang tinggal di daerah rumah sakit jiwa. “Tiwi ... mainnya nanti lagi, ya, sekarang ma

