Nalendra menatap serius ke arah hantu itu. Pikirannya tidak bisa berpikir dengan baik. Walaupun, Anna terkadang tidak ada di saat dirinya butuh, tetapi hantu kecil itu telah menjadi teman hidup beberapa waktu. Nalendra tidak ingin jika dia pergi begitu saja. Beberapa waktu kemudian, Anna tampak tersenyum manis untuk membalas tatapan Nalendra. “Aku belum mau pergi ke mana-mana, kaki dan tangan aku saja belum ketemu,” katanya lalu meloncat ke kasur Nalendra. “Eh, Anna tidak sopan tidur di sini,” ujarnya sembari pindah ke sofa yang ada di dekat jendela. “Aneh ... Di rumah saja kamu sering kan main di kasurku,” jawab Nalendra mengambil ponsel yang ada di atas meja. “Hi hi, benar juga, Ndra, Anna ingin gulali,” lirihnya sembari menunduk. Wajahnya di tutupi dengan rambut yang tergerai ke d

