Nalendra menatap ponsel yang tergeletak terbalik di depannya. Kesal ketika daya baterai ponselnya telah menunjukkan lima persen. Artinya, dalam beberapa menit lagi sudah mati. Melangkah sembari meraba-raba untuk mencari sebuah lilin agar bisa meneranginya. Akan tetapi, tidak ada satu pun di ruangan itu. Terpaksa, Nalendra harus keluar untuk menemui ibunya. Berdiri di depan pintu ruangan yang digunakan kedua orang tuanya, Nalendra mengucapkan salam sembari mengetuknya tiga kali. Merasa takut dengan suasana yang ada di rumah itu, belum lagi dengan dirinya yang ditegur banyak makhluk secara langsung. Berdiri sudah buku yang tumbuh di lengannya. Beberapa saat dia menunggu pintu itu terbuka, akan tetapi tidak juga ada tanda-tanda akan dibuka. Nalendra yang merasa kesal pun menjadi dengan meng

