Keesokan harinya, Nalendra pergi melihat hijaunya perkebunan teh. Memanjakan diri dengan sejuknya pemandangan yang ada. Kakinya mulai menjamah tanah yang ditumbuhi dengan pepohonan teh yang terlihat segar. Pagi ini, masih sepi pekebun yang sedang bekerja. Mungkin, dalam beberapa menit lagi, mereka baru mulai untuk melakukan pekerjaannya. Nalendra merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Dia yang memakai kaos lengan pendek pun menjadi korban ulat bulu yang banyak menghinggapi di dedaunan teh. Menggosok lengannya yang terasa gatal beberapa kali. Berlari untuk meninggalkan perkebunan itu. Melihat ibu dan ayahnya yang masih berdiri tegak di tepi perkebunan. Mereka begitu terlihat tersenyum bahagia menikmati indahnya ciptaan Tuhan di daerah itu. “Ma, di tas ada minyak?” tanyanya sembari menggaruk

