Bab 01 Jarak, Waktu, dan Sebuah Rahasia
Matahari sore perlahan mulai tenggelam, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi halaman rumah besar itu. Di sana, berdiri tiga sosok yang sudah tak asing lagi satu sama lain: Tasya, Daffa, dan Titah. Mereka bertiga adalah sahabat sejati, tumbuh besar bersama, berbagi tawa dan air mata sejak mereka masih mengenakan seragam TK. Namun, hari ini terasa berbeda. Udara terasa lebih berat, dan senyuman yang terukir di wajah mereka tak sepenuhnya tulus.
Hari ini adalah hari perpisahan. Ayah Daffa mendapat tugas kerja di luar negeri, dan seluruh keluarga harus pindah mengikutinya. Kabar itu datang begitu cepat, menyisakan kekosongan di hati Tasya dan Titah.
"Tas, kalian jangan lupa sama aku ya," ucap Daffa dengan suara berat, mencoba menahan kesedihan yang mulai menggelayuti dadanya. Ia menatap lekat kedua sahabat perempuannya itu.
"Tentu saja tidak mungkin lupa, Daff! Kamu itu sahabat kami," jawab Tasya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam erat tangan laki-laki itu, enggan melepaskan.
Di sisi lain, Titah hanya diam mematung. Jantungnya berdegup kencang bukan main. Sejak lama, ia menyimpan perasaan lebih dari sekadar teman pada Daffa. Setiap kali melihat senyum laki-laki itu, dunia seakan berhenti berputar. Namun, Titah sadar, cintanya mungkin tak akan pernah terbalas. Hatinya mencelos membayangkan orang yang ia sayang akan pergi jauh, entah sampai kapan akan bertemu lagi.
Daffa menghela napas panjang, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada Tasya. Tatapan matanya lembut, penuh dengan makna yang belum sempat terucap. Sebenarnya, di hati Daffa, bukan Titah yang mengisi ruang itu, melainkan Tasya. Sahabatnya yang pendiam dan baik hati itulah yang selama ini berhasil mencuri hatinya.
"Aku janji, Tasya. Begitu aku sampai di sana dan punya waktu, aku akan langsung mengirimkan e-mail buat kamu. Kita harus tetap saling menghubungi, janji?" kata Daffa tegas, menatap manik mata cokelat gadis itu.
Tasya mengangguk cepat, "Iya, aku janji. Aku akan tunggu surat elektronikmu."
Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara, Daffa melakukan sesuatu yang membuat waktu seakan berhenti. Dengan perlahan, ia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi mulus Tasya. Ciuman perpisahan yang hangat dan penuh makna.
Wajah Tasya langsung memerah padam, dan ia menunduk malu. Namun, di tempat yang sama, tatapan Titah berubah sendu. Dadanya terasa sesak melihat adegan itu. Harapannya pupus sudah. Cintanya tak bersambut, dan kini ia harus melihat orang yang dicintainya pergi sambil menunjukkan perhatian pada orang lain. Dengan hati hancur, Titah memalingkan wajah, menyembunyikan air mata yang mulai siap tumpah.
Mobil pun melaju, membawa Daffa menjauh, meninggalkan dua gadis itu dan sebuah awal baru yang penuh dengan rasa rindu, cinta terpendam, dan dinamika persahabatan yang mulai berubah.
Keesokan harinya...
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar. Di depan meja belajarnya, Titah sedang sibuk menatap layar komputer. Jantungnya berdegup kencang saat melihat notifikasi e-mail baru yang masuk. Nama pengirimnya membuat pipinya memerah : Daffa.
Tanpa membuang waktu, Titah segera menghubungi Tasya. Kebetulan, mereka berdua adalah sepupu; Ibu Tasya adalah adik dari Ayah Titah, sehingga hubungan mereka sangat dekat dan sering bertukar kabar. Tasya pun datang ke rumah Titah dengan wajah penasaran.
"Dia kirim e-mail, Tas! Dari Belanda!" seru Titah antusias.
Tasya hanya mengangguk datar, "Oh, ya sudah bacain dong."
Titah mulai membacakan isi surat itu dengan suara lembut. Daffa menceritakan tentang cuaca di Belanda yang dingin, tentang rumah barunya, dan betapa ia sangat merindukan masa-masa mereka bermain bersama. Namun, semakin lama Titah membaca, ekspresi Tasya terlihat semakin tidak tertarik. Matanya mulai melirik ke sana-sini, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan bosan, hingga akhirnya ia berdiri dan berjalan mendekati pintu.
"Tas, kamu mau ke mana? Masih banyak yang belum dibacain," tanya Titah terkejut.
"Ah, males ah, Tah. Isinya cuma omong kosong doang," jawab Tasya santai sambil merapikan bajunya. "Denger ya, aku udah gak mau baca atau balas surat-surat dari dia lagi. Capek tau."
Titah terbelalak, "Hah? Tapi kan Daffa nulis ini khusus buat kamu..."
"Udah ah, males. Lagian kalau kamu mau bales atau mau lanjutin ngobrol sama dia, silakan aja. Gue gak masalah," ucap Tasya acuh tak acuh. Tanpa menunggu jawaban, ia pun melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan Titah yang terdiam mematung di depan komputer.
Hati Titah berdebar aneh. Ada rasa sedih melihat Daffa diacuhkan, tapi di sisi lain, ada secercah harapan yang muncul. Jika Tasya tidak mau membalasnya, maka tidak ada salahnya jika ia yang menjadi jembatan, bukan?
Sejak hari itu, mulailah pertukaran pesan yang intens antara Titah dan Daffa. Daffa mengira bahwa semua balasan yang masuk adalah dari Tasya, atau setidaknya mereka berdua membacanya bersama. Titah menceritakan segala hal tentang kampung halaman, dan Daffa membalas dengan cerita tentang negeri kincir angin itu.
Hingga pada suatu hari, Daffa mengirimkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar cerita, melainkan sebuah tulisan lirik lagu yang ia buat sendiri, khusus untuk dikirimkan kepada mereka.
*
*
🎵 Judul Lagu : Jarak yang Menghampiri
(Oriental Song - Created for this story)
Verse 1
Angin berhembus membawa rindu
Jauh disana aku menunggu
Meski raga terpisah jauh
Namun kenangan takkan pernah redup
Chorus
Biarlah waktu yang akan bicara
Biarlah jarak jadi saksi cerita
Meski kini kita tak bertatap mata
Inginku kau tahu, kau ada disana
Verse 2
Setiap huruf yang ku tuliskan
Adalah bukti yang takkan hilangkan
Bahwa persahabatan ini abadi
Walau terhalang oleh samudra dan hari
Outro
Tunggu aku...
Sampai nanti kita bertemu kembali.
*
*
Titah membaca lirik itu berulang-ulang kali. Ia merasa kata-kata itu begitu indah dan menyentuh hati. Perlahan tapi pasti, Titah mulai menghafal setiap baris kalimat itu, seolah-olah lagu itu adalah pesan rahasia yang hanya dimengerti oleh hatinya sendiri.
Sepuluh tahun kemudian...
Waktu bergulir begitu cepat, seolah baru kemarin mereka berpisah. Kini, Tasya, Daffa, dan Titah telah tumbuh dewasa dan menginjak usia sembilan belas tahun.
Suatu hari, sebuah kabar gembira—atau lebih tepatnya mengguncang—datang lewat surel elektronik. Daffa menulis bahwa ia dan keluarganya akan pulang ke Indonesia untuk menetap kembali. Jantung Titah berdegup kencang tak karuhan. Ia segera berlari memberitahu kabar ini pada Tasya.
"Tas! Daffa datang! Dia balik ke Indonesia!" seru Titah penuh semangat.
Namun, respon Tasya justru datar dan bingung. "Daffa? Siapa itu?"
Wajah Titah memucat. Tasya benar-benar sudah melupakan sosok sahabat masa kecil mereka, bahkan nama Daffa pun hilang dari ingatannya.
"Halah, masa lupa sih? Itu lho temen kita waktu kecil, yang pindah ke Belanda," desis Titah sambil mencubit pelan lengan Tasya. "Dengerin ya, nanti kita sama Ibu kamu dan Ayah aku bakal jemput mereka di bandara. Kamu harus pura-pura ingat sama dia, oke?"
Tasya mengerutkan kening, "Buat apa pura-pura? Aku emang lupa."
"Jangan gitu dong! Kasihan dia. Lagian selama sepuluh tahun ini kan dia sering kirim surat dan e-mail buat kamu, terus aku yang balesin atas nama kamu. Jadi nanti kalau dia ngomongin surat-surat itu, kamu harus pura-pura tahu dan ingat, ya! Plis deh Tas, bantuin aku," pinta Titah memohon, khawatir kebohongan lama mereka akan terbongkar.
Tasya akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk malas, "Yah sudah deh, iya-iya. Gue bakal pura-pura ingat kok."
Sesampainya di area kedatangan bandara, suasana terasa ramai. Titah masih tak henti-hentinya mengingatkan Tasya agar tidak salah bicara.
"Inget ya Tas, senyum, terus kalau dia tanya apa-apa jawab aja seolah-olah kamu inget semua," bisik Titah.
"Iya, iya, bawel banget sih. Gue inget kok," jawab Tasya santai.
Tak lama kemudian, sosok tinggi besar dan tegap muncul dari balik pintu keluar. Itu Daffa. Penampilannya kini jauh berbeda, lebih dewasa dan tampan, namun tatapan matanya masih sama.
Seketika, mata Daffa langsung menyapu kerumunan orang. Dan begitu melihat sosok Tasya di sana, sorot matanya langsung berbinar terang. Ia melangkah cepat, seolah-olah Titah dan orang tua mereka hanyalah bayangan belaka.
Daffa sama sekali tidak menatap Titah. Perhatiannya 100% tertuju pada Tasya. Senyumnya mengembang lebar, tatapannya hangat dan dalam, seolah dunia ini hanya berisi mereka berdua.
Hati Titah mencelos lagi, persis seperti sepuluh tahun lalu. Ia sadar, posisinya tidak pernah berubah. Ia tetaplah orang kedua, sementara Tasya—meski lupa dan acuh—tetaplah menjadi satu-satunya wanita yang ada di hati Daffa.
Tak lama setelah mereka saling menyapa, Ayah Titah mendekati ketiga remaja itu. Wajah pria itu terlihat ceria menyambut kedatangan sahabat lamanya.
"Yuk, Nak-nak, ayo pulang. Ibu di rumah sudah sibuk masak dari tadi pagi lho. Semua menu itu makanan kesukaan Daffa dan orang tuanya juga," ajak Ayah Titah sambil tersenyum lebar.
"Iya, Yah. Ayo," jawab Daffa, namun matanya masih tak lepas memandang wajah Tasya.
Mereka pun berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa hangat dengan obrolan orang tua yang membahas masa lalu. Namun, bagi Titah, waktu terasa berjalan begitu lambat dan menyakitkan.
Daffa duduk tepat di sebelahnya, tapi perhatian laki-laki itu seratus persen tertuju pada Tasya yang duduk di hadapan mereka. Tatapan Daffa tidak pernah berpaling. Sesekali Daffa tersenyum, menatap Tasya dengan pandangan yang begitu dalam dan lembut, seakan tidak ada orang lain di dunia ini selain gadis itu.
Hati Titah terasa perih. Rasa cemburu yang selama ini ia pendam, kembali muncul dan menggelora. Ia merasa seperti penonton di dalam kehidupannya sendiri.
“Kenapa sih tidak pernah berubah?” batin Titah berteriak. “Daffa masih saja sama seperti dulu. Matanya hanya bisa melihat Tasya. Padahal Tasya saja sampai lupa siapa dia.”
Pikiran itu terus berputar di kepala Titah. Ia merasa sangat tidak adil.
“Akulah yang selama sepuluh tahun ini ada di sana untuknya. Akulah yang membalas setiap e-mail, akulah yang mendengarkan ceritanya, akulah yang menghafal lagu yang dia kirim, dan akulah yang selalu ada saat Tasya malas mengurusinya. Tapi kenapa... kenapa di mata Daffa, aku tidak pernah terlihat?”
Air mata hampir saja menetes, namun Titah berusaha kuat menahannya. Ia tersenyum kecut, menyadari bahwa perasaan Daffa pada Tasya memang benar-benar tidak pernah berubah, bahkan setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu.