Satu tangan Ryan menelusup ke bawah leher cahaya menarik tubuh Cahaya untuk masuk dalam dekapannya. Dia selalu menunggu momen seperti ini dari dulu, menciumi wajah Cahaya yang selalu merona jika sedang tertawa. Suatu hal yang indah jika dibayangkan. Perlahan jemari Ryan menelusuri kulit wajah Cahaya yang mulus, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pipinya. Ryan mendesah pelan, merasakan getaran cinta dalam dadanya yang begitu besar daripada rasa dendam yang ingin dia balaskan. Menarik dan mengeluarkan napas secara teratur sembari menutup mata, dia berusaha mengingat apa yang pria itu lakukan pada ibunya. "Maaf, aku tidak mencintaimu lagi, kau tidak bisa memaksakan kemauanmu." "Kau jahat! Dulu kau bilang akan tetap cinta sama aku, apa pun keadaanya dan akan tetap membantu aku. Ta

