Jangan Egois

1154 Kata
Sesekali gempa dengan skala kecil kerap terjadi, membuat semua orang yang berada di dalam tenda selalu waspada. Bagi yang menderita luka berat, pasti masih tidak bisa bergerak. Seperti reporter cantik ini, yang masih berupaya mencari sinyal dengan tubuh yang terbaring. "Ya Tuhan, bagaimana bisa aku meminta pertolongan mereka!" keluhnya. Bukan hanya dia saja, pria yang disebelahnya pun tidak bisa menghubungi keluarganya yang berada di kota lain. Sudah 3 hari mereka berada di dalam tenda yang memberikan pengobatan seadanya. Makan dan minum yang dilayani oleh para relawan. "Mas Ryan," panggil seorang perempuan yang kepalanya di perban, berjalan pelan menuju brankar si pria tampan ini. "Ine, alhamdulillah kamu selamat, maaf aku gak bisa lindungi kamu," ucapnya sontak si gadis sebelahnya itu menahan senyum dan meliriknya sinis. Bibirnya mencebik, memperhatikan interaksi pria yang dibencinya ini dengan kekasihnya yang begitu mesra di dalam situasi yang tidak layak. "Aku tadi ditolongi dan diberi pakaian sama petugas, maaf kalau aku gak pakai kerudung," katanya lagi. Si pria memakluminya karena tragedi seperti ini di luar pemikiran dan menjadi pelajaran berharga untuknya. Atau apakah ini azab dari Tuhan karena mereka telah berbuat dosa dan masih bisa diberi kesempatan untuk hidup. "Kamu ditenda mana?" "Aku pindah di sini saja ya Mas." "Sudah penuh," kata si pria dan gadis disampingnya menyahut. "Hey, kau boleh menempati posisiku, aku yang akan pindah ke tempatmu." Dia tidak suka jika setiap hari selalu diperhatikan oleh pria yang tidak dia kenal terlebih pria ini telah berbuat kurang ajar padanya. "Boleh," sahut Inneke yang masih dendam dengan perseteruan mereka sebelum gempa ini terjadi. Inneke mengunjungi Ryan untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk kekasihnya. Berharap mendapatkan momen terindah berdua di dalam hotel. Namun ternyata, dia kaget karena harus melihat seorang wanita yang terbaring di atas bed kekasihnya, meski dalam keadaan berpakaian lengkap. Setelah si gadis siuman mereka pun bertengkar hingga mengakibatkan Ryan turun tangan untuk menarik gadis ini keluar dari kamar. Tak lama setelah itu gempa dahsyat pun terjadi. Ryan tidak sempat berlari menyelamatkan kekasihnya yang masih di dalam kamar. Dia malah menyelamatkan seorang gadis asing yang sekarang membencinya. "Dia susah bergerak, nanti merepotkan perawat," bisik Ryan di telinga Ine. Ryan tidak rela pandangan matanya berubah. Dia suka melihat wajah cemberut dan merengut gadis yang telah dia renggut ciuman pertamanya itu. Gadis pemarah yang tidak berterimakasih karena sudah ditolongnya dan digendongnya masuk ke dalam kamar hotel. "Tetapi aku mau di dekat kamu Mas," rengek Inneke sembari mengelus lengan berotot kekasihnya. "Kamu bisa kemari setiap hari, setiap kapan pun kamu mau, hmm--" bujuk Ryan sembari tersenyum manis dan membelai dagu Inneke dengan lembut, membuat perempuan ini semakin jatuh hati padanya yang selalu bersikap lemah lembut. Padahal, yang dilakukan Ryan semata-mata agar pertukaran itu tidak terjadi. Ryan masih penasaran dengan identitas gadis tersebut. Sempat teringat bahwa nama penumpang tersebut adalah Aira bukan Cahaya. Sampai sekarang pun Axel yang dimintai tolong, belum memberikan data yang dia minta. "Bagaimana, kau mau atau tidak?" teriak si gadis menuntut jawaban dari Inneke. "Tidak, terimakasih aku tidak mau menempati bekasmu," ucap Ine dengan sombong dan ketus. Si gadis ini berdecih dan menggeleng pelan seraya mengancam dalam hati, "Jangan salahkan aku jika kekasihmu jatuh cinta padaku!" Ryan tak bisa menatap si gadis yang entah bagaimana ekspresinya saat ini meski sebenarnya ingin, karena Ine selalu mengajaknya bicara, hingga pengumuman dari luar menjelaskan bahwa jaringan telepon sudah diperbaiki. Tidak butuh waktu lama semua orang yang masih memori benda kecil sebagai penghubung komunikasi jarak jauh itu, langsung mengaktifkan alatnya dan menelepon sana keluarganya. "Halo Mas Raja, aku di Bali kena korban gempa," jelasnya. Disaat Ryan dan kekasihnya sibuk menelepon keluarga. Gadis yang di sebelahnya sibuk meminta jaringan wifi. Dan ketika tersambung, dia merasa lega bisa segera menghubungi dan melihat wajah keluarganya. "Pah, Aya terdampar di Indonesia. Siapa yang bisa tolong Aya. Bayu mana, minta hubungi ke kantor agar bisa cepat jemput aku," rengeknya. Disisi lain, meskipun dia sedang menelepon keluarganya, tetapi telinga Ryan tidak lengah mendengar jelas apa yang diucapkan gadis itu. Mata Ryan memicing tegas, melirik si gadis yang sedang berbincang serius melalui video call. "Firasatku benar, kau Cahaya, kau kembali padaku, Aya. Akan aku berikan cinta yang spesial untukmu, cinta pertamaku, semuanya akan berkesan," batinnya. "Mas, aku kembali ke tenda ya, kepalaku pusing lagi," kata Ine sembari memegang kepalanya. "Ya sudah sana istirahat, mereka akan jemput kamu kalau kondisi bandara sudah dinyatakan stabil," jelas Ryan sembari membelai sayang kepada Ine. "Kamu juga ikut pulang 'kan, katanya kamu off selama seminggu kita mau tunangan loh," ucap Ine memelas dan memeluk lengan Ryan. Tak menyanggah, Ryan mengangguk mengiyakan. Mengatakan 'Tidak' hanya akan membuat Ine bertahan sedangkan dia ingin bersama cinta pertamanya. "Dah sayangku, cepat sembuh biar kita cepat pulang," ucap Ine manja sembari mengecup pipi Ryan. "Iya, dah sana," jawab Ryan sekenanya, risih dengan perilaku Ine yang tanpa sungkan bermesraan di depan umum. Ine berjalan sembari melirik Cahaya yang juga meliriknya sinis. Perseteruan kedua perempuan ini akan menjadi sangat panjang jika Ryan maju untuk menghadirkan masalah. Selesai makan siang, mereka kembali dikunjungi oleh petugas medis untuk memantau kesehatan mereka. Jika Ryan sudah merasa baikan dan berbaring terlentang. Cahaya masih dalam kondisi susah untuk bergerak. "Berapa lama lagi saya boleh bergerak Dok," tanyanya. "Kita tunggu sampai seminggu ya, takut tulang kamu bergeser, cara berjalan kamu nanti aneh. Cewek cantik harus anggun bukan?" ucap si dokter yang mengajak bercanda Cahaya agar tidak panik. "Iya, Dok, soalnya saya harus bisa meliput keadaan di luar demi tugas pekerjaan saya. Saya harus sembuh cepat. " "InsyaAllah, kamu akan bisa meliput lagi, kamu jurnalis ya?" tanya si Dokter sembari memperhatikan Cahaya. "Iya Dok, jurnalis dari Swedia," jawab Cahaya ramah. "Saya kira kamu model atau artis," ucap si Dokter yang memujinya. Mereka terus berbincang-bincang. Tanpa perlu ditanya lagi, Cahaya telah mengungkapkan identitas yang bisa dimengerti oleh Ryan. Untuk mengambil hati Cahaya maka dia menawarkan, "Hey Nona, kau butuh video rekaman di luar, aku bisa membantumu," ucap Ryan setelah dokter yang merawat Aya pergi. "Tidak perlu, kau pasti punya maksud lain dibalik sikap baikmu," tolak keras Cahaya disertai tatapan sinis. " Nona, seharusnya kau berterimakasih banyak padaku. Jika kau masih tertidur di dalam pesawat dan aku abaikan maka kau akan lebih parah." Cahaya mencebik, melipat kedua tangan di depan d**a. Kepalanya mengadap berlawanan. Ryan semakin geram dengan tingkah kekanak-kanakan cinta pertamanya ini. " Ayolah, jangan egois. Terkadang seseorang rela memperjuangkan harga diri demi mendapatkan sesuatu yang lebih. Profesional itu diperlukan dalam semua pekerjaan, betul tidak jurnalis?" Aya terpojok, dia butuh rekaman yang akan dikirim pada perusahaannya agar mendapatkan berita ter-hot nomor satu di rating semua televisi. Sekarang dirinya harus terjebak di dalam tenda dan tidak bisa berbuat banyak. "Baik, aku setuju," jawabnya dengan pertimbangan matang. Dia perlu rekaman asli yang mana keadaan masih porak poranda bukan sudah ditata ulang dan rapi kembali. Senyum cerah di wajah Ryan tak dilihat oleh Cahaya. Ryan begitu antusias untuk mendekati Cahaya lewat perbuatan baiknya. Apakah Aya akan mudah luluh dan mencintai Ryan? Secara, pesona wajah dan tubuh Ryan begitu memikat semua wanita yang melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN