Tercekik

1551 Kata
Tak terasa sudah hampir satu bulan Aya masih berada di Indonesia. Meski kakinya sudah membaik tetapi dia malah tidak disuruh pulang oleh si Bos yang mempunyai dendam pribadi dengannya. Si Bos yang telah memberikan tugas ini padanya, berjanji akan datang mengunjungi dia jika ada berita yang lebih besar lagi. "Maxim b*****t!" gumam rendah si cantik ini. "Sabarlah Aira mungkin bulan depan dia baru akan mengunjungimu." "Bulan depan katamu, sedangkan aku sudah lelah, ya Tuhan aku ingin membantainya saat ini juga!" geram Aya lewat sambungan telepon dengan sahabatnya. Wajahnya yang putih bersinar sebelumnya, sekarang mendadak menjadi sedikit kecoklatan. Karena cuaca panas yang ekstrem dan pekerjaannya diluar ruangan membuatnya terus berinteraksi dengan teriknya sinar mentari. Tenda-tenda yang dulunya sebagai tempat penyelamatan sudah dikemaskan. Para pasien yang masih harus melakukan perawatan dipindahkan ke rumah sakit. Sedangkan dia yang sudah sembuh kini menginap di sebuah hotel yang jaraknya tidak jauh dari kota. "Sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi," ucapnya seraya tersenyum pada seorang pria yang kini berjalan mendekat padanya. "Kau sibuk?" tanya si pria yang kini langsung merengkuh tubuhnya, mencium pipi Aya dengan sayang, menggesekkan tulang hidungnya dibalik tengkuk Aya yang jenjang. "Tidak, kau mau pulang ke kotamu?" ucap Aya lirih disertai dengan erangan rendah ketika sang pria mulai, mengecupi bagian tengkuk dan bahu telanjangnya. Semakin mempererat pelukannya. Aya menggunakan dress yang kerahnya melebar sampai ke bahu, sehingga mengekspos jelas kulit bahunya yang putih seperti s**u. "Jika aku pulang maka aku diharuskan melamar kekasihku, apa kau mau kehilanganku, " tanya Ryan sembari mengecup bibir merah delima Aya yang sekarang menjadi candunya. Aya terkekeh pelan, mengalungkan lengannya di leher tegap si pria sembari berbisik, "Tentu tidak, bukannya kau berjanji ingin memutuskannya. Aku tagih janjimu itu sekarang, Kapten Ryan." Ryan, telah berhasil memikat Aya untuk menjadi kekasihnya. Selama satu bulan yang lalu, pendekatan yang dia lakukan berhasil sempurna. Aya jatuh dalam pelukannya karena sikap baik dan romantis Ryan membuat Aya nyaman untuk meminta pertolongan. "Dalam proses sayang, apa tidak bisa kita--" Tangannya yang berkelana menyusuri tubuh Cahaya dari bawah segera ditepiskan. Padahal nafsunya untuk menikmati tubuh Cahaya sejak dari kemarin telah membumbung tinggi. Cahaya sangat pandai untuk melepaskan diri dari jeratan asmara Ryan yang hangat dan penuh perhatian. Perhatian, untuk menghancurkan Aya sehancur-hancurnya. "Tidak bisa sayang, aku masih perawan suci yang tak ternoda. Jika kau menikahi kekasihmu, lalu aku yang bekas kau pakai harus bagaimana?" ucap Aya yang kini ditanggapi kekehan pelan dari Ryan. Aya melepaskan pelukannya dari Ryan, meninggalkan balkon yang mulai terasa panas. Sinar matahari sore menyengat terasa membakar kulitnya. Aya berjalan masuk kembali ke dalam kamar dan merebahkan diri ke atas ranjang. "Aku bisa langsung memutuskannya, tetapi tidak mungkin tanpa masalah sayang. Setidaknya dia berbuat kesalahan dan aku akan mengaitkannya dengan hal lain, agar terlihat sempurna bahwa dia salah dan dia tidak bisa menghakimi aku yang telah menduakan cintanya," ucap Ryan mencoba memberi pengertian pada Aya yang kini tengah berbaring tengkurap di atas ranjang menonton televisi. "Sabar ya," lanjut Ryan lagi sembari membelai kepala Aya dengan lembut. "Ya, aku akan sabar menunggu hingga aku pulang ke Swedia dan hubungan kita berakhir!" tegas Aya lalu bangun, menepiskan kembali tangan Ryan. Berusaha menghindari Ryan kembali tetapi malah berakhir di atas pangkuan pria gagah ini. "Kau!" kesal Aya yang memukul d**a Ryan dengan keras. Kedua pergelangan tangannya dikunci oleh genggaman tangan Ryan. Menghentikan pukulan keras itu yang cukup membuat sakit dadanya. "Kenapa kau jadi agresif seperti ini sayang?" tanya Ryan dan dalam hati Aya menjawab, "Karena aku tahu, bahwa kau adalah anak dari seorang wanita yang membuat ibuku keguguran dan hampir meninggal lalu menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan hingga sekarang, terlebih adikku telah ternoda oleh abangmu! Aku akan membalasmu Ryan dengan cinta ini. " Aya mendapat telepon dari adiknya yang bernama Bayu kemarin malam yang mengatakan bahwa, "Kak, Luna bilang kau bersama seorang Pilot tampan yang bernama Ryan di sana, apa kau tahu dia siapa?" Aya sebenarnya tak begitu mempersalahkan siapa Ryan, dia sudah terpikat sejak pertama si Kapten tampan itu mencium bibirnya. Namun rasa kesal kerap datang jika mengingat dia harus terjebak di Indonesia dan tidak dibangunkan saat tertidur di pesawat ketika pesawat landing pertama di Jepang, tujuan utamanya. Karena perbuatan Ryan yang tulus membantunya akhirnya sifat Aya melunak dan mulai berusaha membuka diri, menjalin hubungan dengan seorang pria kekasih orang lain. "Memangnya siapa dia?" "Dia adiknya Raja yang sudah menculik dan memperkosa Luna, kak. Dan ibunya yang menyebabkan mama kita menjadi Demensia akut dan adik kita meninggal." Adik bungsunya yang bernama Luna menderita trauma sedang. Karena penculikan yang dilakukan oleh orang suruhan Raja, yang tak lain adalah abang dari Ryan. Sang adik yang sekarang berada di penjara karena kasus kekerasan pada pers, mengalami sedikit gangguan psikis ketika berada di dalam sel. Dia takut gelap dan takut dengan keramaian, padahal sang adik adalah seorang artis yang sudah biasa menjadi bintang di atas panggung dengan ribuan penonton. "Bukankah rasa cinta itu memang harus menggebu Capt, wajar tidak, jika aku meminta lebih cepat karena, itu lebih baik." Mata Ryan berbinar terang, dalam otaknya sudah tersusun rapi apa yang akan dia lakukan. "Lebih cepat memang lebih baik, sayang. Kau tidak sabaran. Jika aku mendapatkanmu nanti, jangan harap kau bisa bangun dari tempat tidur, " ucapnya, ditutup dengan jalinan bibir yang menyatu, memagut pelan dan berakhir serakah, saling ingin membalas dan menguasai, penuh hasrat liar yang membara. *** Makan malam romantis bukan hal asing bagi mereka berdua karena saat tragedi bencana itu. Keduanya sudah terbiasa makan di dalam remang cahaya. Karena saat itu jaringan listrik masih belum stabil. Mereka memilih makan malam di cafe dekat hotel mereka yang konsep pencahayaannya sedikit minim. Banyak para pasangan yang duduk sembari menatap satu sama lain dan kedua tangan yang terjalin. "Kapan kau akan terbang lagi?" tanya Aya pada sang kekasih yang terus memperhatikannya. "Mungkin pertengahan bulan depan, kenapa, kau mau ikut untuk meliput penerbanganku?" jawab Ryan sembari mengecup punggung tangan Aya. Ryan terlihat sangat romantis, namun sebenarnya Aya bukanlah orang yang suka dimanjakan seperti ini. Demi balas dendam, dia menahan jengah ketika bibir seksi Ryan menyentuh setiap inci kulit tubuhnya. "Aku masih harus di sini menunggu kekasihku menjemputku," jawab Aya dengan santai. Dia ingin melihat perubahan apa yang Ryan tunjukkan. "Excuse me, kau punya kekasih?" tanya Ryan sedikit keheranan. Ada rasa kesal yang tiba-tiba hadir ketika tahu jika Aya punya kekasih. 'Kenapa aku jadi tidak rela, ayolah Ryan, kita hanya bermain.' "Memangnya kau pernah bertanya aku punya kekasih atau tidak dan hubungan kita, apa ini namanya, tidak ada bukan. Kau tidak mengatakan bahwa 'ayo kita pacaran' tetapi kau langsung mendekati aku, dan memanggilku 'sayang'. Kita hanya saling ... bermain just keep in easy," ucap Aya sembari tersenyum. Kening Ryan kembali berkerut, kenapa pemikirannya sama dengan Aya kalau mereka sedang bermain. Apakah Aya tidak sungguh-sungguh mencintai dia. "Egrhem, membayangkanmu disentuh olehnya, itu membuat jiwaku terbakar, sayang," tukasnya dengan nada kecewa dan sesuai dengan perasaannya dari lubuk hati yang terdalam. Aya tertawa, "Memangnya kau saja yang berpikir seperti itu. Kau bahkan lebih parah. Apa kau tidak berpikir bagaiamana hancurnya hatiku ketika mungkin, kau ... bercinta dengannya saat kau pulang ke kotamu kemarin," ucap Cahaya dengan setengah hati. Terasa sesak dadanya melihat ekpresi Ryan yang tak mampu menjawab, dan artinya itu benar. Ryan meneguk liurnya dengan susah payah. Itu memang terjadi meski tidak sepenuh hati. Dia ingin melakukan pada musuhnya saat ini, tetapi dia tidak bisa memaksa. Dia ingin sesuatu yang manis yang berkesan dan tak terlupakan. Bukan sesuatu yang menjengkelkan malah bisa dilupakan begitu mudah. "Ya, aku menggilainya, hingga dia tidak mampu berdiri." "Damn!" Aya mengumpat, kedua tangannya mengepal erat dia atas paha. Aya membuang wajahnya ke samping, kemudian Ryan menarik dagunya agar menatapnya kembali. "Lihat aku. Itu karena aku membayangkanmu, aku menginginkanmu hingga aku menyalurkan itu padanya. Kau tidak ingin aku sentuh, aku hormati keputusanmu, karena aku ... mencintaimu, sayang. " 'Mencintaimu, aku sungguh mencintaimu Cahaya sehingga dendam ini terasa berat untuk aku lakukan' lanjutnya dalam hati. Matanya menatap Cahaya penuh kesungguhan. Untaian kata romantis selalu diucapkan dari mulut manis Ryan hingga Cahaya kembali tersenyum untuknya. Pukul 10 malam mereka kembali ke hotel. Kamar mereka tidak berjauhan, bersebelahan. Sebelum keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing. Belaian dan sentuhan kasih sayang terjalin lagi di depan kamar. Ryan tidak bisa memungkiri bahwa yang diinginkan dia hanya Cahaya, cinta pertamanya, yang akan dia sakiti. "Good night babe, love you much," ucap Ryan terengah setelah melepaskan pagutan bibirnya yang begitu dalam pada Cahaya. Tatapan teduhnya mengekspresikan cintanya yang begitu besar, belain ibu jarinya yang menyapu bibir bawah Cahaya begitu dinikmati Aya dengan mata terpejam. "Mmm, slept well, my capt." Cahaya masuk ke kamar setelah mengucapkan perpisahan dan langsung menuju masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower untuk mengguyur seluruh tubuhnya yang terasa panas karena Ryan. "Ayolah Aya, buang rasa itu. Oh ya Tuhan, aku ingin sekali melihatkan dia jika aku bercinta dengan Maxim!" gumamnya rendah sembari menjambak rambutnya. Menikmati dinginnnya air yang membasuh kulit mulusnya. Sedikit menggigil namun dia tahan karena kesal. Rupanya sedari tadi Aya menyimpan rasa cemburu terhadap Ryan yang menyentuh tubuh wanita lain selain dia. Cahaya keluar dari kamar mandi dengan tubuh menggigil, masuk ke dalam selimut tebal dan langsung terlelap. Beberapa jam berlalu, lelapnya tidur Cahaya mendadak gelisah. "Emm, mmmm, mmmmmmmmm!" Tubuh Cahaya berontak, kedua tangannya memegang lehernya. Sampai akhirnya dia terbangun, napasnya terengah-engah, memegang lehernya yang terasa tercekik, kuat, dia hampir kehabisan napas. "Apa yang terjadi, Ya Tuhan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN