Pagi harinya, Ryan terbangun dan langsung menelepon seseorang untuk mengetahui hasilnya. "Sudah kau kerjakan apa yang aku mau?"
"Sudah Pak, apa dia tidak ada respon?" tanya orang di seberang sana. Ryan merasa aneh, kenapa bisa tidak ada respon seperti wanita pada umumnya. Ryan bahkan menunggu, tidur tidak nyenyak.
"Kau hanya menakutinya saja kan, bukan menghabisi nyawanya."
"Tidak Pak, hanya mencekik dan saya yakin dia tetap baik-baik saja sekarang."
Ryan mengakhiri panggilan telepon dan bergegas keluar kamar untuk mengecek keadaan targetnya. Mengetuk pintu sebelah beberapa kali hingga pintu dibuka oleh Cahaya.
"Hai, selamat pagi... aku belum mandi," ucap Cahaya sembari menguap. Dirinya masih ingin tidur karena semalam tidak bisa tidur nyenyak.
"Aku juga belum dan aku khawatir denganmu saat aku bangun tidur tadi."
Cahaya duduk di atas tempat tidur dengan suasana lampu yang masih terang benderang untuk merekam aksi kejahatan yang terjadi padanya. Apakah ulah seseorang yang bersembunyi di kamarnya atau makhluk ghaib.
"Aku masih ngantuk, hari ini jadwalku akan ke arah Selatan. Katanya disana ada desa terpencil yang unik dan jarang dikunjungi," kata Cahaya tanpa mengulas apa yang terjadi padanya. Mata Ryan menelisik keseluruhan kamar ini.
"Kenapa kau menggunakan banyak lampu saat tidur, apa tidak silau?" tanya Ryan memancing, namun Cahaya tak juga melihatkan kegelisahan atau ketakutan pada dirinya.
"Aku mimpi buruk, ya sudahlah jangan diungkit," ucapnya sembari mengibaskan tangan merasa tidak begitu penting untuk dibahas.
"Mimpi apa, kenapa kau tidak lari ke kamarku?"
Cahaya terkekeh melihat kepanikan Ryan, "Aku bisa mengatasinya."
Dalam batin Ryan menjawab, "Kau tidak akan bisa mengatasi apa yang ada di luar nalarmu Cahaya!"
"Oh ya, aku ya, jagain kamu," ucap Ryan sembari memeluk erat tubuh Cahaya. Matanya memindai area leher Cahaya yang memar lalu mengecupnya.
"Ini leher kenapa biru, sayang?" tanya Ryan terkejut. Aya memperlihatkan tanda biru lain di sekujur tubuhnya.
"Eum, inilah peristiwa aneh yang aku alami semalam. Aku tercekik hampir mati, tetapi pelakunya tidak ada, aneh bukan dan beberapa bagian tubuhku memar," jelas Aya jujur.
" Kenapa kau tidak lari ke kamarku, jika ada sesuatu yang tidak baik, harusnya kau meminta bantuanku," ucap Ryan basa-basi. Menangkup wajah kusut Cahaya dan menciumi wajahnya.
"Aku mencintaimu Cahaya, tolong hargai nyawamu--"
"Hingga kau gila dan mati sendiri, " sambungnya dalam hati. Ryan begitu optimis untuk menghancurkan Cahaya meski dalam batinnya berperang untuk tidak melakukan kejahatan pada orang yang dia cintai.
Tangan Cahaya bergelanyut mesra di leher Ryan. Bibir keduanya saling memagut, saling berbalas. Keintiman yang mereka lakukan sangat menyiksa diri Ryan.
"Wanita jenis apa kau, Cahaya"
Ryan tidak menyangka bahwa Cahaya adalah orang yang tangguh untuk bisa mengatasi kesulitan yang dia hadapi seorang diri. Dan kelak, Ryan akan meningkatkan risiko apa yang akan dihadapi oleh Cahaya selanjutnya.
***
Semua pakaian sudah dikemas Cahaya ke dalam tas ransel miliknya. Seperti turis yang akan berkelana ke dalam hutan. Tidak ada keanggunan dalam diri Cahaya. Sepatu kets celana panjang, baju kaos dan rambut yang diikat ekor kuda. Sehabis makan siang, mereka mulai berkelana menuju tempat tersebut.
"Berapa jam kita akan sampai di sana?" tanya Cahaya. Kepalanya menengadah ke atas melihat langit yang mulai menggelap di satu sisi.
"Mungkin sekitar satu jam lagi. Kita berada di dalam mobil sayang, kalau hujan pun tidak masalah" jawab Ryan sembari mengedipkan mata.
Ryan duduk dibangku depan samping driver. Lebih mudah baginya untuk berkomunikasi dengan orang suruhannya yang akan menteror Cahaya selama di tempat yang terkena musibah longsor tersebut.
Melewati jalan yang berkelok di kiri dan kanannya hutan belantara berbukit-bukit. Mata indah Cahaya tak lepas memantau sekitar. Langit mulai gelap keseluruhan. Rintik hujan turun perlahan, angin pun menderu kencang dan limpahan air hujan yang turun dari langit tumpah ruah tak terkira.
Mobil dikendarai lebih pelan karena jalanan yang terkena air hujan pasti licin. Mata Cahaya terpejam, dia terlelap sejenak karena lelah. Ketika matanya terbuka, dia tidak lagi berada di dalam mobil, namun di atas gendongan kedua tangan Ryan yang kekar menuju penginapan.
"Kamu lelah?" tanya Ryan sembari terkekeh.
"Ya," jawab Cahaya, kepalanya menyusup di d**a bidang Ryan yang terbuka. Aroma tubuh Ryan yang maskulin menenangkan dirinya.
"Lama-lama aku bisa jatuh cinta benaran padanya, ah sial! Tidak boleh Cahaya, dia anak seorang pembunuh dan pengkhianat!"
Ryan menurunkan Cahaya di depan pintu kamar dan langsung membuka pintu, "Ayo masuk," ajaknya sembari menggandeng tangan Cahaya. Genggaman tangan Ryan yang besar dan hangat sangat menenangkan bagi Cahaya. Gejolak cinta ingin berontak lepas dari kemarahan dan dendam yang membeku di jiwanya tetap berusaha diredam kembali.
"Ini kamarku, dimana kamarmu?" tanya Cahaya.
Ryan melihatkan tempat tidur yang besar dan lebar serta sofa bed yang juga besar. "Kita satu kamar sayang, aku akan menjagamu dari mimpi burukmu," ucap Ryan sembari membelai wajah cantik Cahaya.
Tatapan matanya begitu teduh dan syahdu. Cahaya mencium pipinya sembari mengucapkan terimakasih. Perlakuan Ryan yang hangat penuh dengan cinta, tak akan pernah terdeteksi keburukannya oleh Cahaya.
Ryan sudah merangkai rencana jahat yang akan membuat Cahaya lebih terpuruk bahkan bisa menyebabkan kematian jika salah prediksi.
"Aku mau mandi dulu, kau mau ikut?" tawar Ryan. Cahaya menggeleng, "Aku mau mandi hujan," jawabnya. Seketika dia membuka kaos dan celananya. Hanya menggunakan bra dan celana dalam tipis, Cahaya berlari ke teras belakang yang mana hujan turun semakin lebat. Dia menikmati guyuran air yang turun dari langit dan tak lama kemudian, Ryan ikut bergabung dengannya. Tertawa dan berdansa, saling memeluk dan kembali berciuman.
Ryan benar-benar harus ekstra sabar menghadapi Cahaya yang terlalu mempesona. Tubuh indah Cahaya yang basah membuatnya meneguk saliva berulang kali. Pakaian dalam itu tembus pandang.
"Susahnya menjadi pria baik-baik," ucapnya dalam hati. Dulu, saat dia masih menantikan Cahaya, Ryan tidak berpikir untuk melakukan hal yang menyimpang seperti rekan kerjanya yang senior.
Ketika berusaha melupakan Cahaya dan menjalin hubungan dengan Inneke, petualangan cinta untuk mengenal organ dalam dimulai. Meski tidak mencintai Inneke, namun wajah cantik Inneke bisa membuatnya berkeinginan untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya.
Bersama Cahaya, dia tidak bisa melakukan itu karena misi menjadi pria baik-baik tanpa arogansi.
"Ayo mandi bersama," ajak Cahaya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Cahaya berdiri di bawah guyuran shower yang hangat, masih dengan pakaian dalamnya. Ryan yang ingin masuk, terhenti dan berbalik badan, sembari menjambak rambutnya, tidak jadi masuk.
"Fokus, aku tidak boleh terpana, tidak!" gumamnya rendah.
Ryan menunggu, hingga Cahaya keluar. Tak lama kemudian Cahaya berbalut handuk berjalan mendekatinya. "Mandilah, segar. Kenapa tidak mau bergabung, padahal kita hanya mandi saja," katanya tanpa rasa bersalah.
"Ya hanya mandi dan pertunjukan tubuhmu menyiksa aliran otakku," jawab ketus Ryan dan berlalu.
Cahaya tertawa lebar dan mendorong cepat tubuh Ryan yang malas-malasan untuk disuruh mandi. Saat Ryan masuk kamar mandi. Inneke meneleponnya, Cahaya membalikkan ponsel tersebut agar suara deringnya tak terdengar nyaring.
Setelah berapa lama, Ryan keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Cahaya menggunakan celana pendek dan tank top. Meski diluar hujan tetapi udara masih terasa gerah bagi Cahaya.
"Segar kan?"
"Lumayan kamu gak kedinginan?" tanya Ryan dan Cahaya menggeleng. Suhu tubuhnya bahkan lebih hangat dari biasanya.
"Orang Swedia memang begitu ya?" tanya Ryan sembari memasang celana dan baju kaosnya. Ryan menggunakan celana pendek dan baju kaos longgar. Melompat ke atas ranjang dan langsung menindih tubuh Cahaya yang sibuk dengan ponselnya.
"Aku atau media sosial?"
"Aku sedang mengirim laporan gambar ke redaksi, kenapa kau menggangguku, minggir, kembalikan hpku!"
Rebutan HP saling menindih secara bergantian membuat suasana menjadi riuh dengan gelak tawa mereka berdua. Sesekali Cahaya menjerit kesal karena perlakuan Ryan yang selalu jahil menghisap kulitnya.
Lelah bercanda dan bergurau, Cahaya terlelap dalam pelukkan Ryan yang hangat. Perlahan Ryan melepaskan tangannya dan mengubah posisi Cahaya menjadi tidur terlentang.
Ryan bangun dan langsung menelpon seseorang, sedikit terkejut ketika melihat 100 notifikasi chat dari Inneke yang sedang marah dan panggilan lebih dari 5 kali.
"Lakukan sekarang!" perintah Ryan pada orang yang dia telepon.
"Baik Pak."
Ryan keluar kamar untuk memesan makanan karena mereka belum makan, selain itu sebagai alasan bahwa dia tidak tahu menahu jika ada sesuatu yang akan terjadi. Apa yang akan terjadi lagi dengan Cahaya?