“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya. Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri. Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya ." ― Pramoedya Ananta Toer
= = = = = = = = = = = = = = = =
January, 2012
Sudah satu jam Yeollane Giovelle duduk diruangan ayahnya. Dan selama itu pula gadis bermata cokelat itu tak henti-hentinya mengerutkan kening pada berlembar-lembar kertas yang berada ditangannya. Sementara ayahnya hanya memperhatikan putri bungsunya yang terus memasang wajah aneh, seolah ia tak pernah membaca dokumen seperti itu.
“Apa ini ?” Yeollane mengacungkan berkas-berkas yang ada ditangannya.
“Seperti biasa, sayang…” Casey tersenyum.
“Dad…”
“Yeol, kumohon. Jangan mulai lagi, okay ?”
Yeollane menghela nafas panjang. “Tapi Dad, aku tak bisa melakukannya…”
“Kau bisa sayang. Kau bisa. Bukankah kau terbiasa melakukannya, hmmm…?” pria paruh baya berambut emas itu bangkit dari kursinya.
“Tidak, Dad. Aku tidak bisa melakukan ini lagi… Bukankah sudah aku katakan bahwa aku ingin berhenti ?” Yeollane menatap iba pada ayahnya.
“Kenapa ?” Casey mengerutkan keningnya.
“Aku… Aku tidak ingin menjadi monster. Aku ingin hidup normal seperti anak gadis seusiaku”
“Kau bukan monster, sayang… Ini hanyalah sebuah pekerjaan.” Pria itu menghampiri Yeollane.
“Tidak lagi, Dad. Kau punya banyak harta benda peninggalan kakek. Casino, hotel, penginapan, tempat pariwisata, itu pun belum termasuk usaha ilegal lainnya. Apalagi yang kurang ?” Yeollane beranjak dari tempatnya.
“Apa susahnya menurut, Yeol ? Bukankah biasanya kau bisa melakukannya ? Kenapa tiba-tiba ingin berhenti ? Dennis dan Jesslyn baik-baik saja dengan tugas mereka.” jawab Casey.
“Terserah. Aku tidak akan membunuh lagi, Dad.” Tegas Yeollane.
Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Casey yang masih duduk diruangannya. Sepeninggal Yeollane, lelaki itu teringat pada seseorang. Seorang yang pernah merebut hatinya. Bahkan sampai sekarang Casey masih ingat betapa ia mencintai wanita itu.
“Dia mirip denganmu, Lyn. Yeollane mewarisi sifat keras kepalammu.” Gumam Casey.
Tak lama kemudian Casey menyusul Yeollane keruang tengah. Dilihatnya gadis itu tengah duduk sambil membaca majalah. Sementara berkas-berkas dan dokumen yang tadi Casey berikan tak di indahkannya.
“Kau tidak membacanya, hmm…?” tanya Casey sambil membuka kembali dokumennya.
“Aku sudah bilang kan’? Aku tidak mau membunuh lagi, Dad.” Jawab Yeollane kekeuh.
“Ini perintah, bukan permintaan, Yeol.” Casey mulai kehilangan kesabarannya.
Yeollane mendelik, “Kenapa Daddy tidak meminta pada Dennis atau Jesslyn untuk melakukannya ? Mereka bersedia melakukannya kan’?”
“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Dad. Kau kaya. Kau punya segalanya. Tapi masih ingin membunuh hanya untuk uang.” Lanjut Yeollane.
“Berhenti bicara begitu.”
“Aku bahkan yakin aku akan lebih menyukainya kalau saja aku bukan putrimu.” Tambah Yeollane.
“Oh, begitukah ? Jangan buat aku marah. Aku hanya ingin kau melakukan tugasmu.” Tegas Casey.
“Aku menyayangimu sebagai ayahku. Tapi aku akan lebih menghormatimu jika kau bukan pembunuh yang meminta putrinya untuk jadi pembunuh!” teriak Yeollane.
“Diam!” Casey mengayunkan tangannya cepat dan memukul Yeollane.
Yeollane memegangi pipinya yang mulai panas, “Seorang ayah yang baik tidak akan meminta putrinya melakukan hal yang tidak baik.”
Casey mendorong putrinya hingga terpojok. Pria itu kemudian mencekik nadi leher Yeollane hingga gadis itu sulit untuk berbicara.
“Apa kau menyesal, Yeol ?” tanya Casey.
“Apa kau menyesal mengatakan ucapan menyakitkan seperti itu ?”
“Ti… Tidak. A… Aku ti…dak pernah me… menyesal.” Yeollane terengah.
Dengan tatapan marah Casey mencekik putrinya lebih kuat. Gadis itu menatap sayu ayahnya. Dengan perlahan ia melemaskan persendian kakinya. Membuat tubuh mungilnya kehilangan pijakan. Tapi, ketika pria itu menyadari pergerakan tubuh Yeollane dan melihat wajah Yeollane yang hampir kehabisan nafas, ia mengalihkan pandangannya. Menghirup oksigen sebanyak yang diperlukannya, lalu perlahan melepaskan cekikannya pada putri bungsunya.
“Maaf, Yeol…” sahutnya penuh penyesalan.
“Maaf, tidak seharusnya kau dan aku melakukan ini…” ia terhenti.
“Lakukan saja tugasmu. Kau pasti tahu bahwa aku sangat menyayangimu, bahkan melebihi rasa sayangku pada Dennis dan Jessie. Lagi pula aku tidak ingin membunuh putriku sendiri hanya karena masalah seperti ini…” pria itu menyisir rambutnya dengan jemarinya lalu cepat-cepat pergi meninggalkan Yeollane.
“B… Mppphhhh…” tiba-tiba saja ada tangan kekar yang menyekap mulut Yeollane hingga gadis itu tak dapat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
“Jangan mengatakan kata-kata seperti itu…”
Yeollane menoleh, “Dennis ?” panggil Yeollane terkejut.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu pun menatap Yeollane lalu menunjuknya tepat di dahi. “Kau harus tahu batasanmu, Yeol.” Ucapnya penuh penekanan.
“Apa kau tahu kalau kau sudah membuat Dad marah besar ?” pemuda itu menatap Yeollane .
Yeollane menatap langsung pada mata biru Dennis. “Aku tahu, Dennis. Tapi…”
“Apa ?” Dennis memotong.
“Kau tidak bisa mengatakan hal seenaknya jika Dad sedang marah.” Lanjut pemuda tampan itu.
“Memangnya kau tahu apa yang akan ku katakan tadi ?”
“Bunuh saja aku. Itu kan’ yang ingin kau katakan ?” Dennis menarik nafas,
“Kalau aku tidak tahu, tidak mungkin aku menyekapmu…” lanjutnya.
Kali ini Dennis mengambil nafas yang cukup panjang lalu menatap intens pada mata cokelat adiknya.
“Aku mengerti apa yang kau rasakan, Yeol… Tapi jangan menentang Dad lagi. Terlebih sampai seperti tadi. Kalau saja Dad tidak ingat bahwa kau putri kesayangannya, aku yakin kau sudah mati atau sedang dibawa keruang kesehatan.” Ucap Dennis panjang lebar.
“Tidak. Kau tidak mengerti apa yang kurasakan, Dennis.”
“Aku tahu perasaanmu, Yeol. Apa aku harus mengulanginya lagi ? Kau tidak boleh lupa bahwa aku pernah meraih gelar master dibidang psikologi.
“Aku tahu. Tapi aku punya keinginan, Dennis…”
“Apapun keinginanmu, kau harus belajar untuk menahannya, menyembunyikannya dan menghilangkannya. Kurasa kau sudah tahu itu kan ?”
“Mm…”
“Sepertinya kau tak puas ?” tanya Dennis lagi.
“Mmmm…”
“Yeollane, kau harus mengerti, bahwa didalam hidupmu tak semua hal yang kau inginkan akan kau dapatkan. Dan bukan berarti hal yang tak bisa kau dapatkan juga tidak bisa kau rasakan selamanya. Apa kau mengerti ?”
“Aku hanya ingin kehidupan normal seperti gadis-gadis lain, tanpa harus membunuh…” Yeollane menundukan kepalanya, membuat sinar matanya redup.
“Dengarkan aku. Meskipun kau tidak memiliki kehidupan yang sama dengan gadis normal lainnya, bukan berarti kau tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan…” Dennis terhenti.
“Bukankah kau masih bisa berbelanja, belajar, bermain, atau berkencan seperti gadis normal lainnya ?”
“Tapi aku berbeda…” Yeollane menghindari tatapan Dennis.
“Tak ada yang berdeda, Yeol. Hanya dirimu yang merasa begitu.” Dennis memegang pundak adiknya.
“Meskipun kau mengatakan tak ada yang berbeda, tapi tetap saja pada kenyataannya kami berbeda.”
“Dan tak akan ada yang mau berteman dengan gadis pembunuh …” lanjut Yeollane.
Dennis menghela nafas, “Apa salahnya kalau kita adalah keluarga pembunuh, Yeol ?”
“Lagi pula ini hanyalah pekerjaan sampingan, kan ? Kau, aku, dan Jesslyn masih bisa hidup dengan normal diluar pekerjaan ini. Benar, kan ?”
Yeollane menghempaskan tangan Dennis. Gadis itu berbalik dan memalingkan wajahnya dari Dennis.
“Yang kau katakan tadi adalah, kita berpura-pura hidup normal. Bukan kita masih bisa hidup normal. Karena pada kenyataannya toh kita tetap keluarga pembunuh yang memilki kehidupan abnormal…” sahut Yeollane kesal.
Plakk…
Dennis mengayunkan tangannya dan memukul Yeollane. Mata biru pria itu membesar dan nafasnya terengah-engah, menahan gejolak emosi dalam dadanya.
“Jangan sekali-kali lagi berbicara seperti itu, Yeollane!” Dennis meninggikan suaranya.
“Kenapa ? Lagi pula persoalanku bukan hanya tentang kehidupan abnormal dikeluarga ini, tapi juga tentang kita. Kau, aku, dan Jesslyn.” Yeollane memegangi pipinya.
“Apa maksudmu ?”
“Apa selama ini kau tidak menyadarinya ? Terdapat perbedaan yang sangat jelas diantara kita, Dennis…”
“Apa ?”
“Aku yakin sebagai seseorang yang pernah meraih gelar master psikologi, kau pasti tahu maksudku..” Yeollane menarik nafas.
“Kenapa ? kita berbeda karena kau seperti Mom, sementara aku dan Jesslyn seperti Dad. Dan aku yakin kau tidak mungkin tidak pernah melihat foto Mom, kan ?” balas Dennis sengit.
“Kau tahu, bahwa Mom adalah keturunan asli Mongol. Rambutnya hitam dan bola matanya cokelat. Tidak ada yang salah, Yeol…”
“Aku yakin ada yang salah! Sejak awal, sejak pertama kalinya aku memulai tugasku, aku merasa semua hal dikeluarga ini tidak benar, dan aku yakin bahwa kau juga sudah mengetahuinya Dennis!” Yeollane berteriak.
Plakk…
Yeollane mematung ditempatnya. Air mata perlahan turun membasahi pipinya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa ia baru saja mendapat pukulan yang kedua dari kakaknya. Dennis juga hanya berdiri disana dengan mata membesar.
“Maaf.” Dennis mematung ditempatnya.
“Maafkan aku…” lelaki itu memeluk Yeollane.
“Kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu, juga Jesslyn. Kalian berdua adalah adik yang paling berharga untukku. Jadi, berjanjilah padaku… Jangan pernah mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu…”
Yeollane tidak menjawab. Gadis itu hanya diam dalam tangisnya.
“Ingatlah apa yang ku katakan padamu.” Dennis melepaskan pelukannya.
“Meskipun kita berbeda, meskipun tak ada satupun persamaan diantara kita, yang terpenting adalah kita lahir dari wanita yang sama, dari rahim yang sama. Selain itu, didalam nadimu terdapat darah yang sama denganku dan Jesslyn. Jadi jangan bertindak bodoh…”
Yeollane menatap Dennis lekat-lekat. “Lalu, bagaimana jika aku benar-benar bukan adikmu ?”
“Itu tidak mungkin. Sejak kau pertama kali melihat dunia ini, kau sudah menjadi adikku, jadi sampai kapanpun kau akan tetap menjadi adikku…”
Yeollane melebarkan matanya. “Dennis…”
“Apa pun yang terjadi, kau tetap adikku. Mengerti ?”
Yeollane mengangguk.
“Jangan melakukan hal bodoh lagi. Dan mulai sekarang, hiduplah sebagai dirimu sendiri. Meskipun kau belum bisa lepas dari tanggung jawab pekerjaan ini, tapi jangan sampai hanya karena keinginanmu yang tak akan tercapai itu kau menjadi lemah dan menyia-nyiakan masa mudamu…”
“Aku menyayangimu, Dennis…” Yeollane mempererat pelukannya.
“Ya, aku juga…”
***
Berries, Hari ini aku post 3 chapter pertama, untuk selanjutnya mungkin 3-4 hari sekali ya, soalnya aku juga harus tunggu kontrak turun, terus naskahnya masih dalam proses edit2 biar rapi. Sementara itu, jangan lupa tap LOVE ya, kalian baik deh, hehehe. Happy week end.