“Saya sudah tahu -- semenjak semula -- bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.”
― Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung
= = = = = = = = = = = = = = =
Yeollane memasuki kamarnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang berukuran bersar itu. Ia tersenyum miris pada dirinya sendiri.
“Aku punya mimpi yang tak akan pernah bisa ku wujudkan. Kira-kira dengan siapa aku akan bermimpi…?” batin Yeollane.
Yeollane memejamkan matanya. Kemudian, secara perlahan bayang-bayang masa lalunya berputar dikepalanya. Kenangan itu berputar seperti roll film yang tak memiliki tombol pause.
. . . . .
“Dad, aku ingin memiliki banyak teman…” seorang gadis kecil berusia tiga tahun menghampiri ayahnya.
“Teman seperti apa yang ingin kau miliki, Yeol ?” tanya seorang pria paruh baya yang sedang menyeruput kopinya.
“Hmm… Kurasa aku ingin teman-teman yang menyenangkan.” Seru Yeol kecil gembira. “Aku ingin bermain boneka, menari, menyanyi, melompat tali, lalu minum secangkir teh dan makan biskuit sebelum kami pulang…” lanjut gadis itu sambil tersenyum lebar.
“Wah… wah… wah… itu artinya Daddy harus menyiapkan banyak kue dan permen.” Pria itu tersenyum lembut. “Tapi, apakah Yeol mau berbagi semua mainan yang Dad belikan untuk dimainkan bersama ?”
Kemudian gadis kecil itu terdiam, “Uh, apa aku harus berbagi dengan mainanku ?” tanyanya lagi.
“Tentu saja… Bukan hanya itu. Terkadang kau harus rela membagi kamarmu jika sewaktu-waktu mereka datang menginap atau sekedar tidur siang. Apa kau sanggup ?” ia menyentuh pucuk kepala putri kecilnya lalu bangkit dari sofa dan Yeol kecil mengikutinya.
“Kurasa aku bisa, Dad” jawab Yeol sambil mengikuti ayahnya.
Pria berambut emas itu kemudian berjalan hingga ke taman belakang. Ia menatap tajam pada seekor burung yang bertengger manis diatas ranting, lalu menangkapnya. Sementara itu, Yeol kecil hanya melihat apa yang dilakukan ayahnya. Ia tersenyum.
“Dad, berikan padaku… berikan padaku…!” seru Yeol.
Ayahnya tersenyum dan merendahkan tubuhnya didepan Yeol. “Kau lihat ? Burung ini begitu kecil, kan ?”. Yeol mengangguk.
“Apa kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sayang ?” Lalu pria itu mencengkram sedikit lebih keras burung kenari dalan genggamannya hingga makhluk kecil tak berdosa itu berkicau panik.
“Hahaha… burungnya berkicau, Dad. Terdengar sangat merdu.” Yeol membentangkan tangannya dan berlari mengelilingi ayahnya.
“Apa kau mau mencobanya, Yeol ?” Lagi-lagi pria paruh baya itu memberikan penawaran pada putri kecilnya.
Yeol menatap ayahnya dan berganti pada makhluk kecil yang berada di genggaman ayahnya. Gadis kecil itu lagi-lagi tersenyum. Kemudian ia melebarkan tangannya agar burung kecil itu bisa berpindah ke tangan mungilnya.
“Tubuhnya hangat…”
“Dia bergerak, Dad…” Yeol memejamkan matanya, merasakan gerakan makhluk kecil ditangannya itu.
“Tidak. Kurasa burung kecil ini gemetar…” sahut Yeol kemudian.
“Bagaimana perasaanmu ?”
“Ini menyenangkan, Dad…”
“Apa ini lebih menyenangkan daripada seorang teman ?”
“Entahlah…” Yeol kecil mengerucutkan bibirnya.
“Tapi aku masih ingin teman-teman…” lanjut Yeol.
“Itu tidak masalah, sayang…”
“Dia berkicau dan gemetar sekaligus, Dad…” seru Yeol tiba-tiba.
Pria itu kemudian berdiri. “Apa yang kau rasakan ketika tubuhmu gemetar, Yeol ?”
“Dan kapan biasanya tubuhmu gemetar ?” lanjutnya lagi.
Yeol kecil tampak berpikir, keningnya berkerut “Tubuhku akan bergetar ketika aku merasa takut…” ia terhenti.
“Dan aku akan merasa takut kalau…”
“Kalau…?”
“Kalau aku berada dalam bahaya besar…” Yeol semakin mengerutkan keninggnya.
“Kapan kau tahu bahwa bahaya itu adalah bahaya yang besar ?”
“Ketika aku merasa nyawaku terancam…” Yeol membesarkan matanya tiba-tiba. Sementara tangannya secara refleks menggenggam lebih erat burung kenari yang malang itu.
“Saat seseuatu yang berbahaya itu menuntutku untuk menyerahkan nyawaku…” lanjut Yeol sambil merpererat genggamannya pada makhluk kecil yang sejak tadi berkicau tak beraturan dan hampir kehabisan nafas.
Pria itu tersenyum dingin saat melihat mata cokelat Yeol yang ketakutan. “Nah, Yeol… Apa yang akan kau lakukan jika sesuatu yang tak kau ketahui itu menginginkan nyawamu ?”
“A… Aku…”
“Apa yang akan kau lakukan ?”
“A… A…Aku…”
“Yeol ?”
“Aku akan mengambil nyawanya lebih dulu!” Detik berikutnya Yeol kecil mengepalkan tangannya dengan sangat erat, membuat burung kenari dalam genggamannya mati seketika.
Beberapa detik kemudian Yeol melonggarkan kepalan tangannya lalu mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dan seketika itu juga bangkai seekor kenari kuning jatuh dari tangannya dengan tubuh remuk tak berbentuk. Kemudian Yeol menundukan kepalanya, melihat lebih jelas kearah bangkai makhluk kecil yang baru saja dibunuhnya.
“Apa kau menyesal, sayang ?”
“Tidak, Dad…”
“Benarkah ?”
“Ya. Aku tidak menyesal. Tidak sama sekali…” Yeol tersenyum manis.
“Lalu, apa kau masih menginginkan banyak teman ?”
“Kurasa itu juga tidak, Dad… Mereka pasti merepotkan, ya ?”
“Apa kau bersungguh-sungguh, sayang ?”
“Ya. Mulai sekarang aku tidak butuh teman…”
***
Hidup Yeollane Kedjam. Berries, kalian gak penasaran, gitu nantinnya bakal gimana. Gils, bayangin deh ini mereka 3 bersaudara pembunuh bayaran semua. Bapaknya mafia. Kalau kalian jadi Yeollane, bakal gimana?
Jangan lupa ya, kuy di TAP LOVE-nya, biar cerita ini masuk ke perpustakaan kalian. Jadi, setiap kali aku update, kalian kebagian notifikasinya. Kuy, kuy, tunggu apa lagi Berries!