“Tidak, yang mati tidak harus bisu. Energi mereka tetap hidup melalui berbagai cara, jalan dan sarana, terutama melalui kenangan dan mulut para nyawa yang lolos dari saringannya di Buru ini. Pada suatu kali mungkin ada yang mampu mencatatnya tanpa tangannya gemetar dan tanpa membasahi kertasnya.”
― Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1
= = = = = = = = = = = = = = =
Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap tengah menatap komputernya dengan serius. Lelaki itu tampak memijat keningnya yang terasa penat, dan sudah tak terhitung berapa kali ia menghela nafas. Dengan sabar pemuda itu terus menatap layar komputernya sambil mengulang sebuah rekaman CCTV yang entah sudah berapa kali diputarnya. Dalam rekaman yang hanya berdurasi kurang lebih satu menit itu tampak seorang kakek dihampiri oleh sesuatu yang tak kasat mata dan tiba-tiba saja ia berteriak histeris bersamaan dengan gambar yang tiba-tiba saja gelap, disusul dengan berhentinya rekaman tak lama setelah itu.
“Bagaimana, Jeremy ?” seorang pria paruh baya berdiri dibelakang Jeremy sambil menyesap kopinya.
Pemuda bernama Jeremy itu menggeleng, “Aku tidak bisa menemukan apapun, Sir.” Ucapnya frustasi.
“Hampir tiga jam aku duduk disini dan berkali-kali memutar rekaman CCTV itu, tapi tak satupun informasi yang kudapat selain gambar Mr.Hardwick yang tengah duduk tenang, lalu tiba-tiba ia berteriak dan video berakhir tiga detik setelahnya…” Keluh Jeremy.
“Apa kau sudah men-slow motion rekaman itu ?”
“Sebanyak aku memutar rekaman itu, Sir…” Jeremy menatap atasannya.
“Baiklah, kau bisa istirahat sekarang…”
“Terimakasih, Sir.” Jeremy membungkuk dan keluar dari ruangan.
Sepeninggal Jeremy, pria paruh baya itu tersenyum. “Pelaku yang tak terlihat, ya…” ia menghela nafas, kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Hello, Mr. Han ?” sapa pria tua itu.
“Mr. Thunder…” sahut suara disebrang.
“Bagaimana kabarmu ?”
“Langsung saja, Sir. Aku tahu pasti ada sesuatu yang setidaknya cukup penting.”
“Rupanya kau cukup mengenalku…” Mr. Thunder tertawa.
“Tentu saja…” terdengar tawa renyah yang sama dari sebrang.
“Aku berharap mendapatkan bantuanmu. Apa kau keberatan ?” pria paruh baya itu menyulut api di rokoknya.
“Tentu tidak. Bantuan seperti apa yang kau inginkan, Sir ?” tanya Mr. Han.
“Aku ingin kau memecahkan suatu kasus.”
“Apa itu ?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya lewat ponsel. Kalau kau ada waktu, kita bertemu di kantorku dan aku akan menjelaskannya disana.” Pria itu menaikan sebelah alisnya.
“Kapan ?”
“Waktunya kuserahkan padamu. Kau bisa menghubungiku jika sudah memiliki waktu luang…”
“Aku menebak, kasusnya penting dan rahasia ?”
“Kau benar…”
“Baiklah. Aku akan menelpon jika sudah menemukan waktu yang tepat.”
“Terimakasih…”
“Tidak masalah, Sir. Sampai jumpa…”
“Klik.” Sambungan terputus.
Mr. Thunder menyunggingkan senyumannya lagi, lalu pria itu menyeruput kopinya dalam diam.
“Jeremy…?” panggil Mr. Thunder.
“Ya, Sir ?”
“Kumpulkan lima… Tidak. Dua anggota CIA terbaik dan adakan persiapan rapat.”
“Hanya dua ? Kau yakin Mr.Thunder ? Untuk kasus sepenting ini ?”
Pria paruh baya itu mengangguk mantap. “Semakin banyak orang yang terlibat akan semakin sulit memecahkan kasus ini.”
“Bukankah akan semakin baik jika semakin banyak orang berbakat yang mengerjakan kasus ini, Sir ?” Jeremy mengerutkan keningnya.
“Untuk tipe kasus seperti ini, kita hanya membutuhkan sedikit orang yang benar-benar berbakat…” Mr. Thunder menghisap rokoknya.
“Tapi… Kenapa…?” Kerutan dikening Jeremy tampak semakin jelas.
“Semakin banyak orang yang kita pakai, akan semakin kecil persentase untuk memecahkan kasusnya, apa lagi untuk menangkap pelakunya…” pria paruh baya itu terhenti.
“Mungkin kau benar, dengan adanya banyak orang berbakat akan lebih mudah dan cepat untuk memecahkan kasusnya dan menangkap pelakunya. Tapi, jika terlalu banyak orang, si pelaku akan lebih waspada dan akan mempersiapkan banyak perangkap dan rencana yang justru akan menyulitkan kita untuk menemukannya…” jelasnya.
“Tapi lima bukan angka yang besar ‘kan ?” Jeremy tampak belum puas.
“Mungkin untuk kriminal tingkat menegah seperti perampok bank atau pembunuh berantai, ini bukanlah jumlah yang fantastis… Tapi, untuk seorang pembunuh berdarah dingin yang selalu mengetahui situasi dan kondisi, serta memiliki kemampuan diluar batas, itu sudah menjadi angka yang cukup besar. Terlebih aku sudah menyewa detektif swasta kelas satu…” Ucap Mr. Thunder panjang lebar.
“Tapi hal seperti itu tidak masuk akal, Sir…”
“Tak ada yang masuk akal jika kau berpengalaman menangani kasus kelas berat.”
“Tapi kau tidak boleh lupa bahwa kita baru saja membentuk kelompok dengan sepuluh anggota untuk pemecahan kasus perampokan bank dunia, Sir…?”
“Tentu, aku tak akan lupa. Lagi pula terlepas dari terpecahkan atau tidaknya kasus ini, itu tidak menjadi masalah bagi kita. Karena yang dibunuhnya adalah koruptor yang mengeruk setengah dari kekayaan negara.”
“Lalu mengapa kita mengejarnya ? Bukankah seharusnya kita berterimakasih, Sir ?”
“Meskipun Mr. Hardwick adalah koruptor yang telah dipastikan akan dihukum mati, pembunuh-pembunuh itu tidak memiliki hak apapun atas nyawa Mr. Hardwick. Kenapa ? karena Mr. Hardwick sudah menjadi milik negara.”
“Tapi, di zaman modern seperti sekarang bahkan tahanan dengan hukuman diatas seratus tahun sekalipun bukanlah hak milik negara. Kalau pun benar sesuatu seperti yang kau katakan itu ada, maka ini melanggar HAM…”
“Kau salah, Jeremy… Mereka tetap salah satu asset milik negara. Dan kau juga tidak boleh melupakan bahwa kita memiliki hak khusus untuk melanggar HAM terhadap kriminal tingkat A.”
“Tapi…”
“Kau hanya belum mengerti, Jeremy…” potong Mr.Thunder.
“Oh, baiklah. Jadi maksudmu dengan membunuh Mr. Hardwick secara tidak langsung mereka sudah me.rusak sesuatu yang telah menjadi milik negara…?” Jeremy mengalah.
Mr. Thunder mengangguk. “Kurang lebih seperti itu. Kau akan mengerti nanti.”
“Baiklah. Aku permisi, Sir…” pamit Jeremy.
Jeremy melangkahkan kakinya menuju keluar dari ruangan. Dengan perlahan pemuda itu memikirkan kembali kata-kata yang baru saja dikatakan Mr.Thunder. Sambil melirik arloji ditangannya, Jeremy masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar.
“Ini tak masuk akal. Pasti ada yang salah, aku yakin itu. Biar bagaimanapun dalam pemecahan kasus penting seperti ini, dibutuhkan banyak orang berbakat yang bisa berkerjasama dengan baik. Mungkinkah Mr. Thunder menyembunyikan sesuatu ?” bisik Jeremy dalam hati.
***
See you next chapter, Berries! Jangan lupa TAP LOVE yaaa~