Menikahlah Dengan Suamiku
"Menikahlah dengan suamiku!" Permohonan itu terdengar keluar dari mulut seorang wanita bernama Indira yang datang bersama Erlangga, suaminya. Ya, permohonan yang kembali dilontarkan oleh Indira setelah sempat mendapatkan penolakan dari Kayla. Namun, bukan kedatangan mereka yang membuatnya terkejut, melainkan niat dari Indira yang membuat Kayla hampir tak percaya.
"Mbak nggak bosen apa minta aku menikah sama Mas Elang? Udah berapa kali aku nolak? Aku nggak mau, Mbak. Sampai kapan pun aku nggak mau. Ngerti nggak sih?" Kayla tetap pada pendiriannya, menolak permintaan sang sahabat yang menurutnya tidak masuk akal.
"Aku mohon, Kay. Penuhi permintaan aku! Hanya dengan cara itulah aku bisa pergi dengan tenang." Indira memohon sambil melipat kedua tangannya di depan. Matanya berkaca-kaca, raut wajahnya penuh dengan sebuah harapan.
Saat Indira berkata demikian semua orang yang ada di sana diam termasuk Erlangga yang saat ini duduk di atas sofa sambil menunduk dan hal itu membuat Kayla semakin kesal. "Mas Elang kenapa diem sih? Bilang sesuatu dong! Jangan diem aja!"
Erlangga mengangkat wajahnya, lalu menjawab ucapan Kayla. "Jangan asal bicara kamu, Kayla. Kamu pikir aku setuju sama ide gila istriku? Kamu pikir aku diam karna aku mau? Udah ribuan kali aku menolak, sampai-sampai aku merasa nggak ada ketenangan di rumah cuma karna masalah ini. Aku nggak diem aja!" Suara Erlangga membentak.
Di sana juga ada orang tua Kayla, Erlangga meminta maaf kepada mereka berdua, karena sudah mengencangkan suaranya. "Maafkan saya, Pak Sidik, Bu Mira. Saya benar-benar nggak tau harus gimana lagi menghadapi masalah ini. Kita seharusnya fokus sama pengobatan, tapi malah terganggu sama hal lain."
"Nggak apa-apa, Nak Elang. Bapak bisa memahami keadaan kamu," jawab Sidik pengertian.
"Terima kasih, Pak. Sekali lagi saya minta maaf."
"Aku nggak akan pernah sembuh, Mas. Hidupku sudah diujung kematian. Waktu aku nggak banyak lagi." Indira kembali bicara sambil melihat ke arah Erlangga di samping kirinya dengan tatapan penuh keputusasaan.
"Kamu bukan Tuhan, Indira. Dokter bisa aja bilang kamu nggak akan bisa diselamatkan. Tapi kalau Tuhan berkehendak lain, dokter bisa apa?"
"Dan kamu juga bukan Tuhan yang bisa menjamin kehidupan aku, Mas. Bagaimana kalau malam ini Tuhan mengambil nyawa aku? Bisa kamu mencegahnya?"
"Indira," lirih Erlangga sambil berdiri.
"Aku sekarat, Mas. Hidup aku tinggal menghitung hari. Kamu tau sendiri kan gimana keadaan aku selama ini? Kamu tau sendiri kan gimana perkembangan aku setiap hari? Kamu nggak bisa menyangkalnya setelah semua terjadi di depan mata."
"Aku tau, Sayang. Aku tau. Tapi tolong jangan paksa aku untuk menikah sama Kayla. Itu nggak mungkin, aku nggak cinta sama dia. Tolong biarkan aku fokus sama kesehatan kamu, aku mau menikmati sisa waktu yang ada cuma sama kamu."
"Iya, Mbak. Kita nggak saling cinta, kita nggak mungkin menikah," timpal Kayla yang masih berdiri di depan Indira.
"Tapi kebahagiaan aku cuma melihat kalian menikah sebelum aku meninggal. Aku akan pergi dengan tenang kalau kalian bersedia mengabulkan permintaanku." Indira mengatakannya dengan tegas. Dia melihat ke arah Erlangga juga Kayla secara bergantian.
Merasa sudah cukup dengan hari ini, Erlangga yang merasa lelah sudah mengikuti keinginan sang istri, mengajaknya untuk pulang. "Stop membicarakan pernikahan aku sama Kayla. Sekarang lebih baik kita pulang, kamu minum obat dan istirahat. Kamu keliatan lelah hari ini, Sayang."
Indira menangis, ia menurunkan tangan Erlangga dari atas bahunya. "Kamu nggak tau, kamu nggak ngerti perasaan aku, Mas. Aku melakukan ini juga demi kebahagiaan kamu, kebahagiaan aku juga."
Ada satu hal yang tidak bisa ia katakan alasan terkuat yang membuat dirinya memaksa sang suami menikah dengan Kayla. Yang jelas hal ini Indira lakukan demi kebaikan suaminya di masa depan.
"Aku udah nggak mau denger apa-apa lagi, Indira. Ayo kita pulang sekarang!" Erlangga bicara sambil meraih tangan sang istri, tetapi Ia malah mengibaskan tangannya. Tanpa berkata, Indira pun berlari keluar.
Setelah Indira dengan Erlangga pergi, Kayla merasa lemas, dia menjatuhkan tas selempangnya ke lantai, lalu Mira selaku ibunya pun berdiri. "Kay," lirih Mira sambil berjalan mendekat. "Kamu nggak apa-apa kan?"
"Aku nggak tega liat mbak Indira kayak tadi, Bu. Aku sedih liat dia sedih, tapi aku nggak mungkin nikah sama mas Elang. Aku nggak cinta sama dia. Dia juga atasan aku di pabrik, Bu. Apa kata orang nanti?" ucap Kayla sambil meneteskan air mata.
Mira menyeka dengan lembut air mata itu dan kembali bicara. "Ibu ngerti, Nak. Ibu juga gak mau maksa kamu, tetap kebahagiaan kamu yang utama. Yah, walaupun sebetulnya keluarga Indira udah banyak bantu keluarga kita selama ini." Mira sedikit merendahkan suaranya pada kalimat terakhir.
Kayla tau apa maksud ucapan sang ibu, dia memilih pergi ke kamarnya dengan perasaan kacau, bingung bercampur sedih.
Setelah Kayla pergi, Sidik pun berdiri ikut bicara. "Ibu mah malah bilang kayak gitu. Itu sama aja ibu minta anak kita buat nerima permintaan Indira."
"Apa salahnya, Pak. Nyatanya keluarga kita kan emang banyak dibantu sama keluarga Indira. Bapak jadi kepala kebersihan dengan gaji besar pun berkat bantuan Bu Ratna."
"Iya sih, cuma kan kita nggak bisa maksa, Bu."
"Padahal ibu sih setuju aja. Erlangga juga orangnya baik ko, setia lagi. Buktinya, disuruh nikah lagi aja dia nggak mau, dia nolak. Kalau mereka jadi nikah, ibu juga yakin Erlangga bakalan setia sama Kayla," ungkap Mira optimis.
"Udah ah, kalau Kayla denger ibu ngomong kayak gini. Kayla pasti marah."
Setelah berkata demikian, Sidik pun pergi meninggalkan sang istri di ruang tamu dalam kebingungan. Bingung akan melakukan apa? Akan memaksa sang anak untuk memenuhi permintaan Indira atau tidak?
***
Keesokan harinya, setelah kedatangan Indira bersama Erlangga, pagi ini Kayla pergi membeli makanan di luar, lalu ada sebuah panggilan masuk dari nomer tidak dikenal. Kayla mengabaikan panggilan itu, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, dan memilih untuk duduk menunggu pesanan dibuatkan.
"Jangan lupa satunya jangan pedes, Mang," ucap Kayla kepada penjual nasi uduk.
"Iya, Neng," jawab si penjual.
Setelah mengabaikan panggilan itu, jeda waktu satu menit, ada sebuah pesan masuk, dengan sangat terpaksa Kayla merogoh kembali ponselnya di dalam saku celana, melihat nomer si pemilik yang mengirimi ia pesan.
"Nomer yang tadi," gumamnya pelan.
Kayla memutuskan untuk membaca, dan terkejut ketika melihat isinya yang mengatakan. "Indira drop, dan sekarang ada di rumah sakit. Tolong cepat ke sini, ajak ibu sama bapak kamu. Erlangga."
Mengetahui situasi darurat, tanpa bertanya kenapa harus membawa kedua orang tuanya, Kayla pun meninggalkan pesanannya, langsung pulang ke rumah, mengajak kedua orangtuanya untuk ikut dengan dirinya ke rumah sakit, sesuai dengan perintah Erlangga.
Begitu sampai di rumah sakit, Kayla langsung pergi ke IGD, bertemu dengan keluarga besar dari Indira juga Erlangga yang saat ini ada di sebuah ruangan khusus, terlihat jelas raut wajah kesedihan dari semuanya.
Kayla berjalan menghampiri Indira, berdiri di samping kirinya, lalu menyapa, "Mbak." Ia mengusap lembut tangan yang sudah dipasang jarum infus.
Indira membuka mata perlahan, bicara dengan susah payah. "Kamu di sini, Kay?"
"Iya, Mbak. Aku di sini. Mbak yang kuat ya."
"Aku udah nggak kuat, Kay. Aku nggak kuat."
"Jangan bilang kayak gitu, Mbak. Mbak pasti kuat, Mbak pasti sembuh. Mbak nggak boleh tinggalin aku sendirian, aku nggak mau."
"Kenapa? Kamu sayang sama Mbak?"
"Iyalah, Mbak. Aku sangat sayang sama Mbak Indira, aku nggak mau kehilangan Mbak." Kayla mengatakan itu sambil meneteskan air mata.
Indira meneruskan ucapannya. "Kalau begitu, menikahlah sama Mas Elang. Menikahlah sekarang di depan aku sebelum aku benar-benar pergi, Kay."
"Mbak, udah dong. Masa dalam keadaan kayak gini Mbak masih membicarakan hal yang konyol?" ucap Kayla yang sudah tidak mau menanggapi lagi akan permintaan itu.
"Mbak serius, Kay. Kalau kamu sayang sama mbak, mbak mohon menikahlah sama Mas Elang!"
Kayla diam, dia melirik ke arah Erlangga, tidak menyangka saat itu juga Erlangga sendiri yang memintanya. "Menikahlah denganku, Kay. Demi kebahagiaan istriku."
Kayla terus diam, lalu melihat ke arah semua orang, terutama sang ibu Mira. Dia teringat akan kata-kata Mira kemarin yang mengatakan, "Sudah waktunya kita membalas kebaikan yang pernah keluarga Indira berikan kepada kita, Nak."
Saat ini Kayla dihadapkan oleh keputusan yang sangat sulit. Jika mengikuti ego seorang wanita, tentu Kayla ingin sekali menolaknya. Tetapi, jika dilihat dari kacamata keseluruhan, Kayla merasa tidak bisa mengatakan tidak. Terlebih saat ini kondisi kesehatan Indira semakin memburuk. Jangankan besok, takdir beberapa jam kemudian pun tidak ada yang tahu.
"Apa yang harus aku katakan, Tuhan? Aku tidak bisa."
Terus bergumam sambil berpikir, hingga akhirnya rasa ego yang tertanam di dalam dirinya pun bisa dikalahkan. "Baiklah, aku bersedia menikah sama Mas Elang."
Erlangga langsung melihat ke arah Kayla, begitupun dengan Kayla melihat ke arahnya dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan yang lain mulai sibuk mencari penghulu untuk menikahkan mereka.