Wanita Jadi-jadian

1263 Kata
Erlangga melamun, Kayla memanggilnya dengan suara kencang. "Mas Elang!" Pria yang saat ini sedang terpesona akan penampilan istri kecilnya pun segera menyadarkan diri, tergugup menyahuti panggilan. "I–iya?" "Kenapa liatnya kayak gitu sih? Jelek?" "N–nggak," jawab Erlangga masih tergugup. "Lalu? Cantik?" "Idih." Erlangga menggidikkan bahunya. "PD banget sih anak kecil." Kayla yang tidak suka dipanggil anak kecil, melayangkan protes. "Kenapa sih aku dipanggil anak kecil terus? Aku ini udah dua puluh tahun, aku kerja, aku udah dewasa." "Udah dewasa kok ambekan," gumam Erlangga pelan, Tetapi masih bisa didengar oleh Kayla. "Mas Elang!" Suara Kayla menggeram. "Udah deh, ayo sekarang pamitan sama ibu," titahnya untuk mempersingkat waktu. Berdebat dengan Kayla hanya akan membuat kepala Erlangga semakin pusing. Tidak lama sang ibu datang dari arah dapur, menegur putrinya yang sejak tadi terus berteriak, dan suaranya terdengar sampai ke dapur. "Apa sih, Kay? Kenapa harus teriak-teriak?" "Mas Elang tuh." "Nggak ada apa-apa, Bu. Tadi kita lagi bercanda aja," jawab Erlangga sambil tersenyum. kayla menatap tajam ke arah Erlangga, lalu berpamitan kepada sang ibu. "Aku pulang ke rumah Mas Elang ya, Bu. Nanti aku nginep di sini lagi." "Iya, Sayang. Tapi jangan dateng sendiri, ya. Harus sama suami kamu," sahut Mira seraya mengusap lembut bahu putri tercinta. "Emang kalau sendiri nggak boleh?" tanya Kayla sambil memanyunkan bibirnya. "Ya nggak boleh lah, itu namanya kamu lagi berantem," jawab Mira. "Ya udah sana kalau mau pulang!" "Ih, seneng banget anaknya pergi, heran. Awas kalau kangen sama aku." Setelahnya Kayla pun pergi lebih dulu, saat Erlangga akan berpamitan, Mira menyampaikan sebuah pesan. "Kayla putri ibu satu-satunya. Tolong jaga dia, jangan sakiti dia, dia memang masih kayak anak kecil yang gampang ngambekan, tapi aslinya dia anak yang penurut, kok. Kalau dia salah, nak Erlangga wajib menegurnya, tapi tolong ajari dia dengan kelembutan." "Iya, Bu. Erlangga akan berusaha," jawab Erlangga kali ini serius. "Ya sudah kalau kalian mau pulang, hati-hati di jalan ya, Nak." "Baik, Bu. Salam buat bapak." ”Nanti ibu sampaikan." Setelah berpamitan, Erlangga dengan Kayla pun pergi meninggalkan kediaman Mira. *** Di tengah perjalanan, Erlangga yang sudah berjanji akan memenuhi keinginan sang istri dengan bebas memilih akan sarapan di mana, menghentikan kendaraanya di bahu jalan dekat dengan penjual ketoprak yang mana antriannya sepanjang jalan kenangan. Sebetulnya Erlangga merasa kurang nyaman, tapi mau bagaimana lagi. Bukan tidak nyaman karena makan di pinggir jalan, Erlangga merasa tidak nyaman karena terlalu banyak orang, bahkan untuk duduk saja harus berhimpitan dengan orang di samping kanan kirinya. "Bisa geser dikit, Mas!" pinta seorang wanita cantik berdiri di depan Erlangga. Memang di samping Erlangga masih cukup untuk duduk satu orang lagi. Tetapi, karena Kayla berpesan untuk mempertahankan wilayah yang kosong itu, Erlangga pun menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mbak. Ini udah ada penghuninya." "Istrinya, Mas?" tanya orang itu lagi. Erlangga menggelengkan kepalanya. "Bukan." Tidak ada niat untuk berbohong, tetapi memang seperti itulah perjanjian yang mereka sepakati. Menyembunyikan pernikahan mereka dari semua karyawan industri, juga dari masyarakat luas. "Bagus, deh," ucap orang itu sambil tersenyum penuh arti, teman-teman lainnya juga saling berbisik satu sama lain. "Maksudnya?" Dahi Erlangga mengerut. "Sudahlah lupakan. Di mana orang yang dateng sama Mas nya?" tanyanya lagi. "Itu," Erlangga menunjuk ke arah antrian pembeli, terlihat Kayla sedang bicara dengan seorang pria yang juga sedang mengantri. "Ngobrol sama siapa tuh anak?" gumam Erlangga. "Yang mana, Mas?" tanya orang itu lagi. "Itu lagi ngantri, Mbak. Dia lagi pesen makanan," lanjutnya lagi. Wanita berpenampilan cukup berani itu melangkah maju sambil berkata, "Cewek itu masih ngantri, Mas. Sampe aku selesai makan juga belum tentu cewek itu berhasil pesen. Jadi, boleh ya duduk di samping Mas nya!" terus berusaha merayu. "Maaf, Mbak. Sebentar lagi juga dia udah beres, kok." "Ya ampun, Mas. Nggak kasian apa?" Tiba-tiba saja wanita berpenampilan kekurangan bahan itu duduk di atas pangkuan Erlangga. Hal itu sontak membuat Erlangga terkejut. "Apa-apaan ini?" kejut Erlangga. "Salah sendiri aku nggak boleh duduk di samping kamu, ya udah aku duduk di sini." Bukan hanya mendudukan diri di atas pangkuan Erlangga, wanita jadi-jadian itu malah menautkan kedua tangannya di atas bahu. Semua orang tertawa juga beberapa teman orang itu pun sama, dan yang lebih parahnya lagi, saat Kayla selesai memesan makanan, dia melihat wanita itu sedang memaksa ingin mencium suaminya, dan dengan susah payah juga Erlangga coba melepaskan diri. "Tolong!" Menyaksikan kejadian itu Kayla tertawa, dia berjalan menghampiri sang suami sambil membawa nampan berisi dua porsi ketoprak, juga air minum. "Ya ampun, Mas Elang. Pacarnya ngapain duduk di situ? Bisulan?" Bukan hanya Kayla yang tertawan, beberapa pengunjung, juga temen orang itu juga Ikut tertawa. "Kay, tolongin aku!" satu tangan berusaha melepaskan tangan genit itu, sedangkan tangan satunya menarik ujung baju sang istri. "Nggak, ah. Kamu usaha aja sendiri," tolak Kayla sambil melangkah mundur, coba menghindar. "Lawan dong!" titahnya. "Gila aja aku lawan perempuan," jawab Erlangga. Dia terus berusaha mendorong tubuh wanita itu tetapi gagal, karena tenaga yang wanita itu miliki sama seperti tenaga lima orang tukang bangunan. "Perempuan?" ledek Kayla. "Mana ada perempuan? Dah ajak berantem aja, sama-sama lelaki, kok." Ucapan Kayla sontak membuat Erlangga terkejut. Dia menatap wajah waria itu dengan mata terbelalak, raut wajahnya berubah jijik. "Sialan! Pergi!" teriak Erlangga dengan susah payah ia coba berdiri. Setelah tahu ternyata wanita itu adalah seorang waria yang cantik bak perempuan asli, kali ini Erlangga mencoba melepaskan diri dengan mengajaknya bertarung, hingga akhirnya berhasil, lalu ia berlari ke belakang punggung Kayla, meminta perlindungannya. "Kamu jahat, Mas! Kamu menyakiti aku." Gaya bicara wanita jadi-jadian itu persis seperti perempuan. "Jangan jahat-jahat dong, Mas. Kan kasihan mbaknya," timpal Kayla juga ikut meledek. Tidak ingin berlama-lama di sana, Erlangga pun meraih tangan Kayla, lalu mengajaknya pergi. "Udah, ah. Ayo kita pergi!" "Tapi gimana sama ketopraknya?" Mengikuti langkah kaki suaminya seraya menyeimbangkan nampan yang masih ia pegang agar isinya tidak jatuh. "Makan di mobil aja!' perintahnya. Wanita jadi-jadian itu memanggil dari kejauhan dengan manja. "Aku ikut!" "Najong, Lu," jawab Erlangga bergumam sebal. Setelah sampai di mobil, Erlangga langsung membuka pintu sisi sebelah kiri, dan Kayla pun segera masuk. "Mimpi apa gue semalem." Menggerutu sambil berlari menuju pintu sisi sebelah kanan, masuk ke dalam dengan napas tersengal-sengal. Bukan hanya itu, setelah berada di dalam, kaca mobil ditutup oleh gorden, sehingga sisi kanan maupun kiri tidak ada yang bisa melihat mereka, kecuali kaca depan. "Mas Elang mau ngapain? Kenapa ditutup? Kamu mau melecehkan aku?" Asal bicara. Pertanyaan istri kecilnya yang asal, membuat Erlangga menggeram. "Kamu ...." "Terus, kenapa ditutup?" tanyanya lagi. "Kamu mau waria itu liatin kita?" "Awas ya kalau Mas Elang macam-macam! Aku laporin Mas Elang ke Komnas HAM." ancam Kayla seraya merapatkan tangan di d**a. Erlangga menggelengkan kepalanya. "Sakit kamu, Kay. Udah ah sini ketopraknya!" Kayla menurunkan tangannya, lalu ia menyerahkan satu porsi ketoprak kepada sang suami, satu porsi ia letakkan di atas pangkuannya, dua botol air minum di letakkan di tengah-tengah mereka, sedangkan nampannya ia simpan di jok penumpang. "Ayo kita makan!" ajak Kayla seraya mengaduk-aduk ketoprak miliknya agar tercampur rata dengan bumbu. Hal yang sama juga Erlangga lakukan, tetapi sambil menggerutu. "Nggak mau lagi ya aku makan di sini." "Kenapa? Ketopraknya enak tau." "Bodo amat mau enak apa nggak. Pokoknya aku nggak mau." Kekeh. Kayla mendesis, lalu menyendokkan ketoprak itu ke dalam mulutnya dengan rakus, berbeda dengan Erlangga yang makan dengan santai. "Mas Elang nggak ke kantor?" tanya Kayla di sela-sela makan mereka. Erlangga menjawab singkat. "Nggak." "Kenapa?" tanya Kayla lagi. "Menurut kamu?" Kali ini ia bicara sambil melihat wajah istri kecilnya yang terus mengoceh, lalu mengambil tisu, secara spontan mengusap noda bumbu kacang di sudut bibir Kayla, seraya berkata, "Pelan-pelan makannya, Sayang." Panggilan itu sontak membuat Kayla terkejut, lalu ia pun meluruskan. "Kayla. Aku Kayla Putri, Mas. Bukan Indira Maharani."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN