Saking terkejutnya, wanita berusia dua puluh tahun itu berdiri tanpa melihat keadaan sekitar, sehingga saat dia bangkit, kepalanya menyundul bawah meja cukup kencang, lalu ia meringis kesakitan. "Aww..."
Seperti biasa. Raut wajah Erlangga tampak datar ketika melihat sang istri kesakitan. Dia malah dengan santainya bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Saya..." Kalimatnya mengambang sampai Kayla menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Erlangga agar semua orang tidak curiga, lalu kembali bicara setelah menemukan alasannya. "Saya sedang diare, Pak, perut saya melilit, jadi saya jongkok di bawah."
Jawaban yang memalukan, beberapa orang yang mengenal Kayla bicara dengan temannya sambil berbisik. "Cari perkara dia, menjijikan banget sih alasannya."
"Lu kayak gak tau aja kelakuan anak itu,” sahut temannya yang lain.
Erlangga diam, menatap istri kecilnya dengan tajam, lalu dengan Isyarat matanya seolah Kayla berkata, "Jangan sekarang! Jangan sampai orang lain tau tentang hubungan kita!"
Bukan mengerti akan isyarat yang diberikan, Erlangga berlalu pergi memang karena dia tidak perduli, karena dia pun merasakan hal yang sama. Dia tidak ingin pernikahannya diketahui banyak orang, karena itu akan sangat memalukan.
Setelah Erlangga pergi Bu Wilda yang malu, mengomelinya. "Heh, sekali lagi kamu bertingkah seperti ini, saya hukum kamu. Memalukan tim kita saja."
Sambil nyengir kuda Kayla pun meminta maaf. "Maaf, Bu."
Staff office sudah berjalan pergi, Kayla buru-buru menghampiri Ajeng di meja kerjanya. Sambil terengah-engah ia duduk di atas kursi.
"Untung bos kita langsung pergi, coba kalau dia marah-marah lagi, meeting lagi. Habis lu diamuk karyawan satu gedung," gerutu Ajeng sambil menyiapkan alat kerjanya.
"Biarin lah. Dia juga nggak perduli. Hebat kan gue."
"Emang sakit, lu," sungut Ajeng lagi. Setelah beberapa kali inside terjadi, mereka pun mulai bekerja pada masing-masing bagian.
***
Masih tidak menyangka ternyata Kayla adalah salah satu karyawannya di pabrik yang ia kelola. Erlangga langsung menghubungi sang ibu Herlita dalam sambungan telepon. "Bu, siapa sebenarnya Kayla? Kenapa Ibu nggak bilang kalau Kayla itu adalah salah satu karyawan aku?“ Saat ini Erlangga sedang berdiri di depan jendela sambil berkacak pinggan dengan satu tangan, melihat ke arah luar dengan raut wajah suram.
"Kayla kan emang kerja di Len Industri, Lang. Selama ini kamu kemana aja? Kenapa kamu sampai nggak tau biodata istri kamu sendiri?" ujar sang ibu.
”Loh, Ibu tuh gimana sih. Aku ketemu Kayla aja cuma beberapa kali, Bu. Aku mana tau biodata dia,“ jawabnya. Karena memang pada kenyataannya yang ia tahu hanya Indira memiliki teman masa kecil, yaitu Kayla. Selebihnya Erlangga tidak pernah mempertanyakan apa pun.
”Ibu pikir kamu udah tau, makanya ibu nggak kasih tau lagi. Lagi juga kenapa sih sampe panik gitu? Nggak masalah kan Kayla kerja di perusahaan kita? Malah bagus, jadi kalian bisa sering ketemu. Ngobrol bareng, jalan bareng. Adaptasi lah."
”Ibu kayak nggak tau aja. Aku mana akur sama dia. Lagian, pernikahan kita kan masih dirahasiakan, gimana kalau nanti rahasia kita terbongkar? Kalau semua karyawan tau kan bahaya.“
”Loh, kok bahaya? Bahaya gimana sih? Dia istri kamu, Lang.“
”Tapi, kita kan udah sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini, Bu.“
”Mau sampai kapan?“ tanya Herlita lagi.
”Ya Elang nggak tau. Pokoknya sampai kita berdua siap," jawabnya masih kesal.
”Ya udah terserah kamu deh.“
”ya udah lah. Elang juga pusing mikirin nya. Aku mau kerja dulu.“
Belum sampai sambungan terputus, terdengar suara benda jatuh di belakangnya, Erlangga langsung menoleh ke arah sumber suara, melihat temannya yang bernama Jonathan melihat ke arahnya dengan mata terbuka lebar. Dia terkejut ketika mendengar percakapan antara Erlangga dengan ibunya, sehingga berkas yang sedang ia baca pun jatuh ke lantai.
”Gila, jadi lu udah nikah lagi? Sama cewek tadi?“ tanya Joenathan masih dengan ekspresi terkejutnya.
Tidak langsung menjawab, Erlangga berpamitan kepada sang ibu, lalu sambungan telepon pun terputus.
”Kenapa lu masih di sini? Bukannya tadi udah keluar?“ tanya Erlangga sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.
Sedangkan Joenathan masih menatapnya dengan bingung. ”Ya emang tadi gue keluar, gue cuma ke pantry buat kopi, gue balik lagi lah, tugas dari loe aja belum selesai,“ ujarnya.
Erlangga masih diam, dia duduk bersandar sambil memainkan pulpen di tangannya kanannya.
Hal itu membuat Joenathan semakain penasaran sekaligus kesal, karena Erlangga belum menjawab pertanyannya, sehingga ia pun mengajukan pertanyaan yang sama untuk yang kedua kalinya.
“Kenapa lu malah diem? Jawab pertanyaan gue dengan jujur! Anak kecil tadi yang ada di bagian produksi bini lu?
“Iya,” jawabnya singkat.
“Gila, jadi anak kecil itu yang Indira jodohin ke lu?”
Erlangga menghela napas, lalu menjawab, “Iya.”
“Wah, parah. Gue pikir sahabat istri lu itu seumuran sama dia. Eh, kok taunya anak kemaren yang baru lulus sekolah, dan lebih parahnya lagi lu nggak tau kalau bini lu itu kerja di sini, di perusahaan milik lu sendiri?" Joenathan menggelengkan keplanya, terheran.
“Heh, karyawan gue itu bukan ratusan, tapi ribuan. Terus gue mesti hapal semua wajah mereka? Lu lebih nggak waras. Kecuali kalau Kayla kerja di bagian office, lu bisa bilang gue kebangetan.”
“Oh, jadi anak kecil itu namanya Kayla,” ucap Joenathan sambil mengangguk-anggukan kepalanya, tersenyum meledek.
“Berhenti bilang dia anak kecil! Usia dia 20 tahun,” balas Erlangga.
Joenathan tertawa terbahak-bahak. “Ya anak kecil lah bagi lu mah. Bedanya lima belas tahun. Nggak nyangka gue sama lu. Pantesan aja lu nggak mau jujur sama gue. Lu malu punya istri anak kecil?” Sahabat Erlangga yang usil itu merubah posisi duduknya dari tegak jadi bersandar pada sandaran fofa.
“Berisik, Lu!” Erlangga menatap ke arah lain dengan malas. Dia merasa kesal masa berkabungnya menjadi masa penuh emosi.
“Udah lu terima aja, mau gimana lagi sekarang dia udah jadi bini lu. Adaptasi lagi lah, semua kan berproses. Ngomong-ngoomong, udah unboxing belum, Lu?” ledek Joenathan terus-menerus.
Hal itu membuat bos besar semakin kesal. Dia mengambil semua pulpen dari wadahnya, melempar wadah tersebut ke arah sang sahabat, tetapi pria usil itu berhasil mengelak, dia pergi dari ruangan bos besar sambil tertawa terbahak.
Setelah Joenathan pergi, Erlangga kembali duduk bersandar, memijat pangal hidungnya yang terasa pening. Sudah pusing karena komplain perusahaan yang bekerja sama, semakin pusing tatkala mengetahui kalau istri kecilnya ternyata adalah salah satu karyawannya.
***
Waktu berlalu, tidak terasa jam istirahat pun tiba. Setelah mendengar sirine berbunyi, ratusan karyawan keluar dari ruang produksi, berlarian ke lantai atas menuju kantin. Begitu pun dengan Kayla, juga Ajeng.
Baru saja mereka menaiki anak tangga, sebuah pesan dari seseorang masuk. Tanpa menghentikan langkahnya Kayla mengambil benda pipih berwarna putih itu dari dalam sakunya, lalu tersenyum saat melihat nama si pengirim.
"Kenapa, Lu? Senyam-senyum sendiri," tanya Ajeng.
Kayla menjawab sambil tersenyum tersipu. "Ada chat dari mas Dava.“
"HHmm... nggak ada yang lain selain pak Dava."
"Itu lu tau."
"Tau lah. Mau ngapain dia cahat lu?”
“Sesuai sama yang tadi lu bilang,” jawab Kayla sambil meletakkan ponselnya di d**a.
“Ngajak makan?” tanya Ajeng lagi.
Kayla mengangguk-anggukan kepalanya terus tersenyum.
“Ya udah sono. Nanti balik ke land bawa makanan ya. Kantin baru katanya makanannya enak-enak,” pesan Ajeng.
Kayla langsung menolak. “Dih, ogah. Malu-maluin aja lu mah.”
“Ya elah. Lu kalau pacaran kagak ada manfaatnya, buat apa? Mending ngobrol aja sama nenek gue di kuburan. Kagak pake modal,” ledek Ajeng.
“Nggak! Gue nggak mau. Gue belum pernah minta gitu-gituan sama siapa pun, harga diri lah.”
Ajeng tertawa terbahak. “Masih punya harga diri, Lu. Kurang memalukan apa coba tadi? Kepergok bos besar, kena maran bu Wilda. Dasar muka tembok, pake acara diare pula."
“Ah, berisik lu. Udah ah gue mau ketemu pujaan hati dulu, babay Ajeng.” Kayla berlari menaiki anak tangga, dan kembali turun menggunakan tangga lain khusus turun.
Sambil berjalan Kayla membalas pesan dari Dava. “Mas Dava di mana? Aku lagi jalan di tangga turun.”
Dalam hitungan detik Dava mengirim balasan yang berisi, “Lihat ke samping kiri kamu.”
Langkah kaki Kayla seketika berheti, menoleh ke samping kiri, tersenyum ketika melihat orang yang ia cintai ada di bawah sana sedang melihat ke arahnya, juga sambil melambaikan tangan.
Kayla membalas lambaian tangan itu sambil tersipu, lalu mempercepat langkah kakinya menuruni tangga.
“Anak kecil melambaikan tangan sama siapa? Kok dia tersipu gitu? Jangan-jangan sama cowok lain?” gumam Joenathan yang ada di lantai atas, berjongkok demi melihat sosok lain yang ada di bawah sana, tetapi sayang, sosok itu tidak terlihat jelas wajahnya.