"Apa ada seseorang yang menaruh dendam padamu atau keluargamu?” Shasha menggeleng. “Tidak. Lagi pula, kami bukan makhluk kelas atas yang mempunyai peran penting dalam dunia bisnis." Setelah pergulatan panas mereka, keduanya merebahkan diri bersandingan. Terlihat wajah sang istri yang masih memerah, bahkan napasnya pun belum bisa stabil. Menarik selimut, Fabian pun menutup tubuh istrinya sampai sebatas d**a. Pria itu lalu berbaring miring dan menatap Shasha. “Apa kau takut?” bisik Fabian. Menipiskan bibir, Shasha pun mengangguk pelan. “Sebelumnya, aku pernah berpikir bahwa mungkin kematian tidak sepedih kehidupan. Kau tahu … aku hanya memiliki Ain sebagai penyemangat hidupku. Saat itu, mungkin aku tidak akan gentar di hadapan kematian. Tapi sekarang berbeda. Aku memilikimu, aku memili

