“Tidak.”
Sebuah penolakan terlontar dari bibir tipis Shasha. Tangannya mengembalikan sebuah kartu berwarna hitam kepada sang pemilik aslinya.
“Aku sudah banyak merepotkanmu. Aku sudah banyak berhutang budi padamu, Shannon. Hutangku padamu sebelumnya bahkan belum sempat aku lunasi.”
Melemparkan senyuman tipis, gadis cantik berambut kelam itu menepuk lembut bahu Shasha. Jujur, ia sama sekali tidak keberatan memberikan sahabatnya sebuah bantuan. Jika Shasha mau, ia bahkan tidak akan menahan diri untuk menanggung biaya hidup Shasha dan Ainar. Jumlah uang sakunya sebulan lebih cukup untuk menghidupi keduanya. Sayangnya, sahabatnya pasti akan langsung menolak jika ia menawarkannya langsung.
“Santai,” ujar Shannon. “Kita teman, bukan? Membantumu adalah salah satu bukti dari ikatan pertemanan kita. Kau tidak perlu sungkan.”
“Tapi—”
“Lagipula,” potong Shannon, cepat-cepat mematahkan alasan Shasha. “Aku masih punya banyak kartu yang bisa aku gunakan.”
Tangan Shannon memperlihatkan beberapa kartu debet dan kredit yang ia miliki. Tentu, Shasha tahu bahwa semua kartu itu memiliki nilai lebih dari gajinya bekerja paruh waktu selama satu tahun. Ia tidak mengkhawatirkan sahabatnya kekurangan uang, hanya saja ia tidak enak hati jika terus-menerus merepotkan Shannon.
Tanpa ia sadari, Shannon sudah meletakkan kartu itu di depannya. Saat maniknya menatap wajah elok sang sahabat, yang ia dapatkan adalah seulas senyum lembut.
“Jika bukan untukmu, anggap saja aku melakukan semua ini untuk Ainar,” ujar Shannon.
Menipiskan bibir, Shasha menatap haru pada Shannon. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan sahabatnya. Tangan mungilnya bergetar, berusaha menjangkau kartu yang kini ada di depannya. Ia masih mempunyai Ainar sebagai tanggungan. Jika bocah itu menderita, Shasha tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Suatu saat ... aku pasti akan membalas kebaikanmu, Shannon,” bisik Shasha. “Sungguh, aku sangat berterima kasih.”
Mengangguk pelan, Shannon pun tersenyum dan menepuk lembut bahu Shasha. Ia tidak menginginkan apa-pun dari sahabatnya. Melihat Shasha bahagia sudah lebih dari cukup baginya. Walau mereka bukan saudara, entah mengapa Shannon selalu merasakan ikatan kuat antara dirinya dan Shasha.
“Kau hanya perlu membiarkanku menginap di sini seenak jidat—”
“Apa pun kecuali itu,” potong Shasha sembari menghapus wajah terharu, menggantikannya dengan wajah penuh kekesalan.
Ya, apa pun selain menginap seenak jidat. Shasha tidak ingin Tuan Yang menyeretnya dan menenggelamkannya di Sungai Yangtze karena telah mencemari putrinya dengan ajaran kehidupan rakyat jelata. Namun, tentu saja Shannon tidak akan pernah mengerti tentang kekhawatiran Shasha.
Seketika, Shannon terkekeh. “Tidak. Tidak. Aku hanya bercanda.”
Sebelum Shasha menanggapi lelucon Shannon yang menjengkelkan, Ainar terlebih dahulu muncul dengan manik berbinar. Bocah itu kini menenteng mangkuk dan sumpit, seolah tidak sabar untuk menyantap menu sarapan mereka.
“Kakak! Apa sarapan sudah siap?”
Bocah mungil itu langsung menghambur pada kakaknya, membuat sang kakak tertawa gemas. Tentu, Shannon pun tak kalah berbeda dengan Shasha. Gadis itu langsung mencubit gemas pipi Ainar.
“Ainar sekarang sudah besar, loh!” ucap Shannon seraya terkekeh pelan.
Seketika, Ainar menatap Shannon dengan tatapan bangga. “Tentu saja! Aku akan tumbuh lebih besar dan melindungi kakak dari orang-orang jahat!”
Baik Shannon dan Shasha langsung tertawa. Benar, kehidupan memang sangat kejam. Namun, Shasha mempunyai Ainar sebagai cahaya-nya. Hanya bocah itu yang mampu mengubah kegelapan dalam kehidupannya menjadi sumber dari kekuatan. Karena keberadaan Ainar, hidupnya yang penuh dengan jalan terjal, begitu indah untuk dinikmati. Satu-satunya semangat hidup yang ia miliki.
Sebelum ketiganya melanjutkan pembicaraan. Sebuah suara terdengar dari depan pintu rumah. Kedua gadis saling melemparkan pandangan. Menatap dengan pertanyaan yang menyerbu dalam benak mereka.
“Biar aku yang membukanya,” ucap Shasha seraya bangkit dan berlari menuju ke pintu masuk.
Saat pintu itu terbuka, manik indahnya mendapati sosok rapuh yang kini duduk bersandar di tembok sebelah pintu. Seorang kakek dengan baju sederhana yang menggigil kedinginan. Rautnya terlihat begitu pucat, hingga Shasha langsung panik. Alih-alih mempertanyakan identitas sang kakek, gadis itu malah langsung membawa kakek itu masuk ke dalam rumah.
“Astaga! Kakek, mari masuk dulu,” ucap Shasha seraya membantu kakek itu untuk berdiri. “Kakek bisa kedinginan kalau kakek duduk di sini!”
Bulan Desember, suhu saat siang hari pun mencapai delapan derajad celcius. Tidak mencapai titik beku, walau begitu, berada di area terbuka dengan balutan kain tipis bukanlah hal yang bijak. Salju memang masih belum turun, tapi udara dingin dan kabut yang tebal bukanlah sahabat untuk berada di luar rumah.
Mengambil selimut, Shasha langsung memberikan kain tebal itu pada sang kakek yang sekarang duduk di kursi ruang tamu. Memberinya secangkir minuman hangat adalah adalah salah satu pertolongan pertama untuk sosok rapuh yang kini menggigil.
Melihat sosok asing yang dibawa masuk oleh Shasha, Shannon pun mengernyit. Tentu, ia waswas. Tidak ada hal yang seratus persen aman di dunia ini. Ia takut kakek itu berniat jahat atau setidaknya menyembunyikan modus kejahatan terselubung. Sayangnya, sang sahabat terlalu baik, hingga tak mampu melihat krisis moral di dunia ini.
Saat Shasha melangkah mendekat, Shannon langsung mencekal tangannya. Menatap sahabatnya dengan penuh kekhawatiran.
“Kau mengenalnya?” tanya Shannon, menelisik.
Shasha tersenyum tipis, perlahan melepaskan lengannya dari tangan Shannon. “Mengenalnya atau tidak, jika ada orang yang membutuhkan bantuan, aku akan mengulurkan tangan dengan senang hati.”
“Tapi—”
“Shannon, kakek itu bahkan tidak bisa berjalan dengan benar karena kedinginan. Hal jahat macam apa yang akan dia lakukan pada kita dengan tubuh rapuhnya?” potong Shasha, mencoba menjelaskan dengan logika.
Bibirnya ingin menyangkal semua perkataan Shasha. Namun, saat ia melihat sosok rapuh yang menggigil, rasa curiga yang menyergap benaknya mulai luntur. Benar, kakek itu bahkan gemetar saat mengangkat gelas. Kalau pun pria itu berniat jahat, menendangnya sekali pun sudah dipastikan sebagai kemenangan. Sayangnya, walau rasa curiganya kini telah berkurang, Shannon masih harus tetap waspada.
Menoleh, gadis itu menatap punggung sahabatnya yang kini menghilang di balik pintu dapur. Kembali, manik indahnya kini terfokus pada sang kakek. Perlahan, gadis itu mendekat dan duduk di depan tamu Shasha.
“Kakek sendirian?” tanya Shannon, berusaha mendapatkan bukti bahwa sang kakek memang memiliki motif tersembunyi.
Tersenyum, sang kakek meletakkan gelasnya dan menatap Shannon. “Aku jalan-jalan bersama cucuku, tapi aku terpisah darinya dan tersesat.”
“Apa Kakek ingat alamat rumah kakek?”
Sang pria tua itu menggeleng cepat. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Shannon. Namun, semua jawaban sang kakek tidak membuat gadis itu menurunkan kewaspadaannya.
“Sepertinya akan lebih cepat kalau kita ke kantor polisi,” gumam Shannon.
Sayangnya, Shasha yang baru saja datang dengan semangkuk bubur di tangannya langsung menyela. “Kita bisa memikirkan itu setelah kakek ini dalam kondisi yang lebih baik. Shannon, lihatlah. Kakek ini bahkan belum berhenti menggigil.”
Shannon menghela napas dan mengedikkan bahu, tapi tak lagi melontarkan kata-kata balasan. Gadis itu memang cerdas dan tanggap. Tidak heran jika sang kakek pun masuk dalam tipe orang yang mencurigakan di mata Shannon. Faktanya, sang kakek memang menyembunyikan maksud lain di balik kedatangannya.
Charles Lin, kini menyamar sebagai seorang kakek rapuh yang tersesat. Tentu, sejak awal ia melihat Shannon, pria tua itu mampu mengenali sang gadis dalam sekejap. Walau tidak berinteraksi secara langsung, tapi ayah Shannon sering membawa putri tunggalnya untuk menghadiri acara besar yang dihadiri oleh para pejabat. Ia pernah melihat Shannon beberapa kali, dan tentu ia tidak menyangka bahwa putri tunggal keluarga ternama akan berada di bawah atap gubuk sederhana yang ada di dalam gang sempit. Sebuah keajaiban yang begitu sulit dipercaya.
Sayangnya, tujuan Charles bukanlah menilai Shannon. Melainkan Shanaya Yin. Saat pria itu tersadar, ia menatap semangkuk bubur. Sebuah menu yang membangkitkan ingatan lama yang kini kembali terputar dalam benaknya. Ah, sudah lama ia tidak memakan masakan rumahan yang merakyat. Seorang Charles Lin dulunya pun telah mengalami berbagai macam cobaan. Sejatinya, ia hanya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Saat ia kecil, yang bisa ia makan hanyalah bubur buatan ibunya. Berbeda dengan cucunya yang laknat tak terkira. Fabian Lin mempunyai keberuntungan tingkat dewa karena bocah itu terlahir dalam keluarga Lin yang telah naik status menjadi pemilik bisnis kaya raya di kota mereka. Wlaau begitu sang cucu benar-benar tidak tahu terima kasih atas semua kerja keras kakeknya.
“Aku harap kakek mau menerima jamuan sederhana ini,” ujar Shasha seraya tersenyum canggung. “Bukan hidangan mewah, tapi aku dengar bubur sangat baik untuk kesehatan dan juga bermanfaat untuk mengembalikan suhu tubuh.”
Mendengar penjelasan Shasha, Charles pun tersenyum. “Seharusnya, kau tidak perlu repot-repot, Nak. Maaf, kakek ini malah menyusahkanmu.”
Sebelum gadis itu menjawab, Shannon terlebih dahulu menyahut. Tak memedulikan sopan santun. “Kau masak bubur lagi? Bukannya aku sudah bilang untuk belanja bahan makanan yang lebih bergizi?”
“Shannon, aku tidak ingin terlalu bergantung padamu dan uangmu,” balas Shasha.
Mendengar pendejalasan sahabatnya, Shannon langsung mencuramkan alis. “Jangan khawatirkan aku. Justru kau yang lebih memprihatinkan. Jika kau mau aku bisa menanggung biaya hidupmu dan Ain. Kau hanya perlu mengiakan pena—”
“Shannon,” potong Shasha sembari melirik pria tua di depan mereka. Waswas jika sang kakek memperhatikan mereka. “Kita bisa bicarakan ini nanti.”
Situasi kembali hening. Sang tuan rumah telah kembali ke dapur. Sementara Shannon hanya bisa menggerutu pelan atas kekeraskepalaan sahabatmya. Tidak bisakah gadis itu memikirkan tentang dirinya sendiri terlebih dahulu? Bahkan kini wajah Shasha terlihat begitu pucat dan kurus. Shannon berani bertaruh bahwa sahabatnya benar-benar dalam keadaan darurat gizi buruk.
Di sisi lain, Charles yang sedari tadi berpura-pura tidak mendengar keduanya kini menarik kesimpulan. Layaknya, gadis bernama Shanaya Yin memang berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Ia bisa memastikan bahwa Shasha memang mempunyai hati tulus dan tidak akan tergoda dengan harta. Dilihat dari jemari Shasha yang penuh dengan bekas luka gores, menandakan bahwa gadis itu memang biasa bekerja keras. Menatap mangkuk bubur yang kini kosong, pikiran Charles kini memutar kenangan akan seorang gadis yang menjadi separuh hidupnya.
Ya, sosok Shanaya Yin terlihat persis seperti mendiang istrinya yang kini telah berpulang. Memang bukan dari kalangan elit, namun gadis macam Shanaya Yin bukanlah sosok yang bisa ditemukan dengan mudah. Untuk pertama kalinya, ia memuji kemampuan sang cucu menilai seorang gadis.
“Aku harap dia bisa menemukan kebahagiaan di masa depan,” bisik Shannon sembari menatap pintu menuju dapur.
Menoleh, Charles melihat wajah khawatir Shannon. Ya, tentu semua itu membuatnya semakin tertarik. Sosok macam apakah Shanaya Yin, hingga ada seseorang yang bahkan tidak mempunyai ikatan persaudaraan begitu peduli padanya?
“Jika boleh tahu, apakah aku boleh mendengar sedikit cerita tentang anak gadis itu?”
Menoleh, Shannon kini memfokuskan pandangan pada Charles Lin. Mungkin masih tersisa sedikit rasa curiga, namun ia memilih untuk berbagi cerita dengan sang kakek.
“Namanya Shasha. Ibunya belum lama meninggal, tapi ayahnya malah pergi tanpa alasan yang jelas. Shasha berusaha bertahan untuk menghidupi adiknya,” ujar Shannon. “Dia kadang menerima lebih dari satu pekerjaan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah. Tapi kemarin ia baru saja ditimpa kesialan, entah apa yang terjadi hingga ia dipecat dari pekerjaannya. Dan sekarang, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia beri pada adiknya untuk sarapan di esok hari. Tujuanku ke sini hanya untuk memberikan dukungan mental dan finansial, tapi dia malah menolak mentah-mentah kebaikanku.”
Terdiam. Charles menyadari bahwa semua ini ada kaitannya dengan Fabian. Tidak, ia mendengar bahwa sang cucu membeli sebuah minimarket dan memecat karyawannya seketika. Apakah karyawan yang dimaksud adalah Shanaya Yin? Tapi bukankah cucunya berusaha untuk merebut hati Shanaya? Bagaimana bisa—
Sebelum Charles melemparkan pertanyaan lebih lanjut. Sebuah kesimpulan muncul dalam benaknya. Saat ia ingin melontarkan pertanyaan lagi, seorang bocah muncul dan menghampiri Shannon.
“Kak Shannon, Kak Shasha meminta bantuan untuk mencuci piring.”
Seketika, gadis itu memutar matanya, kesal. Walau begitu, bibir tipisnya tak mengucap sepatah kata. Alih-alih protes, Shannon akhirnya bangkit dan melangkah ke dapur. Meninggalkan Ainar dan Charles Lin di ruang tamu.
Menatap Ainar, Charles Lin seolah melihat masa kecil Fabian. Menepuk lembut kepala sang bocah, Charles pun tersenyum. Layaknya, ia harus segera mengakhiri permainan. Ia tidak tahu kapan Fabian akan menyadari bahwa ia ikut turun tangan. Mulut Kiel pun tidak bisa dipastikan akan tertutup rapat. Tentu, kelemahan Kiel adalah gertakan Fabian. Jika Kiel tertekan, Charles yakin pria itu akan mengatakan semua rencananya pada Fabian.
“Aku tidak pernah mempunyai kakek,” bisik Ain dengan wajah memerah. “Tidak ada yang menepuk kepalaku selain kakak.”
Seketika, Charles membeku. Namun, senyum tipis langsung terbentuk di bibirnya. “Bagaimana kalau aku menjadi kakekmu?”
Mengerjap lucu, Ain menatap sang pria tua. “Bo-bolehkah??”
Tangan keriputnya kembali menepuk kepala Ain. “Tentu saja! Kakek tua ini juga butuh teman kecil sepertimu.”
Bocah itu langsung tersenyum lebar dengan manik bulat yang berbinar. “Kalau begitu, mulai sekarang Kakek adalah kakekku dan kakek Kak Shasha!”
Ah, tidak. Walau Ain tidak memintanya pun, mereka akan tetap menjadi kakek dan cucu. Karena di masa depan, ia akan memastikan Fabian untuk membawa mereka berdua ke kediaman Lin. Tentu, setelah ia menghajar cucu laknat yang tidak tahu diri. Sebelum Shasha menjadi menantunya, akan lebih baik jika ia memberi Fabian sedikit pelajaran.
***
“Shasha,” panggil Shannon seraya menatap sahabatnya.
“Kenapa?” balas Shasha, tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan piring.
Keduanya hanya terdiam sedari tadi. Faktanya, hanya Tuhan yang tahu keduanya menyimpan pertanyaan demi pertanyaan di dalam benak mereka. Suara piring dan piring yang bertumbukan pun kembali menyela dalam keheningan.
“Aku tahu ... ucapanku tadi terlalu kelewatan, tapi aku melakukan semua ini demi dirimu,” ujar Shannon. “Aku peduli padamu.”
Tangan mungilnya terhenti. Seketika, Shasha menatap sahabatnya dengan tatapan sendu. “Aku tahu. Kau dan Kak Alvin ... semua mengkhawatirkanku. Tapi, ada hal yang seharusnya tidak kalian campuri. Ada beberapa hal yang seharusnya tidak kalian sentuh.”
Terutama masalahnya dengan Fabian Lin. Ia tahu pria itu melakukan semua ini untuk memojokkannya. Jika ia menerima uluran tangan Shannon atau Alvin dan pria itu mengetahuinya, tidak akan ada jaminan Shannon dan Alvin akan aman. Tujuan pria itu hanya untuk membuatnya mengiakan sebuah lamaran pernikahan yang benar-benar tidak masuk akal. Walau begitu, Shasha tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia terus menolak, ia harus siap kehilangan semuanya yang ia miliki. Karena ia yakin Fabian tidak akan membiarkannya hidup tenang, apalagi dengan hutang ayahnya yang terlampau mencekik. Jika ia mengiakan tawaran Fabian ... ia mungkin bisa hidup tanpa memikirkan cara untuk memperoleh uang, bahkan hutang sang ayah pun terhapuskan. Tapi hatinya menolak untuk menyerah. Hatinya menolak untuk menerima sosok Fabian Lin. Apakah ia egois? Apakah ia terlalu keras kepala? Apakah keputusannya menolak memang keputusan yang benar?
“Shannon, jika kau harus memilih antara jalan yang seharusnya kau yakini dan orang yang kau sayangi ... mana yang akan kau pilih?” tanya Shasha.
Seketika, Shannon terdiam. Kasusnya yang mencintai Alvin terbilang cukup mendekati tema pembicaraan. Jika ia lebih memilih jalan yang seharusnya ia yakini, mungkin ia sekarang akan mencekik atau meracuni Shasha untuk mendapatkan Alvin. Namun, alih-alih melakukan semua itu, Shannon memilih untuk berdamai dengan keadaan dan menerima perasaan Alvin yang ditujukan pada sahabatnya. Karena ia tahu, Shasha ratusan kali lebih berharga untuk dilindungi.
“Orang yang aku sayangi," jawab Shannon, mantap. “Untuk apa mempertahankan jalan yang kau yakini jika orang-orang yang kau sayangi terluka?Aku lebih memilih untuk mengorbankan diriku sendiri agar orang-orang yang aku sayangi hidup bahagia. Walau begitu, jika kau memilih untuk mengorbankan dirimu sendiri, ku harus siap menghadapi luka yang akan kau derita seumur hidup.”
Menipiskan bibir, Shasha tahu semua itu bukanlah pilihan mudah. Jika kau ingin sebuah pencapaian, maka kau harus mengorbankan sesuatu yang kau miliki. Baik memilih pilihan satu atau yang lain, semua tergantung individu. Namun, Shasha seolah melihat akhir dari pertanyaan yang ia lontarkan. Sebuah keyakinan bahwa jalan mana pun yang ia tempuh ... akan ada sisi yang harus menanggung luka sebagai bayaran.
Ah, mengapa hidup ini begitu sulit?
Menghela napas, Shasha tidak ingin melemparkan kata-kata balasan. Namun, tiba-tiba Ain datang bersama sang kakek. Keduanya muncul, tepat setelah Shasha dan Shannon membereskan piring yang mereka cuci.
“Ah, Kakek ... apa kakek sudah merasa lebih baik?” tanya Shasha.
Pria itu itu tersenyum. “Buburnya sangat enak. Berkat Nak Shasha, aku menjadi lebih baik.”
Sebelum Shasha menimpali, Ain terlebih dahulu menyela. “Kakak! Aku akan mengantarkan Kakek ke taman, siapa tahu anak kakek ada di sana.
“Ide bagus. aku akan menemanimu, Ain. Tetaplah di sini, aku akan bersiap-siap,” ujar Shannon seraya berlari ke kamar untuk mengambil jaket bulu.
Di sisi lain, Shasha pun terkekeh. Ia ingat, ibunya pernah mengatakan walau berada di masa sulit, mereka harus membantu orang yang membutuhkan bantuan. Entah mengapa, semua kata-kata sang ibunda pun memberikan efek yang luar biasa. Walau ia memang dilanda bencana, tapi melihat Ain dan sang Kakek tersenyum seolah mengobati lukanya.
“Baiklah,” ujarnya. “Maaf aku tidak bisa mengantar Kakek. Aku harus membersihkan rumah.”
Charles Lin menggeleng pelan. “Justru Kakek yang seharusnya minta maaf karena telah merepotkanmu. Jika kau tidak keberatan, bisakah sesekali aku mampir kemari?”
“Kak Shasha, Ain sangat bahagia karena bisa mempunyai kakek!” ujar sang bocah seraya memeluk lengan sang pria tua. “Ain sangat senang bisa bermain dengan kakek!”
Terkekeh pelan, Shasha pun mengerti. Memang, Ain tidak mempunyai kakek maupun nenek. Ia bisa maklum jika sang bocah mengharap perhatian lebih dari orang dewasa. Lagipula, sang kakek pun tidak keberatan.
“Tentu, pintu rumah ini selalu terbuka untuk Kakek,” ujar Shasha.
Baik sang kakek dan Ain saling melemparkan tatapan dan tersenyum. Tiba-tiba, suara Shannon pun menyela. Menandakan sebuah ketidaksabaran yang menggebu dalam setiap kata yang terlontar.
“Ain! Ayo cepat!” ucap Shannon dari pintu depan.
“Sebentar!” balas Ain, sedikit berteriak. Seketika, bocah itu pun menggandeng sang kakek. “Ayo, Kakek!”
Sebelum pria tua itu beranjak, bibir tipisnya pun membisikan sebuah kalimat yang membuat Shasha menyadari suatu hal. Sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa pertemuan seseorang dengan orang lain adalah sebuah takdir. Bukan sebuah kebetulan belaka. Karen semuanya sudah dirajut dengan benang takdir yang tak akan bisa ia hindari.
“Kakek tua ini memang tidak tahu apa yang mengganggu pikiranmu, Nak,” ucap Charles Lin. “Aku hanya ingin, kau mempercayai takdir. Kau tidak harus menerima, atau menolak sepenuhnya. Kau hanya perlu berdamai dengan takdirmu.”
Shasha menipiskan bibir. Kakek itu benar, pertemuannya dengan Fabian bukanlah sebuah kebetulan. Ia tahu bahwa pria itu mungkin ditakdirkan untuk membawa pengaruh besar untuk kehidupannya. Walau begitu, untuk menerima dan berdamai dengan takdir dan juga pertemuannya dengan Fabian, tentu bukanlah hal yang yang mudah.
“Terima kasih, Kakek.”
Tersenyum, Charles Lin pun mengangguk pelan sebelum melangkah keluar. Sementara tubuh mungil Shasha hanya bisa membeku di tempat. Memikirkan semua hal yang membuat kepalanya hampir gila. Wajah gadis itu bahkan terlihat begitu pucat dengan rambut yang sedikit berantakan. Menggambarkan betapa berat cobaan batin yang ia lalui.
Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Tersentak, Shasha langsung menuju ke pintu depan. Baru saja Shannon, Ain, dan sang kakek pergi, mengapa mereka kembali lagi? Adakah yang tertinggal?
Mengabaikan beberapa pertanyaan lagi yang muncul dalam benaknya, Shasha langsung membuka pintu. “Kenapa kembali lagi? Ada yang ke—”
Beku. Gadis itu terdiam saat melihat sosok yang kini ada di depan pintu. Bukan, bukan Shannon, Ain, maupun Kakek, tetapi sosok pria berbalut jas hitam yang beberapa hari ini menghantui hidupnya. Fabian Lin.
“Kau tidak mempersilakan aku untuk masuk?” ujar sang pria dengan suara berat yang kini menggelitik telinga Shasha.
Menelan ludah, Shasha mengutuk diri sendiri. Takdir memang sedang mempermainkannya. Tidak mungkin hampir bertemu setiap hari adalah sebuah "kebetulan". Melangkah ke samping, dengan berat hati, Shasha mempersilakan Fabian untuk masuk.
“Silakan.”