“Kamu nggak salah dengar kok,” kata Nararya. “Mamaku memang ingin kita menikah.” Ekspresi Nararya saat ini kontras sekali dengan ekspresi Sabrina. Laki-laki itu tampak tenang, sementara Sabrina yang ada di hadapannya tampak terkejut, gelisah, dan juga gusar. “Sekalian aku ingin meluruskan,” kata Nararya lagi. Laki-laki ini benar-benar tidak memberi kesempatan pada Sabrina untuk pulih dari rasa terkejutnya dulu. “Kemarin kamu mungkin berpikir Mama ngajakin kamu untuk ikut ke acara keluarga kami. Soal menginap di puncak,” jelasnya saat melihat Sabrina menatapnya dengan ekspresi semakin bingung. “Mama sama sekali nggak ada niatan untuk itu. Beliau ingin ngajakin kamu nginap dengan rencana untuk mendekatkan kita. Jadi bisakah kamu berhenti marah sama Mama?” Sabrina membuka dan mengatupk

