Belum Ada Calon

1116 Kata
Gunawan dan keluarganya sedang berkumpul di kediamannya, setelah makan malam, ia meminta anak-anaknya duduk bersama di ruang keluarga. “Kantor gimana, Nak?” Gunawan bertanya kepada Tara. “Baik, Pa. Semua project untuk tahun ini fulll bahkan sampai tahun depan,” kata Tara bangga. “Kamu open untuk karyawan pabrik?” tanya Gunawan membahas lowongan pekerjaan yang tim HRD iklankan. “Iya, Pa. Hanya temporary, tapi tidak menutup kemungkinan yang berprestasi kita tarik jadi karyawan tetap,” jawab Tara kepada Gunawan. “Project tahun ini memang naik signifikan, Rara dan Vano kerjasamanya bagus,” ucap Gunawan memuji keduanya. “Makanya, Pa. Vano biar fokus di marketing, si boncel biar di keuangan. Pas udah,” ucap Tara kepada ayahnya. “Kerjaan terus, Papa katanya mau nemenin main lego.” Celia memprotes Tara yang sejak tadi sibuk berbincang dengan Gunawan. “Sebentar dong sayang, papa mau bicara sama akung dulu. Kamu main dulu sama ate Chia, itu lagi nganggur. Chia!” Tara memberi pengertian anaknya sekaligus memanggil adiknya. “Udah kayak di hutan aja, teriak-teriak hobinya,” ucap Chia menghampiri Celia yang sedang merajuk. “Ate mau main sama Celia?” tanya gadis kecil itu menarik-narik dress Chia. “Iya, ke kamar ate aja yuk. Kamu juga udah mulai ngantuk.” Chia mengajak keponakannya ke kamarnya. Hal ini ia lakukan untuk memberikan kesempatan Tara dan orang tuanya untuk membicarakan Sarah. “Kamu gak kasarin dia, kan?” Sanny sebagai ibu mempertanyakan hal ini kepada anaknya. “Gak ada cerita anak Mama ini kasar sama perempuan, apalagi mukul. Gak pernah, Ma. Justru Tara yang ditampar kemarin.” Tara menjawab pertanyaan Sanny dengan tenang. “Yang penting kamu tidak, mama sebenarnya sedih tapi kalau caranya seperti ini apa boleh buat. Sarah tidak bisa diajak kerjasama untuk memperbaiki, jadi akan sia-sia kalau kamu berjuang sendiri,” kata Sanny dengan wajah sendunya. “Cariin mama baru untuk Celia, dia butuh figure itu dan yang buat papa sedih lagi, Sarah gak peduli mental anaknya gimana kalau kalian pisah. Egonya masih tinggi,” kata Gunawan kepada anaknya. “Selesaikan dulu urusan sama Sarah, baru kamu cari lagi. Biar gak ada masalah nantinya,” ucap Sanny meralat ucapan suaminya. “Iya, Ma. Tapi memang gak ada bayangan sama sekali, biarin dulu saja.” Tara memang tidak terpikirkan mengenai hal ini. Cintanya kepada Sarah masih mendominasi hatinya, sehingga ia tidak tertarik untuk mencari wanita baru untuk saat ini. “Pelan-pelan, yah sambil menyelam minum air,” ucap Gunawan terkekeh. “Pa, ngomong-ngomong si boncel itu siapa yang nerima dia masuk?” tanya Tara mulai penasaran kepada gadis sederhana dari kota kecil yang menurutnya aneh. “Papa, kan waktu itu kita ada acara di Malang. Kebetulan lagi butuh, dan dekan fakultas kasih rekomendasi Rara, tes dulu Nak. Gak ujug-ujug diterima. Ada apa?” tanya Gunawan penasaran. “Gak ada, cuma agak nyebelin aja, walaupun memang Tara akui itu anak cerdas,” ucap Tara sambil mencomot keripik singkong yang disajikan Sanny. “Kamu jangan buat macam-macam, usil aja kamu itu.” Gunawan memperingatkan anaknya yang sering dengan sengaja memancing emosi Rara. “Gak ada, Pa. Tapi seneng tau liat dia ngamuk,” kata tara terbahak puas dan otomatis mendapat pukulan pelan dari Sanny yang berada di sebelahnya. “Kebiasaan!” Sanny menatap tajam anaknya yang memang suka usil. “Lama-lama beneran suka kamu,” ucap Gunawan dengan senyum misteriusnya. “Rara anak baik, dan gak aneh-aneh, mama sih yes kalau dapat mantu lagi kayak dia,” kata Sanny yang terang-terangan memuji Rara. “Gak Ma, dia boncel dan kayak papan setrikaan. gak ada bentuknya sama sekali,” kata Tara menolak ide mamanya. “Karena gak ada yang urus aja, mana sekarang yatim piatu dan ada tanggung jawab sekolahkan adiknya. Bisa kamu bayangkan sebesar apa beban yang ditanggung,” ucap Gunawan menambahkan ucapan istrinya. “Serius, Pa?” tanya Tara terkejut mendengar penuturan Gunawan. “Iya, waktu mau ketemu kamu gak jadi itu baru empat puluh harian ibunya,” jawab Gunawan. “Kasian, dan pacarnya ninggalin dia gitu aja. Sembilan tahun, Pa. Udah kayak kredit rumah,” kata Tara mengingat keadaan Rara saat bertemu dengannya di Bandung. “Namanya hidup, ya seperti itu, tidak semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Kamu pun sama. Perpisahan memang bukan hal buruk tapi tidak menyenangkan bagi yang menjalani. Baik yang ditinggalkan atau yang meninggalkan, sama saja,” lanjut Gunawan menasehati anaknya. Pembicaraan mereka berlanjut hingga Chia yang sudah menidurkan keponakannya kembali menemui mereka di ruang keluarga. “Dah tidur, kak. Kasian, call Kak Sarah gak diangkat,” kata Chia menghampiri mereka dan duduk di samping Tara. “Kamu gak coba cek akun medsosnya, biasa dia suka update status. Kamu liat, dek.” Tara mencoba meminta tolong adiknya. “Gak ada, Kak. Kosong, terakhir kemaren aja lagi ke Labuan Bajo,” ucap Chia hati-hati. Ia takut Tara kembali terpancing emosi. “Astaga, dia nekat pergi juga!” Tara mengacak rambutnya kesal. “Sudah, Kak. Aku setuju sama Mama dan Papa, cari istri lagi aja,” ucap Chia berpendapat. “Iya tapi calonnya belum ada. Kamu lagi,” jawab Tara menjembel pipi adiknya gemas. “Ish, Kakak! Ingat, cari istri bukan cabe-cabean!” Chia membalas tindakan kakaknya dengan meledek pria itu. “Awas, Lo. Kuliah gimana? kapan lulus?” Tara mulai menagih janji kepada adiknya. “Dua bulan lagi wisuda, Kakak udah janji mau kasih liburan ke Turki, lho.” Chia berbinar membayangkan akan berlibur ke tempat itu. “Iya, tunjukin dulu ijazah S2 kamu,” ucap Tara kepada adiknya. “Lalu, rencana kamu untuk Celia gimana, Nak?” tanya Sanny kepada Tara. “Bagaimanapun Sarah, dia ibunya. Jadi diikuti saja, Ma. Asal Celia senang,” jawab Tara kepada Sanny. Pembicaraan mereka terhenti karena Celia menangis dan mencari keberadaan Tara, ia terbangun dan mendapati tidak ada orang di sisinya membuatnya takut dan keluar kamar. “Sayang, sini duduk sama papa.” Tara memangku Celia yang terlihat habis menangis. “Ngantuk, Pa.” Celia menyenderkan kepalanya di bahu Tara. “Mau bobo ditemenin?” tawar Tara kepada Celia yang gelendotan manja kepadanya. “Iya, Pa.” Celia menatap Tara dengan tatapan sendu. Tersirat suatu kekecewaan yang membuat gadis itu lemas dan kurang bersemangat. Tara berpamitan kepada orang tuanya untuk menidurkan Celia Ia hanya berharap anak perempuannya tidak meniru tabiat Sarah yang doyan dugem dan dunia malam. Di dalam kamar anaknya, Tara terngiang ucapan Gunawan dan istrinya mengenai Rara. “Boncel jam segini masih on, gak tidur apa ya,” gumam Tara melihat aplikasi pesan singkatnya yang menunjukkan jam terakhir gadis itu online. Karena penasaran, Tara mukai mencari akun media sosial milik Rara. Melihat foto-foto yang diupload oleh gadis itu, ia mulai melihat sisi lain Rara yang terlihat selalu ceria. Namun, dibalik itu menyimpan kesedihan yang mendalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN