Rara sudah memakai dress berwarna salem dipadukan dengan blazer hitam, kostum pilihan Rara yang akan dipakai untuk menemani Tara ke sebuah jamuan makan siang.
“Cakepan gini, Mbak.” Chika yang baru saja meletakkan cangkir kopi hitam di meja makan mengomentari penampilan kakaknya.
“Iya, pilihan crazy boss.” Rara terkekeh sambil meraih tasnya.
“Ish, Mbak gak boleh gitu.” Chika terkikik menanggapi nama panggilan Rara untuk atasannya.
“Yang penting orangnya gak tahu. Oiya, kamu berani gak ke supermarket belanja bahan dapur. Kayaknya udah pada mau habis,” jawab Rara. Ia duduk menyantap roti bakar buatan adiknya.
“Boleh, Mbak. Aku dah catat sih semalam,” kat Chika kepada Rara. Beberapa hari tinggal bersama Rara, ia cukup memahami jika kakaknya termasuk wanita sibuk.
“Mbak udah transfer ke kamu, ini buat pegangan ada kartu juga, biasa kalau ada promo pakai itu. Lumayan, dek.” Rara telah mentransfer sejumlah uang kepada adiknya dan menyerahkan dua kartu kreditnya untuk pegangan sang adik.
“Pakai pin ya, Mbak kalau pakai ini?” Chika menerima dua kartu keluaran dua bank ternama.
“Iya, beli apa yang memang gak ada. Mbak nitip beliin cemilan. Keripik singkong, yang di depan supermarket itu ada yang kiloan. Tahu, kan?” Rara sudah selesai dengan sarapannya. Ia memasukkan ponsel dan pouch make-up nya ke dalam tas.
“Tahu kok, apalagi?” Chika membantu kakaknya merapikan penampilannya.
“Itu aja, order mobil online aja. Itu akun kamu udah mbak isi,” kata Rara sambil memakai sandalnya. Kebiasaan Rara yang tidak berubah, memakai heels nya jika sudah berada di area kantor.
“Iya, Mbak. Hati-hati,” jawab Chika sambil menutup pintu apartemennya.
Sedangkan Tara, ia baru saja sampai di gedung Dirgantara, ia disambut oleh Egi dan Vano yang kebetulan sedang berada di lobby.
“Kompak kalian, mau sarapan?” tanya Tara menyapa keduanya.
“Iya, kami belum sarapan. Lo udah kan?” tanya Vano kepada Tara.
“Sudah, tadi sama Celia. Si boncel sudah datang?” Tara bertanya sambil mengecek ponselnya.
“Udah, kayaknya lagi makan bubur ayam di kantin sama Pak Mul,” jawab Vano menunjukkan jarinya ke arah kantin.
“Ah, yaudah, gue masuk dulu deh.” Tara berpamitan masuk ke ruangannya. Menyempatkan diri membalas sapaan beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya, Tara masuk ke dalam lift khusus management.
Vano dan Egi menangkap ada sesuatu yang berbeda dari pertanyaan Tara, keduanya saling berpandangan heran, sejak kapan Tara peduli pada orang lain yang bukan keluarganya.
“Kayaknya ada yang beda, kamu ngerasa gak sih?” Vano berpendapat.
“Iya, Pak. Kali aja jodoh, saya aminkan yang kenceng,” ucap Egi terkekeh.
“Ya walaupun mereka udah kayak air dan api, tapi lucu juga. Boleh lah, coba gue bilang Om Gunawan,” ucap Vano terkekeh geli membayangkan dua orang bersatu namun dengan sikap dan tingkah laku yang jauh berbeda.
Di kantin perusahaan, Rara baru saja berbincang dengan Mulyadi, sopir pribadi Tara yang terkenal dengan penampilannya yang nyentrik. Ia berpamitan kepada pria tua itu untuk kembali ke ruangannya.
“Sabar-sabar saja, neng. Pak Tara memang galak tapi baik kok,” kata Mulyadi memberikan nasehat kepada Rara.
“Iya, saya balik dulu, Pak. Keburu ngamuk singanya,” pamit Rara.
Gadis itu melanjutkan pekerjaannya sebelum berangkat dengan Tara ke sebuah hotel bintang lima di wilayah Jakarta Selatan. Tepat pukul sepuluh, keduanya berangkat ke tempat itu.
“Nah, begini oke. kalau kayak kemaren, Lo kayak anak magang. Bukan kelihatan seperti manager, apalagi sekarang sudah naik jadi GM,” kata Tara mengomentari penampilan Rara.
“Iya, Pak, Makasih sarannya,” ucap rara memanyunkan bibirnya.
“Gak usah pakai manyun, saya gak suka. Ketemu customer itu ya kasih senyum yang manis, wajah sumringah, gak ditekuk kayak benang kusut begitu,” jawab Tara melihat Rara yang menatap tidak suka ke arahnya.
“Ini cewek gak ada manis-manisnya deket gue juga, apa gue gak menarik?” gumam Tara memperhatikan Rara yang fokus dengan tabletnya. Keduanya sudah berada di dalam mobil duduk berdampingan di bagian belakang sopir. Tara heran, banyak wanita jika berdekatan dengannya akan menunjukkan euforia yang dapat membuatnya besar kepala, namun Rara justru terkesan cuek dan tidak peduli dengannya.
“Boncel, Lo udah paham apa yang mau dipresentasikan nanti?” Tara memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
“Sudah, Pak. saya sudah paham materinya,” jawab Rara tanpa mengalihkan pandangannya dari tabletnya.
“Ish, kalau diajak bicara lihat orangnya, gak sopan Lo!” Tara menarik tablet Rara karena kesal, ia tidak suka Rara mengabaikan dirinya.
“Bapak amnesia? Bukannya yang kasih perintah jam enam lewat lima menit, cek data dari gudang,” kata Rara mengingatkan Tara. Ia menatap kesal atasannya yang tidak mengetahui apa yang sedang ia kerjakan.
“Iya, gue ingat. Tapi liat gue kalau diajak bicara,” kata Tara tidak enak hati mengembalikan tablet Rara.
Meeting dengan Tara dan customer dari SIngapore menghasilkan satu project yang akan mereka kerjakan sepanjang tahun, walaupun sempat kesal, Tara mengakui jika Rara memiliki kemampuan yang baik dalam meyakinkan calon customernya. Dalam jamuan makan siangnya, Rara bahkan mendapatkan pujian dari kliennya.
“Gue akui, boncel memang pintar. Walaupun memang ngeselin,” kata Tara kepada Vano dalam pesan singkatnya. Ia dan Rara sedang mengantar klien nya ke bandara untuk kembali ke Singapore.
“Pak, saya izin ke mushola sebentar, waktunya udah mau habis,” ucap Rara kepada Tara.
“Oke, gue tunggu sambil ngopi disana,” jawab Tara kepada Rara sambil menunjuk kedai kopi yang ia maksud. Tara mengomel kepada Vano, ia menghubungi saudaranya karena kesal sekaligus penasaran, darimana ia mendapatkan karyawan aneh seperti Rara.
“Lo tadi muji dia, sekarang Lo omelin. Ada apa sebenarnya?” Vano terkekeh mendengar omelan Tara yang memprotes tingkah Rara.
“Berani banget nyuruh-nyuruh gue nungguin dia, udah gitu tadi minta gue pegangin tabletnya, alasannya biar mudah jelasinnya,” ungkap Tara mengadu kepada Vano.
“Iya, tapi bener lho. Kan minta tolong. Lo yang sabar ngadepin dia, jangan galak-galak!” Vano memang tidak bosan-bosan mengingatkan Tara mengenai hal ini. Bukan tanpa sebab, ia sangat hafal perangai Tara yang galak dan cenderung tidak mau dibantah.
“Iya, bawel! Udah ah, tuh udah nongol itu bocah. Bye.” Tara mengakhiri sambungan teleponnya dengan Vano ketika melihat Rara dari kejauhan menghampirinya.
“Gue laper lagi, dari pagi belum kena nasi. Lo temenin gue dulu.” Tara yang sudah menyelesaikan pembayaran kopi yang ia minum.
“Mau makan dimana, Pak?” tanya Rara berusaha mensejajari langkah Tara.
“Itu tugas Lo nyariin, gue lapar dan pengen makan nasi ,” kata Tara dengan nada juteknya.
“Mau soto yang di blok M, Pak. Itu enak kok,” jawab Rara mengingat tempat itu.
“Boleh, Lo suka kesana?” tanya Tara penasaran.
“Sering,” jawab singkat Rara.
“Sama pacar?” tanya Tara hati-hati.
“Udah mantan, Pak.” Rara membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Tara masuk terlebih dahulu.
“Oh, yang Lo tangisin semalaman itu?” Tara mengambil kesempatan untuk meledek bawahannya karena menurutnya itu menyenangkan.
“Gak usah dibahas kalau masalah pribadi, jam kerja yang dibahas pekerjaan!” Rara menjawab dengan nada tak kalah galak dengannya.
Tidak ada pembahasan yang penting dari obrolan keduanya di dalam mobil selain pekerjaan. Mulyadi sebagai sopir pribadi yang selalu mengantar Tara kemanapun pria itu pergi hanya geleng-geleng kepala mendengar pria itu selalu mengambil kesempatan mengerjai Rara.
“Saya doain suka beneran sama Mbak Rara, orangnya baik dan sopan,” gumam Mulyadi yang menikmati drama atasan dan bawahan itu.