Bagi Rara, mungkin sulit untuk mengesampingkan air mata dukanya, harapan ingin menikah disaksikan oleh kedua orang tuanya pupus bersama dengan kisahnya bersama Nanda. Di depannya sudah terdapat jalan panjang yang harus ia lalui untuk mengemban tanggung jawab memberikan kehidupan yang layak untuk Chika. Sama halnya dengan Rara, penerus Dirgantara juga mengalami sakitnya terkhianati oleh wanita yang dinikahinya beberapa tahun yang lalu. Namun, ia harus mengesampingkan rasa itu untuk kebahagiaan Celia, putri semata wayangnya yang baru saja masuk sekolah dasar.
“Papa hari ini libur kan?” Celia yang baru saja menyelesaikan sarapannya bertanya kepada Tara.
“Iya, libur, kenapa sayang?” Tara mengalihkan pandangannya dari tablet berlogo apel itu. Dilihatnya Celia yang menunjukkan sisi manjanya.
“Ate Chia liburan sama temen-temennya, Chia bosan dirumah, Pa.” Gadis cilik itu menarik-narik ujung kaosnya untuk mencari perhatian.
“Memangnya Chia mau jalan kemana?” tanya Tara sambil mentoel pipi anaknya.
“Mainan, jawab Celia malu-malu menatap Tara.
“Beli mainan atau nyusul ate Chia?” tawar Tara kepada anaknya. Rasanya, ia juga sudah lama tidak menghabiskan waktu berduaan dengan Celia.
“Hmmm, nyusul!” Celia bersorak gembira ketika Tara mengajaknya ke Bandung.
“Sekarang, bilang sama Mbak Nur, minta siapin baju di tas kamu. Papa siapin mobil, oke.” Tara yang sedang tidak enak hati memilih mengajak anaknya melipir sejenak dari penatnya kehidupan. Tara dan Celia menyusul Chia yang sedang berlibur ke Bandung.
Dan disinilah mereka, di hotel tempat Chia menginap dengan teman-temannya, Tara sedang menemani Celia berenang.
“Sudah sore, sayang. Katanya mau ngemall sama ate,” ucap Tara meminta anaknya berhenti berenang.
“Oke, tapi boleh beli mainan?” Celia yang sudah berada di pinggir kolam mencoba bernegosiasi dengan papanya.
“Boleh, tapi mandi dulu. Pakai baju yang cantik, kita malam mingguan,” ucap Tara membantu anaknya keluar dari kolam.
Yang utama bagi Tara saat ini adalah senyum Celia, bagaimanapun hubungannya dengan Sarah, ia tidak akan melibatkan Celia di dalamnya. Menemani anaknya membeli mainan sekaligus mengawasi Chia ia lakukan bersamaan, ia harapkan dapat menghiburnya sejenak dari permasalahan rumah tangganya bersama Sarah.
“Lo mau beli boneka juga?” Tara bertanya kepada Chia yang sedang menemani keponakannya memilih boneka.
“Tapi mau yang besar itu, Kak.” Chia menunjukkan salah satu boneka teddy bear berukuran besar.
“Asal Lo gak malu, kakak gak mau ya bawain!” Tara terkekeh puas meledek adiknya.
“Iya, dibawa sendiri. Ya kalle Kakak mau bawain,” kata Chia terkekeh. Ia dan tiga orang temannya yang lain juga membeli barang yang sama.
“Kalian ini, sudah mahasiswa, yang dibeli masih sama kayak Celia. Beli itu lipstik, skincare atau apa gitu, biar cerah dikit itu muka,” omel Tara kepada Chia dan teman-temannya.
“Beliin!” Serentak mereka berempat mengambil kesempatan untuk mengerjai Tara. Ia yang terkejut dengan paduan suara Chia dan teman-temannya akhirnya mengikuti keinginan mereka.
“Oke, tapi gak pake ribut-ribut kayak barusan. Malu!” Tara menggandeng tangan Celia yang juga sama terkejutnya dengannya.
“Tante Chia bikin malu, berisik!” kata Celia terkekeh.
“Kamu jangan kayak dia, papa juga malu,” kata Tara kepada anaknya.
Dan di tempat yang sama, Rara dan adiknya juga sedang berbelanja. Hanya saja, Rara sudah keluar dari toko skincare yang akan didatangi oleh Tara dan adiknya. Rara mengajak adiknya makan malam di sebuah resto di mall tersebut.
“Mbak, berasa jadi Paris Hilton gak sih,” ucap Chika kepada kakaknya.
“Belum, kita masih kelas lokal, kalau dia udah Paris beneran mainannya. Kita masih Paris Van Java,” jawab Rara terkekeh.
“Marugame, Mbak. Boleh deh, ada nasi nya juga ternyata,” kata Chka berbinar melihat aneka pilihan menu yang tertera di tempat itu.
“Ada, kalau mau makan nasi juga banyak pilihannya,” ucap Rara kepada adiknya. Setelah mengantri cukup panjang, keduanya duduk di salah satu tempat untuk menikmati makan malamnya.
“Mbak, Mas Nanda masih ada hutang berapa?” tanya Chika hati-hati.
“Ya lumayan, kamu di japri sama dia?” tanya Rara sambil menikmati mie udon favoritnya.
“Iya, dia minta maaf dan basa-basi lainnya. Dan itu, Tante Viona kasih kirim kita uang,” ucap Chika memberitahu kakaknya jika ibu tirinya memberikan sejumlah uang untuk tambahan Chika kuliah.
“Mbak sebenarnya kurang nyaman, tapi dia baik banget, dek. Kapan hari juga kirim Mbak makanan.” Rara mengeluhkan Viona yang terkadang berlebihan untuk dia terima.
“Mau gimana lagi, Mbak. Sepertinya dia memang cinta beneran sama Ayah. Tiap jumat selalu datangi makam.” Chika yang sudah selesai dengan makannya mengusap mulutnya dengan tisu dan meminum ocha dingin.
“Ya udah, kamu gak ada yang mau dibeli lagi?” Rara memasukkan ponselnya di tas mininya.
“Cukup, kalau kepepet kan bisa pakai punya Mbak,” kata Chika terbahak melihat ekspresi Rara yang memanyunkan bibirnya.
“Baiklah, kita balik hotel. Besok pagi-pagi kita jalan ke kawah putih, katanya mau kesana, pulangnya kita lihat matahari terbenam kalau gak macet dan balik Jakarta lagi,” ucap Rara senang.
“Beneran liburan ini, Mbak.” Chika merangkul pundak kakaknya masuk ke dalam kamar, keduanya baru saja sampai di hotel.
Rara melupakan sesuatu, ia lupa mengecek isi bensin mobilnya, setelah membersihkan diri ia berpamitan kepada adiknya untuk ke pom bensin terdekat agar besok pagi tidak terburu-buru.
“Hati-hati, Mbak.” Chika yang sedang merapikan koper mereka berpesan kepada Rara.
Suasana hati Rara kembali mendung, ia sendiri tidak dapat memahami apa sebenarnya yang ia mau. Jauh di dasar hatinya, Rara sadar, Nanda sudah milik orang lain. Tidak ada gunanya menangisi pria yang tidak mau berjuang untuknya. Setelah mengisi bahan bakar mobilnya. Rara melajukan mobilnya ke taman kota, ia memarkirkan mobilnya dan duduk sejenak di sebuah kursi, pandangannya kosong dan menyiratkan kesedihan yang dalam. Tetesan air mata kembali membasahi pipinya, ia teringat saat ibundanya kurang setuju terhadap hubungannya dengan Nanda.
“Maafin Rara, Bu. Kalau saat itu nurut sama ibu, Rara gak akan sakit hati seperti sekarang,” lirihnya memandang langit malam. Suaranya bergetar menahan tangis, Rara tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikannya sejak ia duduk di kursi kayu tersebut.
“Berpikir saja rasanya tidak sanggup, tapi justru kenyataannya aku harus melepasmu karena keadaan,” gumam Rara sambil memukul-mukul dadanya yang sesak.
Karena tidak tega melihat isak tangis Rara yang menyentuh hatinya, Tara yang sedang bersantai menikmati satu batang rokok menghampiri Rara.
“Ada yang bilang, melepas sesuatu yang menyakitkan itu lebih baik daripada menggenggamnya tapi membuatmu terluka lebih dalam lagi,” kata Tara sambil memayungi Rara yang kehujanan. Entah sejak kapan hujan itu turun, Rara benar-benar tidak menyadarinya, ia larut dalam pikiran dan hatinya sendiri.
“Bapak! Ngapain disini? Ngikutin saya?” Rara yang dikejutkan dengan suara Tara bukannya berterima kasih, gadis itu malah menuduhnya yang tidak-tidak.
“Orang bukannya terima kasih udah dipayungi, malah menuduh yang bukan-bukan. Lo gak boleh sakit, besok senin temenin gue meeting. Inget, gue udah kasih modal biar Lo gak malu-maluin!” Tara kembali menunjukkan sisi otoriternya. Namun, ia tak malu memberikan tisu untuk Rara.
“Makasih,” jawab Rara menghapus jejak air matanya malu.
“Lo nginep dimana? Masih kuat bawa mobil gak?” tanya Tara melihat gelagat tidak baik-baik saja dari Rara.
“Banana, gak jauh kok, Pak. Bisa-bisa, saya balik ya, Pak.” Rara yang tidak nyaman berdekatan dengan Tara secepatnya ingin pergi dari tempat itu.
“Oke, jangan melamun. Lo perlu mandi lagi biar gak masuk angin. Ingat, saya gak nerima alasan sakit!” Tara terkekeh kecil setelah Rara masuk ke dalam mobilnya dan berpamitan kepadanya.
“Gue penasaran, lakinya yang mana sih,” gumam Tara yang juga kembali ke mobilnya. Ia cukup penasaran, siapa pria yang tega membuat Rara sehancur itu.