Pura-Pura Kuat

1221 Kata
Walaupun terlihat kuat, terkadang sebagai manusia biasa tetaplah menunjukkan sisi lemahnya. Rara yang malam itu pulang dalam keadaan letih mendapati Chika sedang membuatkan sup jagung kesukaannya. Hujan deras yang mengguyur Jakarta malam ini seakan memahami dinginnya hati wanita berkacamata itu. “Mbak mandi aja dulu, pas banget ini bentar lagi mateng,” kata Chika menyambut kedatangan Rara. “Iya, kamu tahu aja mbak lagi butuh kehangatan,” jawab Rara terkekeh menggoda adiknya. “Mau yang lebih hangat lagi? Ada tuh kompor,” sahut Chika sambil memasukkan taburan cabe rawit untuk menambah rasa pedas pada sup buatannya. “Astaga, dek!” Rara yang sudah menggunakan handuk kimono tertawa mendengar ocehan adiknya. Hanya Chika lah yang dia punya sekarang, setelah duka beruntun yang ia alami, Rara mulai bertanya pada Tuhan. Apa ada yang salah dari dirinya selama ini sehingga Tuhan marah kepadanya, atau memang dia yang boleh marah kepada Tuhan. Guyuran air hangat dari shower ia harapkan mampu sejenak menghangatkan tubuhnya, Rara keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih baik. Menghampiri Chika yang sudah menunggunya di meja makan. “Wanginya beda, Mbak?” Chika penasaran dengan bau sabun mandi yang Rara gunakan. “Dapat dikasih, Pak Gunawan bawain dari Singapore kapan hari. Bau nya pas untuk dipakai malam hari,” ucap Rara sambil mengendus-endus tubuhnya sendiri. “Mbak, makan dulu. Mumpung masih hangat,” kata Chika menyajikan sup yang sudah disiapkan di mangkuknya. “Makasih, dek. Oiya, kamu cek hotel di Bandung. Lumayan kita bisa jalan besok subuh,” ucap Rara sambil menikmati sup buatan adiknya. “Sebentar, Chika ambil tab dulu. Mbak makan aja,” kata Chika bergegas mengambil tab berlogo apple milik Rara. “Cari daerah Setiabudi coba,” titah Rara kepada adiknya. “Oke, Setiabudi,” kata Chika sambil mengulir layar sentuh tablet berwarna silver itu. “Mau belanja atau jalan kemana aja lebih enak dari sana,” ucap Rara setelah menghabiskan suapan terakhir supnya. “Ada ini, Mbak. Mau yang mana?” Chika menunjukkan tabletnya. Beberapa hotel yang terdapat di daerah tersebut membuat Rara bersemangat. “Coba sini, mbak lihat.” Rara mengecek beberapa pilihan yang didapat Chika melalui aplikasi online. “Banana oke, Mbak. Kalau Mercure ya bagus, tapi sayang lah duitnya. Setengahnya bisa buat jajan lho,” kata Chika membayangkan akan diajak Rara ke tempat kuliner di Bandung. “Oke, kita ambil Banana,” kata Rara sambil melakukan transaksi di akunnya itu. “Tadi aku beli kentang di pasar belakang, Mbak. Mau dibuatkan cemilan untuk bekal di jalan?” tawar Chika yang memang pandai membuat kue. “Boleh, kamu gak capek?” tanya Rara kepada adiknya. “Gak, Mbak ada alat bagus, sayang kalau gak dimanfaatkan,” kata Chika sambil menunjukkan microwave miliknya. “Betul, Mbak belum ada waktu pakai. Itu hadiah dari bank, kan mbak ada credit card,” kata Rara menjelaskan kepada adiknya. “Mbak banyak dapat hadiah dari mereka, itu ada dari bank rakyat juga, masih utuh belum dibuka,” kata Chika mengingatkan kakaknya. “Kamu kalau sambil santai bantu buka, gak sempat,” ucap Rara meraih toples cemilan. “Dek, bawa baju seperlunya. Kamu masukin koper sedang itu aja. Jadiin satu aja, biar gak bawa banyak,” kata Rara meminta adiknya membuka koper berukuran kabin untuk ia buka. Rara dan Chika berangkat dari Jakarta pukul empat pagi, sengaja untuk menghindari kemacetan. “Air mineral disini, ini kopi hitamnya,” kata Chika meletakkan di tenpat yang mudah terjangkau olehnya dan Rara. Ia dan adiknya berangkat ke Bandung untuk berlibur sejenak. “Dek, siapin kartu tol. Taruh di situ,” kata Rara meminta adiknya mengeluarkan kartu tol dari dompetnya. Perjalanan panjang menuju Bandung keduanya lewati dengan menyetel lagu-lagu pop favorit mereka. Hingga salah satu lagu membuat suasana hati Rara berubah. Chika yang melihat adanya perubahan mood kakaknya secepat kilat mematikan radio agar kakanya tidak bersedih. “Maaf, Mbak.” Chika meminta Rara meminggirkan mobilnya ke sebuah rest area. Rara berhenti sejenak dan mengatur nafasnya yang tersegal. “Mbak, ini minum dulu,” ucap Chika menyerahkan botol air hangat untuk Rara. Sekuat tenaga ia menahan air matanya , namun pecah juga karena ucapan adiknya membuat Rara semakin tidak berdaya. “Mbak boleh pura-pura kuat di depan orang lain, tapi denganku jangan. Apapun itu sampaikan. Kita hanya berdua, Mbak. Jangan sampai kita saling merasa kehilangan,” ucap Chika dengan suara bergetar. Ia yang semula biasa saja terbawa suasana. Chika berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membiarkan Rara menanggung beban sendirian. “Mbak gak nyangka rasanya seperti ini. Kupikir semuanya akan biasa saja, ternyata tidak semudah bicara, dek.” Rara akhirnya menumpahkan kesedihannya di dalam mobil. Sesak didada karena kehilangan orang-orang yang ia sayangi membuatnya rapuh. “Gusti Allah kasih cobaan seperti ini karena Mbak mampu, kita mampu hidup tanpa Ibu dan Bapak.” Chika memeluk Rara yang masih terisak. Perlahan, ia mulai mengatasi suasana hatinya yang kembali sendu. Rara teringat ucapan Egi yang mengatakan bahwa, jangan biarkan air mata mahalmu jatuh untuk orang yang tidak pantas mendapatkannya. Keduanya saling menghapus jejak air mata di pipi masing-masing. Bunyi ponsel Rara yang sejak tadi terabaikan membuatnya mencari keberadaan benda pipih itu. “Di tas, Mbak.” Chika mengingatkan kakaknya yang memang pelupa. “Huft, coba bukain dek. Itu siapa yang kirim pesan di hari libur,” kata Rara sambil menyalakan kembali mesin mobilnya. “Mbak, crazy boss? Itu siapa? Eh tapi ganteng,” ucap Chika histeris melihat foto profil Tara. Foto Tara ternyata berhasil merubah suasana sendu di dalam mobil tersebut. “Ish, itu anaknya Pak Gunawan. Yang mbak cerita tempo hari.” Rara menjawab rasa penasaran adiknya. “Oh, yang ini orangnya,” ucap Chika manggut-manggut. Ia membacakan pesan singkat dari Tara yang memintanya untuk berfoto memakai baju yang ia beli untuk acara hari Senin. “Jawab aja, Oke. Jangan pakai aneh-aneh,“ kata Rara kepada Chika. “Iya, Mbak.“ Chik mengetikkan jawaban sesuai permintaan Rara. “Kita makan dulu, kamu mau makan apa?” tanya Rara kepada adik nya. Keduanya sudah berada di daerah Setiabudi, tak jauh dari hotel tempat keduanya menginap. Chika menunjuk sebuah kedai yang menjual bubur ayam yang ramai pembeli. Ia penasaran dan meminta Rara meminggirkan mobilnya. “Boleh, kita makan bubur ayam.” Rara dan Chika bersama memasuki kedai tersebut. Suasana pagi yang cerah, Rara harap bisa menutup dukanya sesaat. Setelah check-in di hotel yang sudah mereka pesan semalam, Rara dan Chika bergantian membersihkan diri. “Sabun mahal memang beda ya, Mbak. Ah, tapi aku tetap cinta Biore,” ucap Chika setelah keluar dari kamar mandi. “Bagaimana, mau disimpan aja juga sayang, nanti kadaluarsa. Mending dipakai,” kata Rara sambil mengeringkan rambutnya. “Mbak serius ini kita belanja? Kan kapan hari udah bayar kuliahku,” ucap Chika mengkhawatirkan ekonomi kakaknya. “Aman, buat kuliah kamu gak usah khawatir. Ini yang mbak pake memang jatah buat liburan.“ Rara meyakinkan adiknya bahwa semua sudah ia perhitungkan dengan matang. “Sekarang kita shopping, besok baru ke tempat wisata.“ Rara mengajak adiknya memanjakan diri. “Pasar Baru?“ Chika memandang betapa ramainya tempat itu. Dari arah parkiran mobil, ia sudah bisa membayangkan akan seperti apa di dalam gedung tersebut. “Iya, kayak cempaka mas.“ Rara merangkul adiknya masuk ke tempat itu. Tanpa bermaksud untuk menipu diri, Rara berusaha menetralisir hati untuk ketenangan batinnya. Rasanya tidak adil jika ia harus bersedih hati sedangkan mereka yang menyakitinya berbahagia diatas apa yang ia rasakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN