Bertengkar Lagi

1234 Kata
Tara kembali ke apartemennya setelah makan malam dengan Vano dan Chia. Ia merasa harus memberi pelajaran kepada istrinya agar tidak ikut campur urusan perusahaan. Apalagi sampai berkata yang tidak-tidak mengenai Papanya. “Maaf, Pak, Ibu sudah jalan,” ucap salah satu asisten rumah tangganya memberitahu jika istrinya pergi. “Gak bilang kemana gitu, Mbak?” tanya Tara sambil melepas sepatu kerjanya. “Tidak, hanya pamit mau jalan. Gitu saja,” jawabnya. “Selalu, jam segini mesti kelayapan. Mau jadi apa anaknya kalau dia seperti itu!” Tara melempar sepatunya ke rak karena kesal. Padahal keinginannya cukup sederhana, disambut oleh istri ketika pulang bekerja, namun nyatanya tidak terwujud. Hanya di awal pernikahan saja dan itu tidak berlangsung lama. Tara menghubungi Gunawan dan menanyakan keberadaan Celia, anak semata wayangnya. “Sudah tidur, kalau saran Papa, biarkan disini saja, besok juga libur sekolahnya,” kata Gunawan menahan Tara agar tidak menjemputnya. “Ya udah, Pa. Titip Celia, Tara selesaikan dulu urusan sama Sarah,” tutup Tara mengakhiri sambungan telepon dengan Gunawan. Tara masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Sarah, ia sedang berada di sebuah club malam tempat ia dan teman-temannya bersenang-senang. Ia menikmati wine dengan menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama musik. Sarah mengambil ponselnya yang sejak tadi tidak berhenti bergetar. “Aduh, kenapa lagi sih!” Sarah membuka ponselnya untuk membalas pesan singkat yang masuk dari Tara. “Pulang!” Satu kata bertanda seru yang Tara kirim kepadanya membuat Sarah kalang kabut, jika sudah seperti ini dapat dipastikan jika Tara berada di apartemen dan tidak mendapati dirinya berada di sana. Mau tidak mau, Sarah berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang. “Laki gue, kalau gak balik bisa cuap-cuap ntar. Gue balik dulu, have fun guys.” Sarah meraih tasnya dan bergegas pulang. Ia melajukan kendaraannya lebih cepat untuk menghindari marahnya sang suami. “Bagus, kamu pikir ini kos-kosan! Datang dan pergi seenaknya, gak ingat anak!” Tara yang sudah duduk di sofa ruang tengah mendapati Sarah baru saja masuk dan melepas sepatunya. “Aku cuma main sebentar, kamu udah marahin aku kayak gak pulang berhari-hari.” Sarah melenggang masuk ke dalam kamar karena capek. Tara yang masih kesal, mengikuti istrinya. “Sebentar katamu? Setidaknya tunggu sampai aku pulang, Celia kamu titipin ke Mama, apa kamu gak ada rasa bersalah sedikitpun ninggalin dia? Hah?” Tara mulai meninggikan suaranya. “Jangan berteriak, aku gak tuli!” Sarah kembali membela diri. “Telingamu memang gak tuli, tapi hatimu dah mati, Sarah. Dan, astaga! Baju apa yang kamu pakai itu! Lepas gak!” Tara akhirnya menyadari jika pakaian yang dikenakan Sarah tidaklah pantas. Ia menatap tajam istrinya yang malam itu memakai dress super ketat dan pendek. Hal yang membuat Tara semakin murka kepadanya. “Ya kalau ke rumah Mama gak pakai yang kayak gini, aku mandi dulu!” Sarah hendak meninggalkan Tara, namun pria itu dengan cepat menarik lengannya dan mendudukkan Sarah di tepi ranjang. “Tuhan, sadar Sarah! Kamu ada Celia, kalau kamu memang gak mampu jadi istri yang baik, jadilah ibu yang baik untuk anakku,” ucap Tara frustasi. “Kita udah mau cerai, dan kamu gak berhak atur hidupku.” Sarah mencoba berdiri namun Tara mendudukkannya kembali. “Kamu minum?” tanya Tara dengan nada tegas. Ia mencium aroma minuman keras dari Sarah. “Sedikit, hanya satu gelas.” Sarah seolah sudah tidak peduli lagi dengan Tara, walaupun masih ada cinta namun Sarah lebih memilih dunianya dibandingkan dengan Tara dan anaknya. “Aku gak ngerti dengan jalan pikiranmu, aku capek kalau terus seperti ini, urus surat cerai itu secepatnya dan kamu bisa bebas dengan teman-temanmu,” ucap Tara. Harapan untuk memperbaiki rumah tangganya dengan Sarah sepertinya hanya mimpi. Ia meraih jaket dan kunci mobilnya hendak keluar dari kamarnya. “Mau kemana? Minta aku pulang tapi kamu pergi,” kata Sarah kesal. “Aku gak akan bicara lagi sama kamu kecuali bahas hak asuh Celia. Lebih baik aku yang urus,” kata Tara membanting pintu kamarnya keras. Hatinya kecewa dengan tindakan Sarah yang masih suka minum dan mengabaikan anaknya. “Gak bisa, Celia sama aku. Anak dibawah umur menurut undang-undang harus sama mamanya,” ucap Sarah menyusul Tara keluar dari kamar. “Gak tau malu banget kamu bicara seperti itu, asal kamu tahu, pengadilan juga gak bego mau percaya dengan ibu macam kamu!” Tara mau tidak mau menjawab ucapan Sarah yang memancing emosinya. Aku yang melahirkan dia, sembilan bulan, Tara!” Sarah tidak mau kalah dengan argumen Tara. “Dan aku tidak akan pernah rela anakku diasuh ibu b***t macam kamu!” Tara sudah tidak bisa mengontrol emosinya hingga keluar kata-kata kasar kepada istrinya. Sarah yang mendengar ucapan suaminya tidak dapat menyembunyikan amarahnya, ia menampar Tara cukup keras karena tidak terima. “Bagus, semakin yakin aku akan memperjuangan Celia, nikmati kebebasanmu!” Tara keluar dari apartemennya dengan amarah yang membuncah, ia memegang pipinya yang memerah sambil membuka pintu mobilnya. Tujuannya adalah rumah, tempat yang nyaman untuknya berbagi apapun tentang kerasnya kehidupan, Tara masuk ke dalam rumahnya. Suasana hening dan lampu sudah dimatikan menandakan penghuni rumah itu sudah beristirahat. Ia naik ke lantai atas menuju kamar Celia berada untuk melihat keadaan anaknya. “Ribut lagi?” Gunawan yang baru saja keluar dari kamarnya mendapati Tara akan masuk ke kamar cucunya. “Berat, Pa. Tara nyerah, gak mampu ajak Sarah kembali lagi seperti dulu,” ucap Tara dengan tampilan wajahnya yang kacau. “Lepaskan yang memberatkanmu, sekeras apapun kamu mengikatnya, akan lepas juga.” Gunawan dengan bijak menasehati anaknya. “Bahkan dia sudah mulai kasar, apa itu tidak mengerikan, Pa.” Tara menunjukkan pipinya yang memerah bekas tamparan Sarah tadi. “Urus hak asuh Celia, kalau sudah seperti ini. Papa juga tidak kasih izin dia balik lagi di apartemen dengan Sarah, kamu juga kalau perlu. Besok, suruh anak buahmu angkut semua barang kalian disana,” titah Gunawan kepada Tara. “Baik, Pa. Tara masuk dulu, mau lihat Celia,” ucap Tara berpamitan kepada Gunawan. Ia masuk ke dalam kamar bernuansa pink, warna favorit anaknya. Tara melihat Celia yang tidur dengan nyenyak memeluk guling pisang kesayangannya. “Papa.” Suara Celia yang memanggilnya membuat Tara membalikkan tubuhnya ketika hendak keluar kamar. “Sayangnya papa kok belum tidur? Udah malam, Nak.” Tara mengusap rambut Celia yang berantakan. “Nungguin Papa,” jawab Celia. Tatapan mata gadis cilik itu membuatnya terenyuh. “Mau ditemenin tidur?” tawar Tara kepada anaknya. “Mau, Papa disini,” jawab Celia menggeser tubuhnya. “Sini papa peluk,” ucap Tara sambil mengelus punggung kecil Celia. “Pa, kalau kita tinggal sama Nenek dan Kakek disini boleh tidak ya?” tanya Celia, gadis cilik itu menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Tara. “Boleh, pasti boleh. Memangnya Celia gak kangen Mama?” tanya Tara memancing reaksi anaknya. “Mama suka bentak-bentak, padahal Celia cuma ajak main tapi Mama gak mau,” jawab gadis itu dengan suara bergetar. Tara menyadari jika anaknya menangis. “Sudah, tidak perlu menangis, ada papa, ate Chia juga. Gak boleh sedih lagi,” jawab Tara mengusap punggung anaknya. “Disini aja ya, Pa. Celia takut sama Mama,” ucapnya lagi. “Iya, besok biar papa ambil barangmu di tempat Mama, kita disini sama nenek dan kakek.” Tara menenangkan anaknya namun berusaha untuk tidak menjelek-jelekkan Sarah di depan Celia. Dan, satu keputusan Tara ambil alam ini. Ia tidak akan pernah kembali ke apartemen tempat ia dan Sarah tinggal, tangis dan kecewa Celia sudah cukup baginya untuk tidak menambah duka anak semata wayangnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN