Tara baru saja kembali dari makan siangnya bersama Vano, ia melihat satu mobil warna hitam yang asing baginya.
“Ada tamu? Itu mobil hitam sebelah punya boncel, Van.“ Tara menunjuk ke arah parkiran kepada saudaranya.
“Punya Rara, lagi penyitaan aset dia. Udah siapin segala sesuatu buat nikah eh batal,” kata Vano memberitahu Tara tentang Rara yang kurang beruntung dalam hal percintaan.
“Oiya, batal kenapa?” Tara mulai penasaran.
“Lo kepo pengen tau gakpapa, tapi jangan dipakai bahan untuk ledekin dia,” kata Vano memperingatkan saudaranya.
“Ada apaan sih, Lo serius amat.” Tara membuka ruangannya dan duduk di sofa.
“Kalau Lo di posisi dia juga belum tentu sabar dan tawakal, yang ada Lo ngamuk!” Vano duduk di depan Tara dan menikmati es kopi yang disajikan oleh Egi. Wanita itu keluar dari ruangan Tara setelah memberitahu jika Gunawan sedang meeting dengan Husein.
“Jadi sama si boncel, Mbak? Hhhmm, maksud saya Rara,” kata Tara sempat meralat nama Rara.
“Betul, Pak. Sudah jalan setengah jam yang lalu,” jawab Egi sebelum pamit kembali ke mejanya. Tara kembali ke pembahasannya mengenai Rara.
“Ada apaan memang? Kayaknya si boncel udah dalem sama lakinya?” tanya Tara mencoba menganalisa.
“Bukan dalam lagi, sembilan tahun! Lo bisa bayangin gak kecewanya kayak apa,” kata Vano.
“Setdah, dikit lagi lunas kalau KPR rumah. Lama bener? Jangan-jangan bunting.” Jawaban Tara otomatis mendapatkan protes dari Vano yang mengenal betul wanita itu.
“Mulut Lo yang perlu dibuntingin kayaknya, dia cewek baik-baik. Dan yang gue denger, lakinya nikah sama temennya gitu,” kata Vano sewot.
“Selingkuh dong, gak mungkin ujug-ujug nikah tanpa ada hubungan sebelumnya,” ucap Tara semakin penasaran.
“Tuh, kan. Kalian bukannya kerja malah gosip!” Chia yang sejatinya sudah mengetuk pintu ruangan Tara akhirnya masuk tanpa menunggu kakaknya.
“Masuk tempat orang itu ketuk pintu, izin dulu, bukan ngomel!” Tara memarahi adiknya.
“Kalian aja yang gak dengar, aku di depan sudah lima menit yang lalu, gak ada respon. Kupikir meeting kerjaan apa gitu eh gak taunya ngerumpi,” kata Chia duduk di samping Tara.
“Mau apa? Mau beli apa lagi Lo?” Tara menebak kepentingan Chia jika sudah mencarinya.
“Minta duit, Kak. Mau hangout ke Bandung sama cewek-cewek,” kata Chia dengan nada manja.
“Kebiasaan! Nginep dimana? Siapa saja? Jangan sembarangan ambil penginapan, jajan juga dilihat,” ucap Tara mengingatkan adiknya.
“Berempat kayak biasanya. Teletubbies,” jawab Chia sambil memanyunkan bibirnya.
“Gak usah manyun, Lo ambil di GH. Diantar sopir dan tidak ada yang namanya clubbing!” Tara menyampaikan sederet aturan ketat yang diperuntukkan untuk adik semata wayangnya.
“Oke, tapi kasih tambah.” Chia berusaha bernegosiasi dengan kakaknya.
“Iya, kuliah yang bener. Biar bisa bantu kita disini,” ucap Tara kembali memberikan wejangan untuk adiknya.
“Panjang banget kayak kereta! Dia izin mau hangout doang, Lo pesannya udah kayak dia mau jalan ke casino resort,” ucap Vano memprotes Tara yang menurutnya kelewat cerewet.
“Udah biasa, yang penting duit cair. Gak kaget kok,” jawab Chia cuek.
“Kurang ajar, sana Lo! Sudah transfer, beliin Kartika Sari seperti biasa,” ucap Tara kepada adiknya.
“Oke, bye Kak.” Chia keluar dari ruangan Tara setelah mendapatkan izin dari Tara.
“Gak kebayang yang jadi pacarnya Chia, kudu ngadepin dua emak,” kata Vano terkekeh melihat ekspresi kesal Tara.
“Karena jaga anak perempuan, itu udah kayak berlian. Kecoel dikit, harganya turun drastis. Gimana gak ngeri,” jawab Tara mengungkapkan alasannya.
“Kali ini, gue percaya sama Lo.” Vano menyesap es kopinya hingga tandas.
“Harus, wanita itu sangat dihargai ketika menyerahkan harta berharganya kepada suaminya nanti. Lo tahu, kan. Nasib gue gimana? Hancur!” Tara mengingat rumah tangganya yang berantakan dengan sang istri.
“Ya sorry, kalau buat kasus Lo, bini Lo yang gak bersyukur. Lagian gue aneh, mau nyari yang kaya model gimana sih? Paris Hilton bukan,” ucap Vano kesal.
“Gak salah kalau gue turutin maunya dia, minta gono-gini juga gue jabanin, asal pas sidang semua sudah clear,” kata Tara.
“Sudah deal?” Vano ingin tahu progres perceraian saudaranya.
“Masih nego, Papa sama Mama juga udah uring-uringan. Tapi mau apalagi, dia gak mau berusaha memperbaiki, kan harus dari kedua belah pihak, gak bisa salah satu,” ucap Tara menjelaskan.
“Urusan bunting gimana?” tanya Vano pelan-pelan agar tidak terdengar dari luar.
“Logikanya, bagaimana dia bisa hamil sedangkan gak pernah sama gue udah enam bulan lebih. Dokter mana yang bisa membenarkan!” Tara kembali emosi mengingat pengakuan sang istri.
“Lihat aja kedepannya, itu hamil kan tambah gede perutnya,” ucap Vano menenangkan Tara.
“Iya, jadi boncel sama Papa lagi ketemu Pak Husein? Kalau tak perhatiin, Papa selalu bawa itu bocah kalau ketemu itu Bapak kumis.” Tara membuka ponselnya, melihat beberapa pesan singkat masuk dari pengacara dan putri semata wayangnya.
“Bininya Pak Husein itu kalau gak salah dosen Rara di Malang. Lo ingat gak waktu huru-hara pabrik gagal produksi dan kita kena tuntut?” Vano mengingatkan Tara akan kejadian dua tahun yang lalu.
“Iya, gue ingat. Itu tiba-tiba adem gimana sih ceritanya?” Tara yang saat kejadian berada di luar negeri tidak paham betul apa yang terjadi dengan perusahaan ayahnya.
“Itulah pentingnya menjadi terkenal dimata dosen atau guru. Pak Husein ini sering ketemu Rara, dan mana tahu kalau kedepannya jadi partner bisnis,” ucap Vano mengungkapkan hubungan dekat Rara dan Husein.
“Gitu, kebetulan sekali,” ucap Tara terkekeh.
“Iya, begitu tahu Om Gunawan sama Rara, suasana ruang meeting yang horor berubah jadi tempat reuni. Pak Husein langsung telepon bininya,” kata Vano mengingat kejadian memorable itu.
“Jadi, negosiasi mudah dan kita hanya diminta benerin kerusakan. Itu yang gue tahu,” ucap Tara mengingat hasil meeting mereka saat itu.
“Iya, Rara pinter banget ambil momentum. Dia ambil hatinya Pak Husein, makanya sekarang kasih kerjaan lagi,” kata Vano membanggakan Rara.
“Memang sih, kerjaannya satu tahun itu, gak salah Papa kasih dia apresiasi lebih. Mobil yang dia punya juga hasil dari kasus itu, bisa dibayangkan berapa uang perusahaan yang keluar sia-sia kalau beneran kita ganti rugi.” Tara kembali mengingat saat genting karena kejadian itu.
“Itu kerjaan udah deal aja, Pak Husein udah kirim PO resminya,” kata Vano memberi tahu Tara. Pria itu langsung membuka laptopnya untuk mengecek kebenaran ucapan Vano.
“Keren juga itu boncel, bisa dapat kerjaan dari capcipcup kembang kuncup,” kata Tara terbahak senang.
“Mulut Lo itu hati-hati, Om Gunawan bisa marah. Lagian dari tadi, Lo kepo banget urusan Rara. Kita bahas dia hampir dua jam lho,” ucap Vano menyindiri Tara.
“Lo yang mulai, gue cuma nanggapin,” sergah Tara.
“Ngeles aja. Gue udah cek material, consumable kudu order lagi dan coil itu bagian Rara nego,” kata Vano memberitahu.
“Si boncel udah kasih wejangan tuh di grup manager, gercep juga dia,” kata Tara terkekeh membaca pengumuman yang Rara berikan.
“Memang harus di woro-woro, kalau gak begitu, gak gerak,” jawab Vano ikut terkekeh.
Di saat Tara dan Vano membahas apa yang dilakukan Rara di grup chat manager, yang bersangkutan sedang menemani Gunawan dan Husein menikmati kopi di sebuah kedai.
“Ra, pesan lagi kalau mau, saya gak minta kamu buru-buru,” kata Gunawan kepada Rara.
“Cukup, Pak. Saya masih kenyang,” jawab Rara malu-malu.
“Jadi mulai jalan awal bulan, Ra?” tanya Husein memastikan pekerjaan yang diberikan kepada Dirgantara.
“Betul, Pak, Kami bisa kerjakan di pabrik, dan untuk material, tidak usah khawatir,” jawab Rara meyakinkan Husein.
“Percaya, makanya saya kasih ke kalian. Saya hanya pastikan kapasitas di tempat kalian memadai,” ucap Husein lagi.
“Aman kalau itu Pak Husein, kami sudah kondisikan,” jawab Gunawan dengan senang hati.
“Oke, saya rasa cukup untuk deal pekerjaan di Pandaan, saya harap yang di Bekasi tidak ada kendala,” ucap Husein mengenai progres pekerjaannya.
“Baik, Pak Husein, terima kasih atas kepercayaannya,” kata Gunawan. Ia dan Rara bersalaman dengan Husen secara bergantian sebelum pria berkumis itu meninggalkan kedai kopi.
“Akhirnya, Ra. Dapat juga kerjaan itu, dua pabrik besar,” kata Gunawan bangga.
“Iya, Pak. Akhirnya dapat juga,” jawab Rara ikut lega. Keduanya sudah keluar dari kedai kopi.
“Kita mampir dulu ke toko parfume, saya mau beliin Sanny.” Gunawan baru saja bertukar pesan dengan istrinya. Ketika tahu Gunawan sedang berada di salah satu mall, sang istri meminta dibelikan parfum.
“Boleh, Pak. Setahu Rara langganan Ibu ada di lantai atas,” jawab Rara.
“Oke, kita naik dulu.” Gunawan membelikan Rara juga, ia meminta agar gadis itu tidak malu-malu untuk mengambil parfume yang biasa ia beli di tempat itu.
“Kamu perlu coba yang agak mahalan dikit, bukannya kamu senin temani anak saya meeting.” Gunawan mengambil dua botol parfume untuk Rara.
“Mahal itu, Pak, Saya udah dikasih budget sama Pak Tara, masa dobel dari Bapak juga,” ucap Rara kepada Gunawan.
“Gak masalah, gak ada yang larang juga. Kamu pakai sekali-sekali kalau ada acara khusus kan oke,” kata Gunawan sambil mengeluarkan dompetnya untuk membayar.
“Bapak selalu begini, kak tidak enak.” Rara terlihat tidak enak hati dengan kebaikan Gunawan.
“Sudah, ayo balik ke kantor. Habis ini siapkan meeting dengan produksi,” ucap Gunawan mengajak Rara pulang.
“Baik, Pak, Terima kasih. Sudah saya umumkan di grup chat,” jawab Rara.
Namanya kehidupan selalu ada dua sisi, suka dan tidak suka salah satunya. Di tengah karir Rara yang menanjak, terselip sebuah kecemburuan dari menantu keluarga Gunawan. Wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri Tara itu memprotes kebaikan Gunawan kepada Rara. Ia bahkan mengirimkan pesan singkat kepada Tara mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap perlakukan Gunawan kepada karyawannya.
“Lo urus urusan kita sampai tuntas, dan ngaca! Kalau Papa bisa sebaik itu sama orang lain, artinya ada yang salah dengan sikap Lo selama ini,” jawab Tara telak kepada istrinya.