Hari ini, Nanda terpaksa mengembalikan mobil Yaris hitam milik Rara, teror kata-kata Chika ternyata cukup ampuh untuk membuat Nanda sadar diri dan tidak mempersulit. Namun, ada kejadian yang membuat Nanda pusing bukan kepalang ketika Rara mengirimkan pesan singkat berisi hasil print out buku tabungan miliknya. Sejatinya tabungan tersebut akan mereka gunakan untuk biaya pernikahan, namun sayangnya impian itu hanyalah kenangan yang tidak mungkin terwujud.
“Tolong diselesaikan ini, saya butuh uang untuk biaya Chika kuliah,” kata Rara melalui pesan singkat kepada Nanda pagi itu. Ia duduk balik layar laptopnya sedang sibuk memeriksa setiap transaksi kertas print out tersebut.
“Banyak banget yang Mas Nanda pakai, kalau percil itu tahu, bisa ngamuk,” gumam Rara yang sudah selesai menghitung berapa uangnya dan Nanda yang ada dalam rekening itu. Rara mengirimkan rincian berapa jumlah yang harus Nanda kembalikan kepadanya disertai bukti yang mendukung. Tak lama kemudian, Nanda mengirimkan balasan pesan singkatnya kepada Rara.
“Iya, Ra. Aku tahu, itu aku yang pakai. Tapi jangan sekarang, aku belum ada,” jawaban Nanda memelas.
“Rabu depan aku harus bayar biaya kuliah Chika, aku harap Mas Nanda tidak menundanya.” Rara menjawab dengan tegas.
“Oke, Ra. SIang ini, aku ke tempat kamu, mobil aku kembalikan,” balas Nanda lagi.
“Di cafe sebelah kantor, aku makan disitu,” jawab Rara meletakkan ponselnya. Ia kembali dengan rutinitasnya menyelesaikan beberapa pekerjaan seperti biasanya.
Telepon di mejanya berdering, Rara melihat nomor ekstensi dari ruangan Tara menyala. Ia meraih tabletnya dan bergegas ke ruangan pria yang akan menggantikan Gunawan dalam beberapa waktu kedepan.
“Ra, udah ditungguin. Ini sekalian nitip yah.” kata Vano yang kebetulan berpapasan dengannya di lift.
“Buat Pak Tara?” tanya Rara memastikan.
“Bukan, Pak Gunawan. Dia di dalam ruangan Tara,” jawab Vano kepada Rara.
“Baik, Pak. Saya permisi masuk dulu,” pamit Rara setelah menerima sebendel dokumen dari Vano. Rara masuk ke ruangan Tara dibantu sekretaris Gunawan yang sekarang beralih menjadi sekretaris Tara.
“Duduk, Ra. Saya ada mau bicara sama kamu,” ucap Gunawan memintanya duduk.
“Iya, Pak. Gimana?” tanya Rara sopan kepada Gunawan.
“Begini, peralihan jabatan dan wewenang sudah berjalan antara saya dan Tara, masalahnya ada pada Vano,” ungkap Gunawan.
Pak Vano kenapa, Pak?” tanya Rara penasaran.
“Vano gue pindahin di marketing, di samping karena dia lebih cocok disana, divisi itu perlu dibenerin secara khusus agar image nya kembali baik.” Tara menjawab pertanyaan Rara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
“Lalu atasan saya siapa?” tanya Rara bingung.
“Lo tunjuk satu orang yang menurut Lo mampu gantikan posisi Lo di manager keuangan, Lo naik jabatan, gantiin Vano. Kan dia udah direktur sekarang,” kata Tara cuek.
“Serius, Pak?” Rara terkejut bukan main, apalagi saat bertemu Vano tadi, pria itu tidak mengatakan apapun.
“Serius, minggu depan urus pindah ruangan, koordinasi sama Vano juga, dan kamu setelah makan siang ikut saya ketemu Pak Husein dari Pandaan,” ucap Gunawan terkekeh melihat reaksi terkejut Rara.
“Baik, Pak. Ada lagi?” tanya Rara kembali. Ia melirik Tara yang masih anteng di mejanya.
“Itu dulu, kamu tukar name tag di ruangan Desi, dia sudah buatkan yang baru, dan sore kita meeting sebentar sebelum jam pulang kantor, cuma setengah jam an. kamu bawain data pekerjaan yang masih dalam proses,” kata Gunawan kepada Rara.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Rara kepada Gunawan.
“Oke silahkan,” jawab Gunawan menyunggingkan senyumnya kepada karyawan kebanggaannya itu.
“Tunggu!” Tara mencegah Rara keluar dari ruangannya. Ia berpindah posisi duduk di sebelah Gunawan.
“Iya, Pak. Ada yang bisa dibantu?” tanya Rara sopan.
“Senin temani gue meeting dengan Mr. Poh Heng. Hmmm, pakai baju yang oke dikit dong, jangan malu-maluin gue!” Tara memprotes cara berpakaian Rara yang menurutnya kuno dan konvensional.
“Bisa lebih jelas, Pak? Mohon maaf, ini kan kantor yah, setahu saya pakaian kerja ya formal seperti ini.” Rara membela diri karena merasa tidak ada yang salah dengan cara berpakaiannya.
“Iya, gue kirim ke Lo, cari salah satu yang cocok buat Lo.” Tara kembali memainkan ponselnya setelah mengatakan hal itu. Rara kembali kesal kepada Tara, ia menatap Gunawan untuk meminta penjelasan, namun pria itu hanya mengangguk tanda memintanya mengikuti ucapan Tara.
“Baik, Pak. Saya permisi,” jawab Rara tidak mau berlama-lama berinteraksi dengan Tara.
Ia kembali ke ruangannya setelah menyerahkan titipan Vano kepada Gunawan, duduk kembali menghadap layar laptopnya. Rara kembal menyelesaikan laporan mingguannya sebelum makan siang bersama Egi, asisten pribadi Vano yang akan menjadi asistennya nanti.
Sedangkan Nanda, ia sedang menatap sendu mobil hitam yang sudah satu tahun ini ia bawa kemana-mana. Karena takut aibnya akan disebar oleh Chika, ia memilih mengembalikan mobil itu kepada Rara.
“Ra, makan di sebelah aja ini?” tanya Egi ketika keduanya sudah berada didalam lift karyawan.
“Iya, pengen lalapan yang pedes, kayak mulut atasan kita,” kata Rara memanyunkan bibirnya.
“Baiklah, kita makan lalapan,” jawab Egi terkekeh.
“Sekalian mau selesaikan urusan sama mantan, Mbak. Aku butuh bantuan Mbak Egi neh, kan kenal orang leasing,” kata Rara sambil menganggukkan kepala setelah disapa salah satu cleaning service yang kebetulan berpapasan dengan keduanya.
“Kenapa, Ra?” tanya Egi penasaran.
“Bisa dibalikin ke leasing gak sih itu Yaris?” tanya Rara gelisah.
“Oh, yang dipakai mantan?” Egi memastikan mobil yang Rara maksud.
“Iya, Mbak. Gak mungkin aku nyicil dua mobil sekaligus, untuk apa juga.” Rara mengungkapkan alasannya.
“Bisa, nanti aku kasih kontak orangnya, sekarang pesan dulu makan siangnya, kamu gak lapar apa,” kata Egi sambil menulis pesanannya.
Nanda sudah sampai di cafe tempat Rara dan Egi makan siang, ia menghampiri Rara setelah menemukan wanita itu duduk bersama rekannya.
“Ra, aku gak lama yah, Prita nungguin di tempat makan,” ucap Nanda tanpa basa-basi.
“Oke, makasih.” Rara yang sedang menikmati es kelapa mudanya menerima kunci dan STNK mobil dari mantan pacarnya.
“Kalau gitu, aku balik Ra. Sebagian aku dah transfer, sisanya tunggu yah,” ucap Nanda dengan menahan malu.
“Oke, sisanya sebelum Rabu,” jawab Rara cuek.
“Oke, aku balik.” Nanda meninggalkan Rara dan Egi begitu saja. Tidak ada ucapan terima kasih ataupun maaf yang keluar dari mulut pria itu.
“Gila, gak ada maaf gak ada apa, main kabur!” Egi mengungkapkan kekesalannya.
“Gakpapa, Mbak. Yang penting mobilku balik,” jawab Rara menenangkan Egi yang terlihat emosional.
“Ra, gak salah? Udah dua porsi, lho, kamu makan,” kata Egi terkejut melihat Rara makan sebanyak itu.
“Menghadapi kenyataan itu butuh tenaga, Mbak. Apalagi, kita punya atasan aneh bin ajaib, permintaannya kadang di luar nalar,” ucap Rara menunjukkan pesan singkat dari Tara. Egi tertawa terbahak setelah membaca pesan singkat dari Tara.
“Kan udah dikasih tahu, kamu gak percaya sih,” jawab Egi.
“Ya memang dikasih duit, tapi bukan itu poin pentingnya.” Rara kembali memesan minuman dingin untuknya.
“Kayaknya bukan hanya cuaca aja yang panas, hati kamu juga panas,” sindir Egi yang melihat porsi makan Rara tidak seperti biasanya.
“Iya, heran aku tuh. Bisa-bisanya Tuhan menciptakan makhluk menyebalkan seperti itu orang,” ucap Rara masih betah membahas atasannya.
“Hati-hati, jangan terlalu benci, nanti suka, karena batas antara benci dan cinta itu tipis, Ra.” Egi sekali lagi menggoda Rara.
“Mbak bisa aja, urusan sama mantan belum beres, satu-satu lah,” jawab Rara terkekeh.
Rara dan Egi kembali ke ruangan masing-masing, ia kembali dengan pekerjaannya. Mengecek arus kas dan laporan stok material setiap jam tiga siang.
“Ra, urgent. Gue order seperti biasa yah?” Manager produksi meminta izin kepada Rara untuk mengajukan pembelian material.
“Seperti biasa, Pak. Kalau bisa dokumennya sebelum jam empat sudah jadi, saya nanti ada meeting dengan Pak Gunawan,” jawab Rara sopan.
“Oke, Ra. Tungguin,” jawab pria yang usianya hampir dua kali lipat umur Rara.
Gadis itu teringat kembali ucapan Nanda yang mengatakan sudah mengembalikan sebagian uangnya. Rara membuka ponselnya dan mengulir layar sentuhnya. Sederet aplikasi penting untuk Rara berjejer di layar ponsel mahal itu, ia membuka salah satu akun bank miliknya untuk mengecek kebenaran bukti transfer yang Nanda kirim tadi.
“Terima kasih, sudah diterima. Tolong sisanya sesuai janji Mas Nanda, jangan membuatku seperti tukang tagih.” Rara mengirimkan pesan singkat kepada Nanda.
“Bisa gak, jangan terlalu formal, Ra. Seperti biasanya,” jawab Nanda yang keberatan dengan bahasa Rara yang menurutnya terlalu kaku.
“Tidak!” Jawaban singkat Rara seakan menghantam harga diri Nanda. Ia menghela nafasnya gelisah, seperti tidak mengenal Rara yang selama ini lembut dan penuh kasih.
.