Hari yang cukup melelahkan sudah Rara lewati, ia pulang ke apartemennya segera setelah mendapatkan pesan singkat dari Chika.
“Apa mereka sudah datang sebelumnya?“ Rara bertanya kepada adiknya. Ia baru saja masuk ke dalam unitnya.
“Bilangnya masih dijalan, Mbak. Tapi, aku tidak tahu, begundal itu datang sendiri atau sama wanita itu,“ jawab Chika yang mengkhawatirkan kondisi kakaknya.
“Ya udah, mandi dulu ya,” ucap Rara kepada Chika.
“Iya, Mbak.” Chika menutup pintu apartemennya lalu kembali duduk di depan TV. Ia menunggu Rara selesai mandi sambil berbalas pesan dengan teman-temannya. Tak lama kemudian, bel berbunyi, Chika beranjak dari duduknya dan mengintip terlebih dahulu untuk memastikan siapa tamu yang datang.
“Masuk aja, Mbak Rara masih mandi,” ucap Chika sinis. Tidak ada keramahan dari nada bicara adik kandung Rara itu. Rasa sakit hati yang Rara rasakan membuat Chika tidak terima dengan perlakuan pria yang duduk di depannya. Rara yang sudah selesai mandi langsung keluar dari kamarnya setelah mendengar pembicaraan Chika dengan seorang pria. Suara pria yang pernah mengisi hari-hari wanita berkacamata itu begitu menyesakkan d**a.
“Sudah lama?” tanya Rara basa basi. Ia duduk di samping Chika yang jengah melihat kakaknya masih baik terhadap mantan pacar yang telah mengkhianatinya.
“Baru saja, Ra. Aku mau mengembalikan ini. Maaf, aku baru sempat,” ucap Nanda sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna kuning.
“Periksa dulu, Mbak,” kata Chika kesal melihat raut wajah Nanda yang seperti tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Dek, gak boleh begitu.” Rara mengingatkan adiknya lembut.
“Ra, aku minta maaf. Ini, gak seperti yang kamu pikir. Ayahku mau pilkada, kamu tahu kan maksudku.” Nanda berusaha menjelaskan sebisanya, namun Rara seakan enggan untuk mendengarkan.
“Apapun itu, tidak akan mengembalikan yang sudah terluka. Selesaikan semuanya dan tolong jangan kemari lagi,” ucap Rara dengan suara bergetar.
“Aku dijodohkan, Ra. Ngertiin aku. Setelah pilkada juga aku bakal pisah sama Prita, dan kita bisa mulai lagi dari awal.” Ucapan Nanda mematik emosi Rara yang sejak tadi berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
“Mas Nanda sadar gak bicara seperti itu? Ini pernikahan, lembaga suci yang sudah di sahkan oleh agama dan negara di hadapan Tuhan, semudah itu kamu mempermainkan!” Rara berbicara dengan nada tegas.
“Bukan seperti itu, Ra. Aku sayang sama kamu, tapi keadaan yang tidak memungkinkan,” kata Nanda berusaha meyakinkan Rara.
“Besok aku print buku tabunganku, kalau Mas ngerasa pakai lebih baik kembalikan secepatnya, dan maaf mobilnya, kapan bisa dikembalikan, aku tidak bisa bayar lho,” ucap Rara mengenai mobil yaris hitam yang biasa Nanda pakai.
“Nanti Ra, sabar yah, aku harus bicara pelan-pelan dengan Prita,” jawab Nanda panik. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Prita mengenai mobil yang biasa mereka gunakan kemana-mana adalah milik Rara.
“Kan sekarang dibawa, mending langsung balikin, Mas. Urusan selesai, sama kayak hubungan kalian berdua,” kata Chika yang tidak suka mendengar ucapan Nanda seperti memberi harapan palsu kepada kakaknya.
“Ada banyak barang Prita di dalam mobil, aku bawa pulang dulu, ya. Dalam minggu ini, aku kembalikan.” Nanda berjanji kepada Rara dan Chika.
“Hari sabtu, karena Mbak Rara mau masukin mobilnya ke bengkel, gak ada alasan!” Chika yang lebih tegas dari Rara mengeluarkan ultimatumnya.
“Oke, dek. Sabtu pagi aku antar kesini. Aku pulang dulu, Ra.” Nanda berpamitan kepada mantan pacarnya itu. Rara yang sejak tadi terdiam hanya mengangguk pasrah.
Sepeninggal Nanda berinisiatif membuka kotak berukuran sedang yang diletakkan di meja oleh Rara, ia membuka perlahan dan memeriksa isinya.
“Mbak, jangan terlalu baik. Mereka udah nipu Mbak selama ini, jangan dikasih hati!” Chika membuka salah satu kotak perhiasan yang ada di dalam kotak besar berwarna kuning itu.
“Jual aja gimana dek?” Rara meminta pendapat adiknya.
“Boleh, besok lusa kan libur, Mbak. Katanya mau ajak aku jalan?” Chika menggoda kakaknya yang setiap hari pulang malam.
“Iya, kita jalan ke Bandung kalau mau. Mbak pengen ngadem ke gunung. Kebetulan hari ini dapat bonus dari Pak Gunawan,” kata Rara memberi tahu adiknya.
“Serius, Mbak. Eh, Mbak kan belum makan, mau dimasakin?” tawar Chika.
“Gak usah, Mbak lagi mau ajak kamu makan di luar. Sana ganti baju dulu,” titah Rara kepada adiknya.
“Oke, sebentar.” Chika bergegas membuka lemari, mencari celana jeans panjangnya.
“Mbak ajak ke blok S, banyak makanan enak di sana, ada bakso, es podeng, sate madura, nasgor, macam-macam, dek.” Rara merapikan penampilannya di depan kaca besar d sudut ruangan.
“Mbak, ikan laut gitu, gak ada?” tanya Chika yang memang lebih menyukai ikan daripada daging.
“Ada, kalau mau ikan ke sinar laut, enak dek. Udah neh, ayo.” Rara merangkul adiknya keluar dari apartemennya.
“Mau, Mbak,” jawab Chika berbinar. Rara melajukan kendaraannya menuju kawasan kuliner Blok S di daerah Rawa Barat. Ia mulai mengenalkan beberapa tempat yang sering ia kunjungi.
“Rame banget, Mbak. Ada pengamennya jadi seru, suaranya bagus” ungkap Chika memandang setiap sudut tempat itu.
“Kalau malam minggu lebih ramai lagi,” kata Rara kepada adiknya. Keduanya duduk di tempat favorit Rara yang kebetulan sedang kosong.
“Ra, ini adiknya?” tanya pemilik stand ikan laut itu.
“Iya, Chika, Om. Mau kuliah disini, jadi kalau dia kesini sama cowok, saya titip yah,” kata Rara menjahili adiknya. Chika hanya terkekeh kecil mendengar ucapan kakaknya.
“Siap, kalian sama-sama cantik. Lancar jodoh dan rejeki,” ucap pria tua itu. Ia membuatkan pesanan Rara setelah gadis itu menyebutkan makanan yang ia pesan.
Mulut bisa berdusta, namun hati dan matanya tidak bisa berbohong, perasaannya hancur ketika mendapati pria yang dicintainya tertawa bahagia dengan wanita lain. Semudah itu Nanda melupakan perjuangannya selama sembilan tahun. Jatuh bangun membuat pondasi dasar hubungan yang direstui Tuhan, nyatanya tidak membuat Nanda berpikir ulang untuk menduakan cintanya. Rara hanya berharap, adiknya tidak melihat pmandangan yang akan melukai hatinya, namun naas, sepertinya keberuntungan tidak berpihak lagi padanya.
“Mbak, itu mereka,” kata Chika menunjuk tempat parkir mobil.
“Biar saja, ini tempat umum, dek. Tuh, ikan kamu udah jadi, ayo makan dulu,” kata Rara tidak sabar menikmati makan malamnya.
“Wah, es kelapa muda nya sama batok nya,” ucap Chika senang.
“Kayak di pantai, dek.” Rara berusaha tidak menunjukkan kesedihannya di hadapan adiknya. Perjuangannya masih cukup panjang untuk membantu Chika menyelesaikan pendidikannya.
Mungkin inilah cara Tuhan menunjukkan bahwa yang selama ini menurut Rara baik ternyata tidak dimata Tuhan. Rara berusaha menyelami hatinya sendiri, apakah dengan tidak menerima takdirnya, semuanya akan kembali. Atau justru menenggelamkannya dalam lembah dendam yang tak berkesudahan.
“Jatuh cinta itu ada resikonya, manusia kadang lupa dengan rasa sakitnya karena terlalu fokus membayangkan indahnya. Utamakan karir, masa depanmu dan adikmu, itu jauh lebih penting daripada mikirin orang yang gak ada manfaatnya untuk kamu.” Sebuah pesan singkat yang Rara terima dari Egi sedikit membuatnya lega. Sedikit berbagi beban dengan asisten pribadi atasannya ternyata berefek baik untuk suasana hatinya.