Pagi ini, Rara sibuk dengan pekerjaannya, meeting dengan pemilik Dirgantara membuatnya gerak cepat mengumpulkan data yang diperlukan.
“Mbak Egi, data penjualan sudah fix yah. Saya sudah revisi laporan sesuai data terakhir,” ucap Rara sambil mengecek layar proyektor.
“Sudah, dari divisi marketing data itu yang terupdate,” jawab Egi sambil meletakkan air mineral di setiap kursi.
“Semoga si sombong itu gak bikin gara-gara, aku gak suka, Mbak.” Rara seakan tidak ikhlas jika Gunawan digantikan anaknya, Tara.
“Belum kenal saja, ganteng lho, Ra.” Egi sama hal nya dengan karyawan lainnya, ia mengagumi ketampanan Tara.
“Kalian ini udah ketutup sama wajahnya yang sok kecakepan, kalau bukan karena anaknya Pak Gunawan, ogah aku nurutin dia,” kata Rara sambil mengecek setiap kursi mendapatkan dokumen yang sama.
“Jangan marah-marah, Ra. Kamu sama kayak Pak Tara lho kalau marah,” kata Egi menggodanya.
“Dih, beda dong! Dia mah senggol bacok,” ucap Rara terkekeh.
Tak lama kemudian, Gunawan datang bersama anak dan istrinya, Mereka berempat lah pemilik Dirgantara yang resmi. Vano yang merupakan atasan langsung Rara, merupakan saudara dekat keluarga Dirgantara baru saja menunjukkan batang hidungnya.
“Bisa mulai sekarang, Ra?“ tanya Vano kepada Rara.
“Bisa, Pak. Apa mereka sudah datang?” tanya Rara kepada atasannya.
“Sudah, masih ngobrol di ruangan Om Gunawan. Kamu sudah siap kan?” tanya Vano yang masih mengkhawatirkan kondisi Rara.
“Sudah, Pak. Materi aman dan data juga sudah terupdate,” jawab Rara. Ia mempersilahkan duduk atasannya di meja yang sudah disiapkan. Formasi yang tidak berubah selama Rara bekerja di perusahaan itu.
Meeting internal yang lebih mirip rapat keluarga dimulai, Vano sebagai pemimpin acara tersebut meminta Rara untuk menjelaskan kondisi perusahaan setelah tutup buku tahunan.
“Secara penjualan memang naik, tapi saya ada beberapa koreksi di divisi marketing dan purchasing, ada beberapa poin mengenai perubahan untuk efisiensi biaya,” ucap Rara setelah menjelaskan laporan keuangan Dirgantara.
“Apa saranmu itu cukup signifikan bisa menekan biaya?” tanya Sanny, istri Gunawan yang masih cantik di usia senjanya.
“Kalau kita komitmen dan konsisten bisa mengurangi, Bu. Tiga puluh persen cukup besar untuk penghematan biaya. Dana yang ada bisa dialokasikan untuk pembelian investasi alat atau saving masih oke.” Rara menjelaskan dengan lugas.
“Jadi, rapat dengan dua divisi itu yang membuat rame?” tanya Gunawan kepada Rara.
“Betul, Pak. Memang mereka keberatan dengan saran saya. Tapi untuk kedepannya akan lebih aman dan praktis untuk mereka. Hanya saja, memulai sesuatu yang baru memang agak susah,” jawab Rara kepada Gunawan.
Sementara Rara menjawab beberapa pertanyaan lain dari Gunawan dan Sanny, Egi sebagai notulen rapat mencatat poin-poin penting selama meeting itu berjalan.
“Bisa jelaskan ke saya, penghematan seperti apa yang kamu maksud?” Tara yang sejak awal meeting hanya diam dan memperhatikan mulai bersuara.
“Untuk divisi marketing, ada baiknya untuk akomodasi diserahkan ke divisi finance yang memang sudah terbiasa handle, karena perbedaan harganya cukup signifikan jika di akumulasi per tahun,” jawan Rara kepada Tara.
“Boleh juga, lalu apa manfaatnya kamu kasih voucher bensin untuk karyawan? Apa tidak menambah pekerjaan divisi kamu?” tanya Tara lebih lanjut.
“Hanya repot di awal, Pak. Untuk seterusnya kami tidak akan bekerja dua kali, karena voucher itu hanya bisa digunakan untuk plat kendaraan yang didaftarkan saja,” jawab Rara mendetail.
“Oke, jalankan mulai hari ini. Gimana, Pa?” tanya Tara kepada Gunawan.
“Tentu, Vano kamu buat pengumuman segera,” ucap Gunawan kepada keponakannya.
“Oke, ada lagi yang mau bertanya?” tanya Vano sebelum menutup meeting tersebut.
“Target tahun ini, kamu gak salah hitung kan?” tanya Tara memastikan.
“Tidak, kita ada tiga customer VIP yang sudah kasih kerjaan, mungkin mulai february, makanya kita sibuk cari material yang bagus, standart mereka tinggi,” jawab Vano kepada Tara.
“Baiklah, sudah cukup. Chia, Mama, gak ada lagi?” tanya Tara kepada adik dan mamanya.
“Liburan, Kak. Kapan?” tanya Chia yang sibuk dengan tabletnya.
“DIbahas di rumah bocil, gak disini,” omel Tara kepada adiknya.
“Sudah, ini sebentar lagi makan siang, apa kalian gak lapar? Vano, biar mereka istirahat dulu, kemarin bukannya sudah lembur,” kata Gunawan meminta Rara dan Egi beristirahat lebih awal.
“Betul, Om. Sudah, kalian bisa akan siang agak jauh silahkan kalau mau istirahat,” ucap Vano kepada keduanya.
“Baik, Pak. Terima kasih, kami permisi,” pamit Egi dan Rara kepada mereka.
“Oiya, kamu sudah transfer bonus untuk mereka berdua, Vano?” tanya Gunawan kepada keponakannya.
“Sudah, Om. Harusnya sudah masuk ke rekening masing-masing,” jawab Vano.
“Syukurlah, itu Rara jadi ambil kuliahnya? Makin pinter aja,” kata Gunawan berkomentar.
“Setahu saya, dia batal ambil S2 nya, setelah kedua orang tuanya meninggal, dia ajak adiknya tinggal disini, Om. Mungkin Rara fokus untuk adiknya dulu,” kata Vano menjawab pertanyaan Gunawan.
“Berapa gajinya? Masa kurang untuk biaya hidup dia dan adiknya,” sahut Tara tidak percaya.
“Gajinya dua belas juta memang, tapi dia mikir bayarin hutang ibunya dan biaya adiknya sekolah. Bukan untuk party kayak Lo, nyet!” Vano melempar Tara dengan tisu bekas karena kesal dengan saudaranya.
“Sial. gue cuma nanya, bego!” Tara membalas tak kalah sengit.
“Gue perhatiin juga kayaknya Lo suka sama Rara, masih jomblo tuh,” goda Vano yang menyadari pandangan Tara berbeda kepada Rara. Ia hafal betul gerak-gerik saudaranya jika tertarik pada lawan jenis.
“Pintar sih, gue akui itu, tapi dia boncel dan body nya kayak papan setrikaan, lurus gak ada tikungan tajamnya,” kata Tara tanpa basa-basi mengomentari Rara.
“Tara!” Gunawan mulai mengerem ucapan anaknya yang terkenal tanpa filter.
“Kenyataan kok, Pa. Gak ada lekukan sama sekali, makanya tadi Tara nanya gajinya berapa,” jawab Tara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Tapi anak itu manis dan cantik lho, Nak.” Sanny berkomentar, ia menyukai sejak pertama bertemu gadis itu.
“Ah, aku lapar. Apa pentingnya sih bahas si boncel.” kata Tara memprotes topik pembicaraan mereka.
“Penting lah, karena dia berusaha menyelamatkan perusahaan dari kebocoran dana yang tidak penting,” jawab Sanny kepada anaknya.
“Oke, tapi Mama gak akan biarkan anak gantengnya lapar, kan?” Tara yang duduk di sebelah Sanny merangkul mamanya merajuk.
“Manjanya gak ingat tempat dan umur!” Chia memprotes kakaknya yang tidak lihat tempat jika sudah manja kepada mamanya.
Gunawan dan Vano yang sudah terbiasa melihat drama kakak beradik itu memilih fokus pada ponsel masing-masing. Mereka sedang menunggu pesanan makan siang datang.
“Van, gak ada yang bisa dimintai tolong beli minuman dingin kek gitu?” tanya Tara kepada Vano.
“Pakai ponsel mahalmu untuk pesan online, kebiasaan!” Vano mengomelinya.
“Galak banget sih, nanya doang,” jawab Tara sambil membuka ponselnya.
Makan siang mereka sudah datang, Gunawan dan yang lain menikmati makan siangnya diselingi pembicaraan mengenai rencana family gathering perusahaan.
“Jadi ke Bali?” tanya Gunawan kepada Vano merencanakan liburan keluarga.
“Masih dipikirkan lagi, Om. Itu anaknya tolong dikondisikan, banyak banget maunya, kesal saya jadinya.” Vano mengambil kesempatan untuk mengeluhkan Tara yang memang bawel dan banyak mau.
“Kamu sudah hafal dia seperti apa, abaikan dulu. Kamu atur dulu, dan untuk Rara, apa dia baik-baik saja?” tanya Gunawan yang mengkhawatirkan gadis itu.
“Berat, Om. Kasian, orang tuanya meninggal hampir bersamaan, memang sih sudah pisah, tapi kebetulan meninggalnya barengan, hanya selisih beberapa hari. Dan yang bikin gak teganya lagi, pacarnya nikah sama sahabatnya, yang masih sodaraan itu,” kata Vano menjelaskan kondisi Rara saat ini.
“Pacarannya udah lama memang, anak itu terlihat berusaha tegar, tapi matanya tidak bisa bohong, kayak berat gitu.” Gunawan memang cukup dekat dengan Rara, Gadis itulah yang membantu Gunawan dan Vano saat itu untuk mengembalikan keuangan perusahaan yang hampir tumbang karena kisruh internal keluarga.
“Dibilang lama ya lama banget, sembilan tahun lho, Om. Dan Rara gak tahu kalau pacarnya itu udah main belakang, dia sibuk kerja sementara pacarnya dan saudaranya sibuk bercinta,” kata Vano dengan nada sesalnya.
“Lalu, bagaimana dia sekarang?” tanya Gunawan yang semakin penasaran.
“Secara fisik oke, tapi hatinya kita tidak tahu, Om.” Vano mencoba menjelaskan, namun pengetahuannya mengenai apa yang terjadi dengan Rara masih terbatas.
“Ya sudah, kita doakan saja dia berhasil melewati masa sulitnya,” jawab Gunawan sambil menerima kotak makan pesanannya. Ayam goreng favoritnya sudah siap untuk dinikmati.
“Dimana-mana itu, karyawan gosipin atasannya. Ternyata di kantor ini ada perbedaan, atasan yang gosipin bawahan,” ucap Chia terkekeh mendengar pembicaraan Gunawan dan Vano.
“Berisik!” Tara meminta adiknya diam.
“Bilangnya aja berisik, tapi nyimak, cih!” Chia meledek Tara yang sejak tadi mendengar pembicaraan Vano dan Gunawan. Sementara Sanny, ibu dua anak itu tampak kalem menikmati makan siangnya.