10. Perbedaan

1139 Kata
Sarapan pagi itu terlihat sangat canggung, Daren dan Yasmin saling lirik hingga pandangan bertemu, lalu sama-sama menunduk. Yoon Gi yang merasakan kecanggungan itu mengelus kepala Yasmin. "Mohon dimaklumi, dari kecil Yuri tidak pernah dekat dengan pria. Beberapa waktu lalu aku berusaha menjodohkan Yuri dengan teman satu tim BST. Dia pribadi yang dewasa, namanya Namjoon. Tapi Yuri malah menghindar. Padahal Namjoon sudah suka." Yasmin menoleh, bibirnya cemberut. "Aku kan udah bilang, nggak mau pacaran, apalagi sama cowok yang nggak seiman." "Begitulah Yuri, dia terlalu teguh pada agamanya. Mohon dimaklumi." Yoon Gi meminta maaf. Mendengar itu Mommy tertawa, sementara Daren pura-pura tidak memerhatikan dengan mengaduk bubur ayam di mangkuk. "Kami muslim walaupun jarang shalat. Daren juga sunat, dia tahu cara shalat karena diajari ayahnya." "Mommy, bagian sunatnya tolong jangan diperjelas. Itu tidak penting," protes Daren. "Itu sangat penting, supaya Yasmin tahu kamu pantas menjadi suaminya, iya 'kan Nak Yasmin?" tanya Mommy membuat Yasmin bingung menjawab. "... iya. Sunat memang penting untuk semua laki-laki muslim," jawab Yasmin supaya jawabannya tidak membuat Daren salah paham. "Aku senang karena Yuri di sini, tolong jaga dia untukku." Yoon Gi mengambil tangannya dari kepala Yasmin. Selesai sarapan Yoon Gi pamit pergi, ia mengatakan akan berkunjung kalau keadaan sudah lebih baik. Berkali-kali berpesan supaya Yasmin untuk jaga diri. Mommy memeluk Yoon Gi sebelum melepas pergi, begitu pula dengan Yasmin. Saat Yoon Gi berjabat tangan dengan Daren, ia membisikkan sesuatu. "Jangan melakukan s*x sebelum menikah, bagiku Yuri masih kecil." Mendengar itu Daren langsung terbatuk, melepas jabatan tangan. Yoon Gi menepuk pundak Daren sebelum berbalik dan pergi. Pria berusia 26 tahun itu pergi sembari memakai masker dan topi hitam, melihat ke kanan kiri. Dia terlihat waspada, menolak diantar sampai bawah. "Oppa bilang apa sampai wajahmu memerah?" tanya Yasmin. Daren melihat raut wajah Yasmin yang penasaran. Lalu memalingkan wajah. "Bukan apa-apa." Mulai hari itu Yasmin tinggal bersama Daren, Mommy dan Qais. Di hari-hari tertentu Yasmin diajak ke tempat olah raga, pernah diajak ke arena menembak. Gadis itu terlihat bingung karena Daren dan Mommy sangat pandai menggunakan pistol. Yasmin hanya bisa melihat mereka dari kejauhan bersama Qais, mereka melakukan duel di arena menembak. Sangat seru dan menegangkan. "Sesekali cobalah memegang pistol," kata Daren setelah memenangkan pertandingan melawan Mommy. Meskipun paruh baya, tapi Mommy sangat hebat dan lincah. Beliau kesal karena kalah dengan Daren yang memiliki stamina besar. Yasmin menggeleng, tak terlintas di benak sedikit pun untuk memegang pistol. Itu benda berbahaya. "Aku jaga Qais aja," jawabnya. "Jaga Qais juga butuh keahlian," kata Daren sembari mengusap keringat di keningnya. "Aku ahli menenangkan Qais, mengganti popok dan memandikannya." Yasmin mengangkat Qais, tersenyum pada bayi yang sibuk dengan empengnya. Terlihat sangat keibuan di usianya yang sangat muda. Selama ini Daren hanya melihat para gadis tangguh, hidup di lingkungan keras tak membuatnya berpikir akan ada wanita selembut Yasmin. Hwa Young tak sekalem Yasmin, mudah ngambek kalau keinginan tidak dituruti, juga tidak suka anak kecil. Hwa Young pernah ingin bunuh diri karena dibully sebab berasal dari keluarga miskin. Kedua orang tua Hwa Young jualan ikan di pasar, ia anak satu-satunya dan sangat disayangi. Tapi Hwa Young tidak suka. Dia menyalahkan kedua orang tuanya yang miskin. Kesenjangan sosial di sini sangat berpengaruh, teman-teman Hwa Young tahu dia berasal dari keluarga kelas bawah dan itu menjadi sasaran bullying. "Oppa, aku tidak mau berangkat sekolah lagi." Hwa Young pulang dalam keadaan kotor oleh tepung dan telur, terjadi berulang kali hingga Daren hafal. Daren punya naluri melindungi, ia mengelap pipi Hwa Young. Tahu kenapa Hwa Young seperti itu tanpa bertanya. "Kau sudah kelas tiga, sebentar lagi lulus." "Apa gunanya lulus SMA, aku tidak bisa ke perguruan tinggi. Orang-orang akan terus menghina kehidupan ku yang miskin. Lebih baik aku mati saja." "Aku akan membelikanmu apartemen, orang tuamu bisa pindah ke sana. Kau pandai dance, kau bisa masuk agensi besar dan jadi artis, jangan berpikir bunuh diri lagi oke?" ucap Daren memberikan jalan. "Apa menurutmu aku bisa?" "Aku akan membuatmu bisa," ucap Daren. Memeluk Hwa Young dengan penuh rasa sayang. Dengan menggunakan Siluet sebagai keluarga penguasa, Daren berhasil membuat Hwa Young menjadi trainee. Daren mengubah latar belakang Hwa Young, hutang keluarga Hwa Young dilunasi, tak lagi jualan ikan di pasar, dan sekarang punya toko sendiri. Keluarga Hwa Young mengatakan bahwa Daren adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantu keluarga mereka. "Apa kau tidak dicari orang tuamu? sudah lebih dari dua minggu kau tinggal bersama kami," tanya Daren penasaran saat mereka berjalan pulang. Yasmin menggeleng. "Orang tuaku sibuk karena saudariku sakit." "Aku penasaran, bagaimana bisa kau memiliki kewarganegaraan Indonesia sementara semua anggota keluarga mu Korea?" tanya Daren lagi. Yasmin diam sesaat sebelum menjawab, ia tampak ragu. Membasahi bibir. Menguatkan gendongan Qais. Mereka berjalan ke parkiran. "Sejak kecil saudara kembar ku sakit, jadi waktu aku berumur 8 tahun, orang tuaku mengirimku ke Indonesia supaya diurus kakek dari pihak Mama, mereka khawatir pada pertumbuhanku." "Ah, mereka membuangmu demi saudarimu." Daren langsung bisa menyimpulkan. "Nggak gitu, mereka cuma pingin aku lebih bahagia--" "Kalau kau bahagia, kenapa balik ke sini sampai visa overstay?" tanya Daren langsung ke intinya. Yasmin diam, kembali membasahi bibir. Kepalanya menunduk. Tidak bisa menjawab pertanyaan Daren lagi. Sekarang Daren merasa bersalah karena sudah bertanya, ia tak bermaksud membuat Yasmin sedih. "Aku cuma pingin bareng keluargaku, aku sayang mereka walaupun mereka sudah membuangku." Akhirnya Yasmin jujur setelah berusaha menutupi kesalahan orang tuanya. "Tapi endingnya kamu di sini jadi gelandangan, apa kamu sadar kalau mereka membuatmu menderita?" tanya Daren. Yasmin menggeleng. "Aku nggak menderita, aku punya Allah yang selalu menjagaku, selalu mengirimkan orang-orang baik seperti mu untuk menolongku." Yasmin tersenyum manis, sangat hangat sampai Daren bisa merasakan ketulusannya. Gadis ini punya Tuhan, seberat apapun hidupnya sepertinya tidak akan menyerah, Yasmin selalu berpikir positif bahkan kepada orang-orang yang jahat padanya. Daren mendesah berat, dia kalah dalam pembicaraan ini. Yasmin punya pemikiran sendiri tentang Tuhannya yang memberikan takdir. "Kalian cepatlah!" Mommy berbalik, melambaikan tangan menyuruh mereka jalan lebih cepat. Pukul setengah tujuh malam mereka sampai rumah, Yasmin izin shalat magrib sementara Qais dijaga Daren. Sementara Mommy masak makan malam. Hari minggu yang menyenangkan, sudah lama Yasmin tidak jalan-jalan seperti ini. Dia berterima kasih pada Allah karena mengirim Daren di saat ia kesulitan. "Yas, makan malam sudah siap!" Teriak Daren. Yasmin melipat mukena. "Iya, bentar." Yasmin keluar kamar sembari melihat sekitar, Qais sedang bermain di boxnya, Daren dan Mommy duduk di meja makan. Ia mulai terbiasa dengan kehidupan di rumah ini. "Cepat sini makan," panggil Mommy. "Iya, Mom." Yasmin segera duduk berhadapan dengan Daren, lalu mengambil sumpit. Tiba-tiba ponselnya berdering, pertama kalinya orang tua Yasmin menelepon, semua orang terdiam ketika Yasmin mengangkat panggilan. "Hallo, assalamualaikum, Ma?" "Di mana kau? Cepat ke rumah sakit, Yeri membutuhkanmu!" Ponsel langsung ditutup, membuat orang-orang bingung. Yasmin beranjak. Tidak jadi makan. "Aku harus ke rumah sakit sekarang," kata gadis itu. Daren ikut beranjak. "Biar aku antar, ini sudah malam." Daren penasaran dengan keluarga Yasmin, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang sudah membuang Yasmin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN