Terkadang keluarga orang lain membuat Yasmin iri, andai Mamanya juga bisa seperti itu, ia juga ingin bercanda dengan Mamanya dan tertawa bersama.
Sekarang Yasmin ikut tertawa saat Mommy mengatakan ketampanan Daren tidak berguna, tak ada wanita yang tertarik menjadi kekasihnya.
"Apa kau ingin punya ibu seperti Mommy?" bisik Yoon Gi.
Yasmin balas berbisik. "Aku masih berharap Mama bisa seperti itu."
"Kalau seumpama Mama tidak bisa, kamu tinggal cari Mama lain." Yoon Gi mengatakan dengan enteng, membuat kening Yasmin berkerut tidak mengerti.
Yasmin melihat depan, betapa Mommy seperti ibu impiannya, sangat hangat dan menyayangi Daren.
Tiba-tiba Mommy memberikan daging di mangkuk Yasmin, senyumnya sangat hangat.
"Semoga Yasmin berbalas kasih mau menikahi anak Mommy," kata Mommy mengedipkan sebelah matanya.
"Please Mommy jangan buat aku malu," ucap Daren kesal.
Yasmin bingung merespon, ia hanya tersenyum dan mengambil daging yang diberikan Mommy, sesekali melirik Daren, wajah bule itu tampak memerah karena malu.
Daren berasal dari keluarga cemara yang bahagia, sementara dirinya malah dibuang keluarga. Yasmin pernah berpikir untuk menikahi pria dari keluarga cemara supaya bisa ikut merasakan kebahagiaannya.
Mungkin itu yang dimaksud kakaknya, menikah dengan pria seperti Daren supaya ikut merasakan kasih sayang mommy. Dari dulu Yasmin sangat ingin mendapatkan kasih sayang orang tua, kalau tidak bisa mendapatkan kasih sayang orang tuanya sendiri, mungkin bisa mendapatkannya dari mertua.
Tapi ia tidak mau terlalu cepat menyimpulkan, mereka baru kenal, sifat seseorang bisa berubah, dia harus mengenal lebih dalam lagi tentang Daren dan keluarganya.
Selesai makan malam, mommy mengobrol dengan Yoon Gi, sementara Yasmin mencuci piring dibantu Daren. Pria itu tidak manja meski kelihatannya seperti anak mami.
"Aku bisa sendiri, kamu duduk aja."
"Kamu nggak tahu naruh gelasnya," kata Daren. Dia memperlihatkan peralatan dapur dengan karakter Luffy dari anime one piece. "Yang ini jangan dipakai, cuma aku yang boleh pakai."
Yasmin terlihat kagum dengan koleksi piring dan gelas Daren, tak hanya one piece, ia juga punya karakter Inuyasha.
"Wah, aku juga suka banget Inuyasha."
Tangan Yasmin memegang karakter yang ada di gelas tersebut, kakinya sedikit berjinjit. Bibirnya tersenyum manis. Sejenak Daren terdiam. Merasa semudah itu Yasmin merasa bahagia.
"Kalau kamu bekerja padaku enam bulan ke depan, aku akan memberikan gelas karakter Inuyasha padamu."
Senyum Yasmin mendadak memudar, berdiri tegak kembali.
"Aku cuma bisa kerja sampai agustus," jawab Yasmin.
"Berarti sekitar 5 bulan, nggak masalah."
Yeri akan mengerjakan kuliahnya sendiri selama tiga bulan ke depan, setelah itu libur sampai agustus. Kalau terjadi sesuatu pada Yeri maka Yasmin akan dipanggil untuk menggantikan.
Dia sangat bingung menjelaskan pada Daren keadaan saat ini, harus bolak-balik menggantikan Yeri, juga mengerjakan tugas kuliahnya.
"Cuma bisa part time, nggak bisa full," kata Yasmin lagi.
"Kenapa?"
Yasmin diam, tidak berani bicara yang sesungguhnya. Ia hanya menatap Daren pertanda tidak ingin menjawab.
"Oke, nggak papa. Ada mommy, jadi bisa dibilang kamu hanya membantu. Gimana?"
Daren mendesak, Yasmin membasahi bibir, kemudian mengangguk. Dia tidak banyak pilihan, selain di rumah ini. Ia tak tahu harus ke mana. Tidak ingin menyusahkan kakaknya yang sedang bermasalah.
Malam itu Yasmin akan tidur dengan Mommy, ia membawa Qais bersamanya, tapi Daren menolak. Dia ingin bersama Qais karena lebih aman.
"Kalau nanti Qais nangis gimana?" tanya Yasmin keberatan.
"Aku bisa mengurusnya sendiri, Qais harus tidur denganku."
Yasmin enggan menyerahkan Qais yang susah payah ditidurkan, tapi tangan Daren terulur meminta Qais. Kedua alisnya terangkat, menunggu Yasmin.
Gadis itu mendesah berat, memberikan Qais pada Daren, baru beberapa detik Qais menangis kencang karena tidak nyaman.
"Tuh, kan. Apa aku bilang?" Yasmin mengambil Qais kembali, menimangnya berusaha membuatnya tenang.
"Kalian tidur bertiga aja," ucap Mommy enteng, sembari cekikikan.
"Aku nggak maksa, kalau mau ayok." Daren langsung setuju.
Mata Yasmin langsung melotot, dia menoleh ke kakaknya, tapi Yoon Gi malah memalingkan wajah seolah setuju dengan Mommy.
"Laki-laki sama perempuan nggak boleh sekamar," kata Yasmin sembari mendesah berat.
"Aku nggak bakal nyentuh kamu," kata Daren. Mengangkat kedua tangan.
Yasmin tetap menggeleng, dia punya prinsip tidak boleh melanggar norma agama yang diajarkan gurunya.
"Biarkan aku menidurkan Qais dulu, setelah itu kamu bisa tidur sama Qais."
Daren tak langsung menjawab, tapi mengizinkan dengan tangannya membukakan pintu kamar. Aneh dengan gadis unik ini. Terlihat lembut di luar tapi tegas di dalam.
Semua orang masuk kamar kecuali Daren, ia main game di ponsel sembari menunggu Yasmin. Tapi satu jam berlalu Yasmin tak kunjung keluar.
Dia sudah mengantuk, melihat jam, pukul sebelas malam, seharusnya Yasmin sudah keluar dari tadi karena tidak ada suara Qais menangis.
Daren tidak sabar dan masuk kamar, melihat Yasmin tertidur di ranjangnya bersama Qais, ia ingin marah tapi tidak sanggup, Yasmin terlihat sangat lelah.
Daren berjongkok, melihat wajah manis gadis itu. Hwa Young juga cantik, tapi tak sekuat Yasmin. Sepertinya hidup Yasmin lebih rumit dari Hwa Young.
"Apa yang membuatmu sekuat ini?" tanya Daren.
Status Yasmin sebagai warga negara Indonesia sangat aneh, katanya semua keluarganya berada di sini, tapi bagaimana bisa dia sendiri yang bukan orang Korea?
Dari wajah, kulit dan mata sipit itu terlihat sekali dia identik dengan orang Korea. Daren menyangga kepala, mengamati wajah pulas Yasmin.
"Apa kamu dibuang orang tuamu?" tanya Daren lirih. Menyimpulkan hal yang tidak masuk akal. Mana ada orang tua membuang anaknya sendiri. Apalagi sampai membuang ke negara lain, tak ada keluarga segila itu.
Pada akhirnya Daren menggelar selimut di lantai, tidur di sana. Terbangun karena suara Qais menangis saat subuh.
"Dede Qais jangan nangis, aku buatkan s**u dulu."
Yasmin beranjak dari ranjang, tak sadar sedang berada di kamar Daren. Dia mengucek mata sembari berjalan, tanpa sengaja tersandung kaki Daren.
Bruk!
Yasmin menimpa perut Daren, membuat pria yang tidur lelap itu berteriak.
"Aakk! Sakit bodoh!" Bentak Daren langsung duduk.
"Ma-maaf."
Yasmin buru-buru duduk sampai tak sadar telah memegang pusaka penting, membuat mereka sama-sama berteriak.
"Aa-ku nggak sengaja!" Yasmin mengangkat tangannya.
"Pusaka ku nggak suci lagi! Kau harus tanggung jawab!" Teriak Daren tepat di depan wajah Yasmin, ludahnya ikutan muncrat.
Mata Yasmin terpejam merasakan air menimpa wajah, tidak mau melihat amarah Daren, tangannya bergetar, jijik karena sudah memegang benda aneh. Tangannya sudah ternoda.
Pintu kamar terbuka, Mommy dan Yoon Gi datang. Melihat pertengkaran di pagi buta. Mommy segera mengambil Qais yang menangis. Sementara dua orang itu masih duduk di lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Yoon Gi, tidak bertanya kenapa adiknya satu kamar dengan pria.
Daren diam saja, memijit keningnya. Tidak berani mengatakan hal memalukan.
"Aa-ku nggak tahu Daren tidur di bawah, trus aku kesandung... tanganku nggak sengaja pegang itu."
Yasmin menunjuk barang bukti yang telah ternoda, membuat Daren terkejut, bagaimana bisa gadis ini begitu jujur pada hal yang memalukan?
"Ya ampun, cuma kayak gitu. Nggak papa, anggap saja simulasi." Mommy berkata dengan enteng.
"Mommy!" Teriak Daren. Mommy hanya tertawa.