8. Keluarga Yang Hangat

1235 Kata
Dialah kakak yang sangat disayangi Yasmin, orang yang memiliki masa kecil yang sama dan ikatan darah begitu kuat. Pintu dibuka, pria jangkung dengan topi dan masker hitam itu terlihat sangat khawatir. Membuka maskernya dan melihat Yasmin dari atas sampai bawah. "Kamu nggak papa?" tanya Yoon Gi. Memegang kedua bahu Yasmin. "Aku nggak papa." "Maaf Oppa tidak langsung menjemputmu," kata Yoon Gi memeluk Yasmin erat. Merasa bersalah. "Aku tahu Oppa lagi ada masalah. Aku baik-baik aja kok di sini." "Aku sangat takut kehilanganmu lagi," kata Yoon Gi melepas pelukan. Menatap Yasmin lekat. Hal yang Yoon Gi sesali dari dulu adalah melepaskan Yasmin pergi, sekarang identitas Yasmin sangat berantakan. Ke negara tempat kelahirannya sendiri harus pakai visa. Tidak bisa menetap. "Ini beneran Yoon Gi BST?" tanya Mommy mendekat. Yoon Gi melihat Daren dan Mommy bergantian, kepalanya mengangguk. "Tapi tolong rahasiakan ini," pinta Yoon Gi. "Tentu, mana mungkin Mommy ember? Cepat duduk, Mommy ambilkan minum." "Terima kasih." Daren terlihat tidak suka dengan kedatangan Yoon Gi, melirik Yasmin yang tersenyum cerah. Daren cemberut dan membuang muka. Yasmin sadar hal itu dan buru-buru memperkenalkan Daren. "Kenalkan, ini Daren. Orang yang memperkerjakanku." "Terimakasih sudah menjaga adikku." Yoon Gi tersenyum ramah, seketika Daren tahu kenapa Yasmin lemah lembut, pasti itu genetik. "Aku lihat dia sedang kesulitan dan aku hanya menawarkan pekerjaan," jawab Daren. Tiba-tiba Qais menangis, Yasmin berdiri dan menimang bayi itu. Berusaha menenangkan. "Kayaknya aku harus ganti popoknya Qais, aku ke dalam dulu." "Iya," jawab Yoon Gi. Tinggalah Daren berduaan dengan kakaknya Yasmin, terlihat sangat canggung. "Apa dia putramu?" tanya Yoon Gi. "Secara hukum akan seperti itu," jawab Daren jujur. Dia terlihat gugup. Yoon Gi diam sesaat, berpikir hal yang tidak rasional. Beberapa waktu lalu dia mendengar bahwa orang tuanya akan minta Yasmin menyerahkan salah satu ginjal untuk Yeri. Supaya adiknya yang sakit-sakitan itu tidak perlu cuci darah lagi. Sekuat tenaga Yoon Gi berusaha menahannya, tak apa mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk pengobatan Yeri, asal Yasmin tetap menyerahkan ginjalnya. Namun, keadaan Yeri semakin memburuk, asma, gagal ginjal, dan lemah jantung. Penyakit komplikasi. Yoon Gi sangat menantikan kematian Yeri. Tapi dari dulu tidak mati-mati. "Apa wanita tadi ibumu?" tanya Yoon Gi lagi, dia juga gugup. "Iya, benar. Itu mommy ku." "Kau dari Indonesia?" "Aku mahasiswa kedokteran asal Indonesia. Ini tahun terakhir ku." "Sudah lama di Korea?" tanya Yoon Gi. "Sejak usia 16 tahun, aku lulus SMA sangat cepat dan langsung keterima di SNU." "Berapa usiamu sekarang?" "Dua puluh lima." Yoon Gi menganggukkan kepalanya, membasahi bibir. Terlihat menimbang sesuatu. Yasmin lebih condong ke orang-orang Indonesia dibandingkan Korea. Mungkin karena tinggal lama di sana. Saat Yasmin bertemu warga Indonesia, ia terlihat sangat senang meskipun hanya TKI atau pelancong. Seperti menemukan saudara jauh. "Apa kau punya pacar?" tanya Yoon Gi lagi. "Belum, tapi maaf aku suka perempuan." Jawaban Daren membuat Yoon Gi tersedak ludahnya sendiri. Padahal bukan itu maksudnya. "Aku normal," kata Yoon Gi. Berdehem. Minuman hangat datang, kopi panas buatan Mommy. Ditambah kukis dari Indonesia. Beliau sangat ramah. Selalu tersenyum. "Cepat diminum," kata Mommy duduk di samping Yoon Gi, memandangi wajah tampan itu. Yoon Gi lumayan canggung, mengambil kopi dan menyeruputnya. Pandangan Mommy padanya terasa aneh. Kagum dengan wajahnya. "Kukis ini sangat enak," kata Yoon Gi. Berusaha membuka obrolan. "Ini buatan Mommy, nanti Mommy bungkuskan untukmu." "Terimakasih," ucap Yoon Gi. Matanya melihat sekeliling, apartemen ini luas dengan tiga kamar, ibu yang hangat dan pria yang terlihat bertanggung jawab karena sudah menolong Yasmin. Sepertinya Yasmin aman berada di sini dibandingkan rumah mereka. "Aku harap anda tidak mengambil Yasmin, tolong biarkan dia bekerja mengurus Qais." Daren memohon. "Apa hubunganmu dengan bayi itu?" tanya Daren lagi. "Dia anak sepupuku, sepupuku sudah meninggal dan ibu Qais tidak bisa mengurusnya, jadi untuk sementara aku yang mengurus Qais." "Kau orang yang baik," kata Yoon Gi mengambil secangkir kopi. Tiba-tiba Mommy memegang lengan Yoon Gi. "Bukankah putraku baik, bagaimana kalau putraku menjadi adik iparmu?" Sejurus kemudian Yoon Gi tersedak kopi, merasa wanita di hadapannya ini aneh. "Mommy, please. Jangan seperti itu pada tamu." Daren menggeleng. Yoon Gi mengelap bibirnya dengan punggung tangan, meletakkan secangkir kopi itu kembali ke meja. "Kalau itu tergantung Yuri, asal dia bahagia maka saya akan mengizinkan." Dalam hati Yoon Gi mengharapkannya hal itu, dia ingin Yasmin pergi dari Korea, dia ingin Yasmin berhenti teropsesi dengan kasih sayang keluarganya. Yasmin mau pura-pura menjadi Yeri, mau menuruti semua perintah orang tua mereka yang tidak masuk akal, rela diperlakukan tidak adil. Sekarang orang tua mereka semakin gila menggerogoti tubuh Yasmin. "Tapi saya berharap Yuri segera menikah dan memiliki keluarga sendiri, sejak kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang orang tua, kasih sayang dari saya saja tidak cukup. "Saya tidak bisa melindungi Yuri dengan keadaan saya sekarang, kondisi keluarga kami sangat rumit. Saya berharap Yuri bisa pulang ke Indonesia." Yoon Gi tahu Yasmin kesulitan untuk memperpanjang visa, akan lebih baik kalau orang-orang ini bisa membawa Yasmin pulang. "Tunggu, Yuri itu Yasmin?" tanya Daren bingung. Yoon Gi menganggukkan. "Yuri adalah nama Yasmin sebelum pindah kewarganegaraan 12 tahun lalu." "Ah, begitu rupanya." "Yuri nama yang cantik, Yasmin juga cantik, seperti wajah pemiliknya." Puji mommy. Malam itu Yoon Gi tidak diizinkan Mommy pulang, selain karena di luar banyak wartawan yang mengintai, Mommy ingin lebih lama mengobrol dengan idol Korea. Mommy masak banyak makanan, membuat mereka seperti berada di keluarga besar. Setelah Yasmin menidurkan Qais, mereka makan malam bersama. "Kamu sangat lembut dan sopan, rumor yang beredar sangat kejam." Mommy memulai pembicaraan di meja makan. Yoon Gi dirumorkan memakai narkoba dan menjadi pembully saat SMP. Semua masih proses penyelidikan. "Terimakasih, agensi akan segera menyelesaikan rumor tersebut." Yoon Gi mengambil sayur kangkung dengan sumpitnya. "Andaikan Daren selembut kamu, pasti menyenangkan, tapi putraku ini lebih mirip ayahnya yang suka pamer." "Mommy, aku pamer karena aku hebat, aku tampan, kaya dan pintar. Sangat jarang orang diterima kuliah kedokteran di usia 16 tahun. Aku juga menjadi mahasiswa terbaik di wisuda kemarin. Ditambah aku sudah bisa mengoperasi padahal belum lulus sebagai dokter bedah. Itu prestasi yang tidak terbayangkan oleh orang lain." "Iya, tapi kamu jomblo dari lahir dan tidak ada wanita yang mau sama kamu. Beda sama Yoon Gi, setiap hari pasti dia dikejar-kejar para gadis. Apa gunanya tampan tapi nggak ada yang mau." Wajah Daren langsung berubah kesal, Yoon Gi tertawa mendengarnya. Kehangatan yang tidak pernah ada di dalam keluarganya. Dia tidak pernah makan di meja dengan candaan seperti ini, Yoon Gi melirik Yasmin, wajah adiknya itu tersenyum mendengar perdebatan ibu dan anak. Meja makan yang sangat hangat untuk disebut makan malam keluarga. Yoon Gi ingin adiknya memiliki keluarga hangat seperti ini, bukannya mengemis perhatian pada keluarga mereka yang jelas-jelas tidak punya kasih sayang. Yoon Gi meletakkan telur di mangkuk Yasmin, membuat gadis itu tersenyum. "Terimakasih." Senyum seperti itu yang ingin Yoon Gi wujudkan. Dia tidak akan rela Yasmin menyerahkan ginjalnya untuk Yeri, ia takut setelah ginjal maka orang tua mereka akan minta jantung. Yasmin akan mati dengan keputusasaan, ia tidak ingin hal itu terjadi. "Oppa harap kamu memiliki keluarga yang hangat seperti ini," ucap Yoon Gi, membuat Yasmin menelengkan kepala tak mengerti. Kalau Yasmin punya keluarga lain, maka tidak akan lagi mempedulikan permintaan orang tua mereka. Yasmin pernah berkata tentang agama yang sekarang dianut. "Surga anak perempuan berada pada orang tuanya, tapi kalau sudah menikah maka ada pada suaminya." Yoon Gi ingin Yasmin menemukan surga yang sebenarnya, bukan neraka yang berkedok orang tua. Dia juga sangat membenci Yeri, kalau Yasmin menikah dan pergi dari Korea, maka kuliah Yeri akan berantakan dan gadis itu tidak akan mendapatkan yang diinginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN