"Kau juga bukan tipeku sial!"
Daren makan dengan cepat, sesekali Yasmin mencuri pandang pada Daren, wajah tampannya tertekuk, terlihat kesal. Tak ada pembicaraan lagi setelah Yasmin dengan terang-terangan menolak.
Gadis itu belum memikirkan lawan jenis, dia jujur mengatakan Daren bukan tipenya. Meskipun tampan, tapi Yasmin tak tertarik memiliki hubungan lebih.
Hidupnya sudah sangat rumit, ia tidak boleh membawa seorang pria ke dalam kesulitan ini. Tidak banyak yang bisa memahami perasaannya, bahkan kakaknya sendiri.
Awal memutuskan untuk mengikuti keinginan orang tuanya, Kakak sangat menentang.
"Pulanglah ke Indonesia, Yuri. Di sini kamu tidak punya tempat lagi, Oppa mengatakan ini karena menyayangimu. Oppa akan menjemputmu kalau sudah waktunya."
Yasmin menggeleng, dia tetap ingin pergi di sini, setidaknya sampai kerinduannya pada keluarganya terobati.
"Aku ingin tetap di sini bareng keluargaku, setiap hari aku merindukan kalian, ini kesempatan ku tinggal bersama kalian lagi."
Kakak memegang kedua bahu Yasmin kuat, sorot matanya terlihat sangat sedih. Mereka berdua tahu bahwa Mama dan Papa sangat teropsesi dengan Yeri.
Yang diabaikan bukan hanya Yasmin, tapi juga kakaknya. Saat itu sangat berat. Kakaknya memutuskan masuk asrama dan agensi untuk menjadi idop di usia belasan tahun setelah tidak bisa menghentikan Yasmin dikirim ke Indonesia.
"Aku akan merawat Yuri, tolong jangan usir dia!" Kakak bersimpuh di depan kedua orang tuanya.
"Anak seperti kalian tidak bisa melakukan apapun selain menyusahkan kami." Perkataan Papa tak membuat Yoon Gi gentar. Tangannya mengepal.
Yasmin yang masih berusia 8 tahun menangis kencang, merangkak ikut kakaknya bersimpuh.
"Tolong jangan usir Yuri, Yuri janji jadi anak baik, Pa." Yasmin ikut memohon.
"Kalau kalian hanya menginginkan Yeri, kenapa kalian melahirkanku dan Yuri ke dunia!" Teriak Yoon Gi. Meluapkan emosi.
"Beraninya kau!"
Papa mengambil tongkat baseball, memukul Yoon Gi hingga tersungkur. Saat itu umur Yoon Gi baru 14 tahun, masih SMP. Sering dipukuli karena melawan.
"Jangan pukul Oppa!" Yasmin menangis berusaha melindungi kakaknya yang dipukul.
"Dasar kalian anak tidak tahu diuntung!" Papa masih penuh amarah.
Mama dan Yeri hanya melihat dengan dingin, tak berusaha melakukan apapun. Malah Yasmin melihat senyum Yeri di sudut bibirnya.
"Baiklah, aku akan pergi! Tolong jangan pukul Oppa lagi!" Yasmin berteriak keras.
Pukulan berhenti, saat itu Yasmin cukup mengerti bahkan kalau dia pergi maka semua akan membaik, itu yang diinginkan orang tuanya.
"Sudah sepantasnya anak pembawa sial seperti kau pergi," kata Papa senang.
Yasmin melihat kakaknya yang babak belur.
"Jangan lakukan itu, Yuri." Kakaknya berusaha meraih Yasmin.
Yasmin tahu tidak diinginkan sejak dulu. Hanya saja tidak pernah berpikir untuk pergi.
Baginya keluarga adalah segalanya, dia bisa menahan apapun asal bersama mereka. Kalau pergi, bagaimana dia bisa bertahan? Keluarganya di sini. Yasmin merasa tidak bisa hidup tanpa mereka.
Anak berusia 8 tahun itu dewasa karena keadaan, sudah bisa memasak sejak berusia 6 tahun, itu juga karena keadaan. Kakaknya sakit karena dipukuli, sementara orang tuanya sibuk mengurus Yeri.
Selama ini kakak yang selalu menjaganya, menggantinya dipukul, membelanya dan selalu ada untuknya. Mereka saling memiliki dan menguatkan.
Papa menjatuhkan tongkat baseball, membawa Yeri dan Mama ke lantai atas. Meninggalkan Yoon Gi dan Yasmin menangis di lantai bawah untuk perpisahan.
"Oppa nggak bisa tanpa kamu," kata Yoon Gi. Dia duduk sembari menangis.
"Aku juga," balas Yasmin memeluk kakaknya. Menangis tersedu-sedu.
"Tunggu Yuri, Oppa akan sukses dan membawamu pergi dari sini, kita akan tinggal bersama tanpa mereka yang selalu menyakiti kita."
Yasmin hanya bisa menangis mendengarnya, tidak sanggup berpisah dengan kakaknya. Malam itu mereka tidur bersama untuk terakhir kali.
Bercerita banyak hal tentang masa depan, Yoon Gi akan berusaha untuk menjadi idol, kaya raya dan membuat istana megah untuk adiknya.
"Kamu nanti akan dipanggil Nona Muda," kata Yoon Gi, mereka menatap langit-langit kamar Yoon Gi yang dipenuhi tempelan bintang.
"Lalu kita bisa makan makanan enak setiap hari ya Oppa?"
"Tentu, setiap hari kita bisa makan tiramisu."
"Aku suka tiramisu."
"Nanti kalau Oppa sudah jadi idol, kamu bisa makan tiramisu sepuasnya."
"Aku nggak sabar banget," kata Yasmin lagi.
"Oppa akan mengirim surat untukmu setiap hari, jadi jaga diri baik-baik saat tinggal bersama nenek kakek."
"Iya, aku juga akan ngirim surat ke Oppa setiap hari."
"Kalau sudah sukses, Oppa akan menjemputmu."
"Papa sama Mama pasti jemput aku, mereka cuma lagi marah, nanti kalau udah baikan pasti mereka bakal cari aku."
Saat itu Yasmin bersikukuh bahwa ia adalah anak Papa dan Mama. Tidak mungkin diabaikan begitu saja. Pasti akan dijemput.
"Aku sedih kalau hatimu terlalu lembut seperti ini," kata Yoon Gi, memeluk Yasmin sedih.
Keesokan harinya Yasmin benar-benar pergi, diantar Papa ke rumah kakeknya di Indonesia. Dihapus dari kartu keluarga dan identitasnya sebagai Yuri tidak ada lagi.
Kakek mengganti namanya menjadi Yasmin, bilang bahwa mulai sekarang ia akan hidup lebih bahagia dibanding tinggal bersama orang tuanya.
Benar, Yasmin bahagia tinggal bersama kakek nenek yang menyayanginya. Tapi kerinduan tentang keluarganya kian menumpuk, tidak terobati oleh surat-surat dari kakaknya.
"Cepat bereskan," kata Daren membuyarkan lamunan Yasmin.
Pria itu meninggalkan meja makan, pergi ke kamarnya sendiri, menutup pintunya dengan keras. Yasmin tak peduli. Dia tetap menghabiskan makanan tanpa sisa. Lalu mencuci piring.
Malam harinya seorang wanita datang, pelayan rumah yang dijanjikan, seorang perempuan paruh baya yang terlihat sangat kuat.
"Mommy?"
Daren sangat terkejut hingga menjatuhkan gelas, mulutnya terbuka lebar.
Wanita dengan rambut pirang, sangat cantik, tubuhnya sedikit gemuk, masuk membawa koper. Menatap Yasmin dan tak menghiraukan Daren.
Yasmin mundur, di tangannya masih ada Qais yang berkedip beberapa kali. Pandangan Mommy seperti menelanjanginya dari atas sampai bawah.
"Mommy suka gadis ini," kata Mommy.
Daren berbalik dan menghalangi Mommy dari Yasmin.
"Apa yang Mom lakukan di sini?"
"Memasak untukmu, bersih-bersih rumah dan menjaga kalian."
Tangan mommy mendorong Daren, membuat Yasmin kembali terlihat. Mata Yasmin berkedip beberapa kali, sangat tidak nyaman.
"Apa dia calon ibu angkatnya Qais?" tanya Mommy.
"Bukan! Dia hanya baby sitter Qais." Daren menarik tangan Mommy menjauh dari Yasmin dan Qais.
"Jadikan dia istrimu, Mommy setuju. Regen pasti suka memiliki menantu seperti ini, dia akan langsung mendirikan rumah sakit yang besar untuk kalian."
Yasmin semakin mundur, wanita berambut pirang itu terus berkata hal yang sulit Yasmin mengerti.
"Mommy, please stop!" Daren mencoba mencegah, tapi Mommy terus melangkah mendekati Yasmin dan membuat gadis itu tidak nyaman.
"Nak, kau sangat cantik. Jadilah menantu Mommy."
Lamaran yang sangat mendadak, Yasmin tidak bisa berpikir sama sekali. Ia terus mundur.
"Awas!" Teriak Daren menarik pinggang Yasmin yang hampir mengenai guci.
Napas Daren yang memburu terasa jelas oleh Yasmin, mata mereka bertatapan di antara Qais.
"Kalian sangat serasi, Mommy akan segera membuatkan pesta meriah untuk pernikahan kalian." Mommy bertepuk tangan. Daren segera melepaskan pinggang Yasmin.
Kepala Yasmin menunduk.
"Berhentilah bicara omong kosong Mommy."
Tiba-tiba bel berbunyi, Daren mengembuskan napas berat dan berjalan ke pintu, mengecek siapa yang datang. Wajahnya terkejut dan mundur.
"Siapa yang datang? Apa pembunuh bayaran?" tanya Mommy khawatir.
Daren menggeleng. "Bukan, tapi artis."
Mendengar itu Yasmin berjalan cepat ke depan. "Itu Kakak ku!"