"Kenapa tiba-tiba?" tanya Hwa Young menatap Daren.
Orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka, waktu seakan berhenti, detak jantung Daren terpacu cepat, pria blasteran Indonesia-Jerman itu mematung di tempat.
"Oppa sedang bercanda 'kan?" tanya Hwa Young lagi. Mengerutkan kening.
Daren meneguk ludah, tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, takut hubungan mereka jadi canggung. Momen ini seharusnya sangat romantis.
Dia ingin menikah dengan Hwa Young saat sudah mapan, menjadi dokter bedah terbaik dan punya rumah sakit sendiri. Hwa Young pun pasti ingin meraih karirnya dulu. Dia ingin memiliki hubungan dengan Hwa Young saat sama-sama siap.
Dia juga tidak bisa mengatakan terus terang bahwa butuh bantuan. Takut Hwa Young merasa terbebani dan merasa harus membalas budi. Hwa Young sebentar lagi debut, ia tidak ingin merusak masa depan gadis itu.
Tangannya terulur, kepalanya sedikit menunduk, gadis berusia 22 tahun itu masih terkejut. Melihat Daren yang tersenyum padanya.
"Aku hanya bercanda, kenapa terkejut seperti itu, kau kan sebentar lagi debut, mana mungkin aku mengajak menikah."
Mendengar itu Hwa Young terlihat kesal, ia menunduk mengambil sarapan yang diberikan Daren.
"Oppa sangat menyebalkan!" Hwa Young menghentakkan kakinya. Menepis tangan Daren dari rambutnya.
"Aku ke mari untuk memberimu sarapan." Daren tersenyum manis sembari mundur.
Dia tidak tega mengorbankan Hwa Young, meskipun hanya menikah secara hukum, tapi kalau diketahui media pasti debutnya akan batal. Dia tidak bisa mempertaruhkan masa depan Hwa Young.
Biarlah dia pusing sendiri, ia bisa mencari jalan lain. Asal Hwa Young tetap aman.
"Oppa ke sini hanya untuk ini?" tanya Hwa Young.
"Iya, aku takut kau lupa sarapan."
Daren sangat merindukan Hwa Young, gadis itu masih cantik seperti biasanya. Tidak berubah sedikitpun sejak pertama kali bertemu.
"Tangan Oppa kenapa?"
"Nggak sengaja jatuh."
Hwa Young mendekat, memegang tangan Daren yang sering menolongnya. Wajahnya sangat khawatir.
"Oppa calon dokter, jangan sampai terluka. Lain kali hati-hati."
Hwa Young mengambil tangan itu, meniupnya. Tindakannya begitu menggemaskan di mata Daren.
Andai Hwa Young tahu dunia apa yang Daren miliki, pasti Hwa Young tidak bisa tenang, kapan saja nyawa bisa melayang dan selalu dalam bahaya.
Kalau dia membawa Hwa Young ke dalam rencana melindungi Qais, nyawa Hwa Young akan terancam, ia tidak bisa melakukan hal itu. Baginya Hwa Young sangat penting melebihi nyawanya sendiri.
"Aku harus menurut pada adik kecil ini, 'kan?" tanya Daren berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Sekarang aku bukan anak kecil lagi, sudah bisa pacaran." Bibir Hwa Young cemberut.
Daren kembali mengacak rambut Hwa Young gemas.
"Apa kamu mau pacaran?"
Mata Hwa Young berbinar menatap Daren, mengharapkan sesuatu.
"Jangan pacaran, kamu kan harus fokus debut."
Ucapan Daren membuat Hwa Young kembali kesal, ia menyingkirkan tangan Daren dari kepalanya. Membuang muka ke arah lain.
"Dasar," kata Hwa Young pergi dari sana.
Daren hanya bisa melihat dari kejauhan, gadis dengan sweater pink dan rok mini itu berjalan ke trotoar, menghentakkan kakinya beberapa kali.
Daren mengembuskan napas berat, tak tahu harus berbuat apa, tidak ingin mengorbankan Hwa Young, tapi juga harus segera melindungi identitas Qais.
Dia berjalan pulang setelah membeli beberapa bahan makanan, termasuk popok bayi, pembantunya akan datang sore hari.
Paman Qais, Elgar tidak mengizinkan memakai pembantu dari agensi besar, bukan masalah biaya, tapi demi keamanan. Tidak boleh orang sembarangan tinggal bersama mereka.
Elgar akan memilih sendiri pembantu sekaligus pengawal yang bisa menjaga Qais. Elgar lebih overprotektif dari pada ibunya Qais. Membuat Daren selalu kena omel.
Awalnya Elgar marah karena Daren seenaknya memperkerjakan Yasmin sebagai pengasuh. Tapi setelah Daren cerita bahwa Yasmin menyelamatkan Qais, akhirnya diizinkan.
"Aku pulang," kata Daren sembari membuka pintu apartemen.
Ruang tamu kosong, ia membuka kamar yang tadi untuk shalat. Yasmin dan Qais sedang tidur. Gadis itu pasti kelelahan karena semalaman menjaganya di rumah sakit.
Daren berjongkok, melihat Qais yang terlelap, di belakangnya ada Yasmin yang memejamkan mata. Dia tak tertarik dengan orang asing meskipun secantik Yasmin.
Dilihat lebih jelas, Yasmin sangat mirip wanita yang dia tolong tadi. Kalau rambut Yasmin terurai pasti mereka akan dibilang kembar.
"Kau melakukan pekerjaan dengan benar," kata Daren melihat Qais sudah mandi dan wangi.
Dia sendiri malah belum mandi sejak kemarin, Daren beranjak ke kamarnya sendiri untuk mandi.
Pukul sebelas, ia membuat makan siang. Menanak nasi di magic com. Suara kran air membuat Yasmin bangun dan ke dapur.
"Katanya ada pembantu?" tanya Yasmin. Sembari menutup pintu kamar.
"Nanti sore datang," kata Daren sembari mencuci sayuran dengan satu tangan.
Yasmin segera mengambil alih, membuat Daren menyingkir. Wangi Yasmin membuat Daren membeku sejenak. Gadis ini sangat mandiri dan keibuan. Aromanya juga menenangkan.
Daren melihat wajah Yasmin, begitu meneduhkan, pantas Qais langsung lengket padanya.
"Aku aja yang masak."
Yasmin mengikat hijab segiempatnya, menaikkan lengan dan mulai memasak.
"Kalau di rumah, aku jarang makan masakan Mamaku, soalnya serumah cuma aku yang muslim, aku takut kecampur babi. Kamu muslim atau bukan?"
Daren sampai lupa, ia tidak tahu apapun tentang Yasmin. Belum memeriksa identitas gadis itu. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, yakni langsung percaya pada orang asing.
"Muslim."
"Alhamdulillah."
"Usiamu berapa?" tanya Daren sembari duduk di kursi.
"Dua puluh tahun." Yasmin memotong sawi hijau. Juga menggeprek bawang putih.
"Rumahmu di mana?"
"Rumah orang tuaku atau nenekku?"
"Orang tuamu," jawab Daren cepat.
"Di Seodaemu-gu, dekat kampus."
Kening Daren berkerut mendengarnya, sangat aneh. Bagaimana bisa rumah orang tua Yasmin berada di situ tapi jadi gelandangan di stasiun.
Gelandangan miskin yang terlantar, hidup Yasmin menyedihkan.
"Jangan bicara omong kosong. Anggap ini wawancara kerja."
Daren kesal kalau pertanyaannya dianggap candaan.
"Aku serius, orang tua dan saudariku tinggal di sana. Mereka sangat kaya, punya rumah dua lantai dan tiga mobil. Ayah ku seorang direktur perusahaan elektronik."
Yasmin menoleh ke belakang. Menatap Daren yang masih tidak percaya.
"Kamu pasti berhayal." Daren. Matanya menyipit. Masih tidak percaya.
"Sungguh!"
"Kau harus memperlihatkan identitasmu," kata Daren. "Aku tidak mau memperkejakan penipu."
"Kalau kamu lihat identitasku percuma, karena yang tercatat aku tinggal di Indonesia dan yatim piatu. Lebih mudah kalau kamu nganggep aku imigran gelap."
Yasmin tersenyum lalu kembali memasak, ia cekatan dan serba bisa. Daren tak menanggapi lagi. Hanya diam menunggu makanan siap.
Satu persatu Yasmin menghidangkan sayur, ia juga mengambilkan mangkuk dan sumpit. Menyerahkan di depan Daren.
"Makanlah juga di sini," kata Daren.
Yasmin tampak canggung. "Aku kan baby sitter."
"Dari awal sikapmu udah ngelunjak, nggak usah sok-sokan."
Yasmin cemberut kemudian mengambil mangkuk dan sumpit.
"Lumayan," puji Daren merasakan sayur buatan Yasmin. Ada tiga menu sayur dan dua ikan goreng.
Sesekali Daren melirik Yasmin yang berdoa sebelum makan, gadis ini sangat lembut, baru kenal saja Daren sudah yakin bahwa Yasmin gadis yang baik.
Kalau orang sepertinya merawat Qais, maka tak ada kekhawatiran apapun. Tiba-tiba terbersit di kepalanya untuk memperkejakan Yasmin sebagai istri.
"Apa kau punya pacar?" tanya Daren.
"Pacaran dosa," jawab Yasmin sembari makan sup.
"Kalau suami?"
"Aku nggak punya siapa-siapa, kenapa?"
Daren berdehem, menyiapkan kalimat terbaik menawarkan Yasmin pekerjaan sebagai istri.
"Kau tahu aku kaya, tampan dan pin--"
"Maaf kamu bukan tipeku," potong Yasmin. Dia mengambil ikan goreng.
Seketika itu Daren membeku dan harga dirinya tercabik-cabik. Dia menarik kalimatnya bahwa Yasmin lemah lembut.