5. Ajakan Menikah

1100 Kata
Udara semakin dingin pagi ini, angin berembus menerpa wajah Daren ketika keluar dari lobby. Matahari belum muncul, tertutup awan musim semi, sakura bermekaran sepanjang jalan, berguguran ketika angin meniupnya. Daren duduk di halte bus, pohon sakura di sampingnya bergoyang, menjatuhkan kelopak sakura yang tertiup angin hingga jatuh di tangannya. "Sakura tahun ini sangat indah," gumam Daren sembari mengambil kelopaknya. Daren ingat pertama kali bertemu Hwa Young di musim semi, wanita itu hendak bunuh diri di atap gedung. Menangis kencang dan itu mengganggu Daren yang sedang merokok. "Kenapa dunia tidak adil padaku?!" Teriak Hwa Young. "Kalau mau loncat cepat loncat, nggak usah ganggu orang." Kata Daren keluar dari persembunyian. Kesal menyaksikan Hwa Young yang berisik hingga dia tidak bisa fokus merokok. Hwa Young menoleh, berhenti menangis, mendapati Daren dengan mulut kasarnya. "Aku tidak ada urusan denganmu, orang asing!" Hwa Young bersikap rasis, membuat Daren kesal. Dia membuang rokoknya dan mendekat. Hwa Young memakai seragam SMA, rambutnya dikucir kuda, pipinya sangat kotor, rambutnya juga acak-acakan dengan tepung serta telur. Tanpa bertanya pun Daren tahu kenapa Hwa Young ingin bunuh diri. "Pasti kau di-bully karena menyebalkan," tebak Daren dengan mata memicing. "Itu bukan urusanmu!" Teriak Hwa Young, kembali menangis. Daren tahu pembullyan di sini sangat parah, sering terjadi bunuh diri juga, tapi baru pertama dia melihat secara langsung. "Terserah kau, cepat mati sana dan buat para pembully mu bahagia." Daren mengibaskan tangan. Dia tidak bisa memberikan kalimat motivasi selain itu. "Aku akan mati seperti yang kau bilang!" Hwa Young menghapus air mata dan melangkah menjatuhkan diri. Refleks Daren menangkap tangan Hwa Young, tak tahu kenapa, hatinya sebagai calon dokter meronta. "Lepaskan! Aku ingin mati!" Sekuat tenaga Daren mempertahankan tangan Hwa Young, kakinya menahan supaya tidak ikut jatuh. Ia merutuki diri sendiri, kenapa menolong orang dan membuat diri sendiri repot. Keringat menetes dari pelipisnya, tangannya sakit karena berusaha membawa Hwa Young kembali ke atas. "Jangan bunuh diri di depanku, bodoh!" Pada akhirnya Hwa Young berhasil naik ke atas, jatuh di d**a Daren. Gadis itu masih menangis, air matanya jatuh di d**a pemuda itu. "Kenapa menyelamatkanku? Semua orang ingin aku mati!" Hwa Young terisak. Napas Daren masih terengah-engah, telentang di atas atap, menikmati sinar matahari dan rambut Hwa Young yang terurai. Tangan pria itu turulur, Hwa Young berhenti menangis dan menatap wajah Daren yang tampan. Mungkin berpikir Daren akan menghapus air matanya. "Minggir!" Daren mendorong Hwa Young dengan kasar. Pemuda itu segera berdiri. Membersihkan celananya yang kotor. "Sialan, celanaku jadi kotor. Hey, gadis bodoh, kau harus tanggung jawab." Hwa Young berdiri, menatap Daren hati-hati. Ia masih sesenggukan. "Aku tidak menyuruhmu menyelamatkanku," kata Hwa Young. "Terlanjur, besok temui aku di lantai bawah, kau harus mencuci celanaku ini. Kalau kau berani bunuh diri lagi sebelum mencuci celanaku, akan ku kejar kau sampai neraka! Ngerti?!" Bentak Daren pada Hwa Young. Membuat kaki Hwa Young otomatis mundur. "Ngerti nggak?!" Bentak Daren lagi. Kepala Hwa Young perlahan mengangguk. Daren berbalik dan pergi meninggalkannya. Itulah pertemuan pertama yang Daren ingat dengan jelas, wajah polos Hwa Young dan semangatnya yang kembali. Bus yang ditunggu sudah datang, ia segera masuk dan duduk di kursi paling belakang, jam segini Hwa Young belum bangun, ia akan membelikan sarapan sebelum ke apartemennya. Gadis itu pasti senang melihatnya, sudah lama mereka tidak bertemu karena jadwal yang padat. Tahun ini Hwa Young akan debut setelah 4 tahun menjadi trainee. Bus berhenti di halte dekat apartemen Hwa Young, ia berada di Seoul, lumayan jauh dari apartemennya sendiri yang berada di Itaewon. Daren berjalan mencari chungmu gimbap, sarapan kesukaan Hwa Young. Minggu ini Hwa Young tidak berada di asrama karena ada skandal pada salah satu trainee yang akan debut. "Aku sudah pesan duluan, kenapa kau memberikannya pada orang lain?" Protes Daren ketika penjual chungmu gimbap memberikan pesanannya pada pelanggan lain. "Maaf, itu chungmu gimbap terakhir." "Aku lebih dulu pesan," kata gadis di sampingnya. Memeluk chungmu gimbap. Daren menoleh ke samping, terkejut melihat gadis yang sangat mirip dengan Yasmin. Dia diam sejenak. Mengamati. Gestur tubuh, wajah dan mimik muka. Sangat mirip Yasmin. Hanya bedanya Yasmin berhijab dan gadis itu memiliki rambut panjang yang cantik. 'Mungkin hanya mirip' kata Daren dalam hati. "Hey, kau. Aku yang berdiri sejak tadi di sini, kamu tiba-tiba datang dan menyerobot gimbap ku." Daren merebut chungmu gimbap dari tangan gadis itu, membuat kening gadis itu berkerut tidak terima. "Sudah kubilang aku pesan duluan," ucap gadis itu berusaha mengambil plastik yang dipegang Daren. "Pesan tapi tidak ada di sini sama saja tidak pesan, pokoknya ini punya ku." Daren berbalik dan pergi dari toko itu, si gadis tidak terima dan mengejar Daren. Sesekali Daren melihat ke belakang. Perbuatannya sangat kekanak-kanakan, ia tahu itu. Hanya saja tidak ingin mengalah. "Ada orang pingsan, panggil ambulan!" Teriakan dari belakang membuat langkah kaki Daren berhenti. Dia menoleh dan melihat gadis mirip Yasmin itu tergeletak di trotoar, tiga orang mengerubunginya. Daren berdecak, ingin pergi dari sana tapi tidak tega. Jiwa dokternya menggelora, terlebih tadi ia berdebat dengan gadis itu. Pada akhirnya Daren berbalik, menghampiri si gadis. "Minggir, saya dokter." Ketiga orang yang mengerubungi gadis itu minggir, membiarkan Daren memeriksa si gadis. Daren berjongkok. Ia memeriksa danyut nadi dan pernapasan. "Saluran penyempitan saluran napas. Dia punya asma." Daren segera mengambil tas gadis itu, mencari inhaler. Benar saja ada di sana. "Sial, tanganku sakit." Daren tak memedulikan tangannya yang nyeri, ia mendudukkan gadis yang kesulitan bernapas. Ia membuka mulut gadis itu, menyemprot inheler beberapa kali, lalu melihat kanan kiri. Mencari apotek terdekat. "Ambulan akan segera datang," kata orang di sana. Gadis itu belum juga sadar, Daren berhenti dan membuka kancing baju si gadis. Membuat orang-orang berteriak. "Apa yang kau lakukan?" tanya wanita di sana. Takut Daren berbuat macam-macam. "Kalau masih tidak bernapas, dia akan mati sebelum ambulan datang." Daren membuka mulut gadis itu, ada dahak di sana, ia memasukkan tangannya dan mengambilnya. Lalu kembali mendudukkan, menyorotkan inheler sampai sepuluh kali. Ambulan datang saat kesadaran gadis itu kembali, matanya sayup-sayup melihat Daren memeluknya. Napas Daren terengah-engah ketika gadis itu berhasil masuk ambulan. "Sialan aku jadi telat," kata Daren. Baru merasakan tangannya kembali sakit. Dia segera mengambil chungmu gimbap, membasuh tangannya di pancuran umum. Dia harus segera menemui Hwa Young. Daren berlari menuju apartemen Hwa Young, belum ia masuk malah tak sengaja berpapasan dengan Hwa Young yang baru keluar dari gedung. Gadis manis itu berlari melambaikan tangan dan menghampirinya. "Kenapa pagi-pagi ke sini?" tanya Hwa Young. Daren mengulurkan kantong makanan. "Aku membawakanmu sarapan." Hwa Young menerimanya dengan bibir tersenyum lebar. "Wah, sarapan kesukaanku." "Apa kau ada waktu, aku ingin bicara?" tanya Daren. Wajahnya terlihat gusar, dia terus menarik napas dan mengembuskannya. Sangat gugup sekali. "Tentu." "Menikahlah denganku." Ucapan Daren membuat tangan Hwa Young lemas hingga menjatuhkan chungmu gimbap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN