4. Rasa Bersalah

1101 Kata
Daren tidak tahu kenapa hidupnya serumit ini, ia tidak bisa menjelaskan kejadian yang sesungguhnya pada Ahin, sahabatnya itu tidak boleh tahu tentang asal usul Qais. Terlalu berbahaya dan bisa mengancam nyawa. Daren adalah anak kapten Siluet, dari kecil dididik memiliki rasa pengabdian tinggi pada Siluet, yakni keluarga Mafia yang menguasai wilayah Asia Tenggara. Beberapa waktu lalu, pemimpin Siluet meninggal dunia karena kebodohannya. Dia yang disekolahkan menjadi dokter bedah tidak mampu menyelamatkan nyawa Tuan Besar. Tuan Besarnya, Lazio mati dengan meninggalkan seorang putra bernama Qais, bayi yang sekarang bersamanya. Harus dia lindungi dan jaga meski harus mengorbankan nyawa. "Jawab!" Ahin mendesaknya. Daren harus berbohong, tidak banyak orang yang mengetahui identitasnya sebagai dokter di keluarga mafia. Ahin adalah sahabatnya yang berharga, kalau sampai Ahin tahu dan terluka karena itu. Ia akan merasa sangat bersalah. "Kamu salah paham, bayi itu bukan bayiku, tapi milik ... kakakku." "Kamu anak tunggal," kata Ahin cepat. Pria jangkung itu menyipitkan mata, sadar Daren berbohong. "Kakak sepupu." Daren berbohong lagi. "Oke, lalu kenapa dibawa ke sini?" "Di rumah masih banyak masalah, aku harus melindungi bayi itu." "Masalah apa sampai seorang mahasiswa kedokteran yang sibuk membawa bayi?" Daren diam sejenak, tidak bisa menjelaskan hal yang begitu rumit tentang Siluet dan keadaannya yang genting. Baru turun dari pesawat saja dia sudah dikejar musuh dan masuk rumah sakit. Di markas pasti lebih berbahaya lagi. "Bayi itu diincar musuh sepupu ku, aku harus mengakuinya sebagai anak dan membawanya ke mari. Sepupuku seorang kriminal. Keluarga ku sangat rumit, kau tidak akan bisa paham." "Oke, baiklah. Lalu si cewek?" "Aku nggak sengaja bertemu dia di stasiun, dia turis kehabisan duit dan jadi gelandangan, makanya aku pekerjakan sebagai ngasuh bayi. Kau tahu, aku orang yang murah hati." "Apa Hwa Young tahu soal ini?" tanya Ahin. Han Hwa Young, gadis yang mengisi hati Daren selama 7 tahun ini. Dia adalah gadis manis yang selalu memanggilnya kakak. Daren mencintainya, melakukan apapun untuknya, dari mulai melunasi hutang keluarganya, membelikan apartemen di Seoul yang harganya tidak murah serta membantunya masuk ke agensi besar. Dia adalah trainee, calon idol yang akan debut tahun ini. Hubungan mereka sudah seperti pacaran meskipun tanpa status, Hwa Young pasti tahu dengan jelas lewat sikap Daren selama ini. "Aku akan segera memberitahunya, tolong jangan bertanya lagi, aku sangat lelah." "Kenapa dengan tanganmu?" tanya Ahin tidak memedulikan permintaan Daren. "Aku hanya keserempet." Daren melanjutkan dalam hati 'keserempet pistol'. "Lalu wajahmu?" "Sama saja, keserempet." Daren melanjutkan dalam hati 'keserempet pukulan'. "Kau sudah banyak membantuku, kita sudah seperti saudara, Hyung. Kuharap kau lebih terbuka padaku dan mengandalkanku. Seperti aku yang selalu mengandalkanmu. Di perantauan, sesama warga negara Indonesia harus saling membantu." Pertama bertemu Ahin, anak itu masih kecil. Usianya baru 15 tahun ketika berkuliah di sini. Anak genius dengan nilai sangat tinggi. Hanya saja tidak bisa bersosialisasi. Daren sebagai orang yang lebih tua selalu mengajaknya bicara, menganggapnya adik laki-laki bahkan menawari tinggal di apartemennya. Tapi tahun kemarin Ahin menyewa apartemen sendiri. Usianya juga sudah dewasa. "Aku mengerti, aku ingin istirahat." "Beristirahat." Bagi Daren, Ahin sudah sangat berubah. Tidak sedingin dulu. Sekarang lebih cerewet hingga dia kesulitan menjawab berbagai pertanyaannya. Ahin pergi dari sana, menuju lift. Sementara Daren masuk ke dalam kamar apartemennya. Mencari Qais dan Yasmin. "Yasmin..." Panggil Daren. Berjalan mencari ke beberapa kamar. Hingga tiba di kamar dekat kamar mandi, ia melihat Qais tertidur pulas di ranjang, sementara Yasmin shalat subuh. Gadis itu sangat khusuk. Daren terpaku di tempat. Dia ingat Tuan Besarnya sangat taat beribadah, bahkan di dalam perjalanan pesawat pun tetap shalat. "Kita tidak tahu kapan akan mati, Allah akan selalu bersama kita asal kita tidak meninggalkannya." Daren tidak tahu apa maksudnya, ia hanya mengerti Tuhan tidak bersama Tuannya, kalau perkataan Tuannya benar. Kenapa Tuhan tidak menyelamatkan nyawa Tuan Besar? Kenapa Tuhan membuat Tuan Besar mati dan meninggalkan seorang anak yang masih bayi? Tidakkah Tuhan berpikir sesulit apa kehidupan anak dan istri Tuan Besar setelah ditinggal mati? Nyonya Besar masih berusia 24 tahun, satu tahun lebih muda darinya. Ibarat kata masih terlalu muda untuk diberikan segala beban. Nyonya Besar orang yang sangat shalihin. Kenapa Tuhan tidak kasihan? Daren menunduk, melihat kedua tangannya yang bergetar. Dia menyalahkan Tuhan padahal ia sendiri yang tidak mampu menyelamatkan nyawa Tuannya. Dia bodoh, tidak berguna dan membuat Tuannya mati. Seharusnya Tuannya masih hidup andai tidak mempercayainya. Usia Tuannya baru 31 tahun. Seharusnya dia bisa hidup lebih lama lagi. "Ya Tuhanku, kuasamu adalah yang terbaik, tolong buka pintu hati keluargaku supaya aku bisa berbakti dan memperoleh surga dari mereka." Doa Yasmin membuat Daren tak beranjak, mengigit bibir bawah, kenapa semua orang yang dia kenal taat pada Tuhan? Kenapa mereka percaya Tuhan bisa membantu mereka? Yasmin selesai shalat, melepas mukena dan terkejut melihat Daren berdiri tak jauh dari pintu. "Ma-maf, aku gunain kamar sembarangan." Ini kamar kosong, Daren tak masalah sedikitpun. "Istirahatlah. Aku akan kembali nanti siang, kalau mau sarapan kau bisa buat sendiri di dapur." Daren berbalik dengan dingin, tak peduli tangannya yang digips, ia keluar dari apartemen lagi. Luka di hatinya setelah Tuannya meninggal begitu besar. Ayahnya memukulnya sangat keras saat tahu Tuan besar meninggal, menambah rasa bersalah yang tidak bisa diobati. "Kau disekolahkan Siluet supaya berguna, bukannya membuat Tuan Besar mati? Ayah menyesal percaya padamu! Seharusnya Ayah menjauhkan anak tidak berguna sepertimu dari Siluet." Saat itu Daren hanya bisa diam di antara banyaknya mayat yang berguguran, dia sudah berusaha semaksimal mungkin, belajar lebih keras dibandingkan yang lain. Di usianya ke 16 tahun pergi ke Korea untuk belajar kedokteran. Dialah genius yang dipercaya semua orang, bahkan orang-orang berpikir dialah orang yang pantas menjadi pengganti Tuan Besar memimpin Siluet. Tapi nyatanya dia tidak berguna, tangannya bergetar, tidak yakin bisa memegang pisau bedah lagi. Lebih dari siapapun, ia paling kecewa pada dirinya sendiri. "Selama ada Daren, semua akan baik-baik saja. Dia kartu emas Siluet, dialah dokter yang bisa maju ke garda depan karena penguasai pistol dan bela diri." Begitulah kata Tuan Besar, sangat percaya padanya dengan senyuman lebar. Nyatanya kepercayaan itu yang membuat Tuan besar mati--ditangannya. Daren memukul dadanya sendiri berulang kali, ia kesulitan bernapas setiap mengingat Tuan Besar. Ia bersandar di tembok dekat pintu apartemen, duduk di sana mengurangi rasa sakit. Daren masih berusaha bernapas dengan benar. Rasa bersalah itu menggerogoti tubuhnya. Tiba-tiba Yasmin keluar dari apartemen dengan membawa kantung sampah, diletakkan di lorong tanpa menutup pintu. Langkahnya terhenti ketika melihat Daren. "Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Yasmin sembari mendekat. Daren masih mengatur napas, mengepalkan tangan supaya tidak lagi gemetar. Mendongak menatap kedua mata bening Yasmin. "Bukan urusanmu," kata Daren ketus. Dia segera berdiri dan melangkah menuju lift. Daren harus segera menemui Hwa Young untuk diajak menikah demi menyembunyikan identitas Qais. Dia tidak bisa seperti ini terus. Dia harus melindungi Qais.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN